Minggu, 22 April 2012

RANGKUMAN BUKU METODE KARAKTERISASI TELAAH FIKSI KARYA ALBERTINE MINDEROP


Buku Metode Karakterisasi Telaah Fiksi ditulis oleh Albertine Minderop dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia di Jakarta pada tahun 2005. Buku ini berisi lima buah bab dengan isi 178 halaman. Walaupun jumlah halaman terhitung banyak, hal tersebut disebabkan oleh banyaknya kutipan yang ditulis dan penggalan-penggalan cerita yang dianalisis oleh penulis. Pada bab pertama, yaitu Pendahuluan, dijelaskan bahwa fiksi tidak hanya mengacu pada novel atau cerita pendek saja, namun drama maupun puisi naratif juga merupakan salah satu bagan dari fiksi. Drama diketegorikan lebih dekat pada cerita fiksi bila dibandingkan dengan puisi karena drama bersifat fiktif, baik dalam pengertian faktual sehingga alur pada drama pada umumnya hanya rekaan. Pembaca karya fiksi atau mahasiswa yang bergumul dengan bidang sastra kerap kali dirancukan oleh istilah karakter dan karakterisasi. Karakter berarti peran atau watak sedangkan karakterisasi berarti pemeranan atau pelukisan watak.

Bab kedua, yaitu Metode Karakterisasi dalam Telaah Fiksi, dijelaskan bahwa banyak metode yang dapat digunakan dalam sebuah karakterisasi. Pertama adalah metode langsung (telling), yaitu pemaparan yang dilakukan langsung oleh pengarang dan biasanya digunakan oleh kisah-kisah zaman dahulu sehingga pembaca hanya mengandalkan penjelasan yang dilakukan pengarang semata. Pada metode ini, karakterisasi dapat melalui penggunaan nama tokoh, penampilan tokoh, dan tuturan pengarang. Penggunaan nama tokoh dugunakan untuk memperjelas dan mempertajam perwatakan tokoh serta melukiskan kualitas karakteristik yang membedakannya dengan tokoh lain, contohnya Edward Murdstone dalam David Copperfield karya Charles Dickens; (stone sama dengan batu yang bersifat keras) berarti si tokoh memiliki watak yang keras. Dalam suatu karya sastra, penampilan para tokoh memegang peranan penting sehubungan dengan telaah karakterisasi. Penampilan tokoh yang dimaksud misalnya, pakaian apa ayng dikenakannya atau bagaimana ekspresinya. Pemberian rincian tentang cara berpakaian memberikan gambaran tentang pekerjaan, status sosial, dan bahkan derajat harga dirinya. Karakterisasi melalui tuturan pengarang memberikan tempat yang luas dan bebas kepada pengarang atau narator dalam menentukan kisahannya. Pengarang tidak sekadar menggiring perhatian pembaca terhadap komentarnya tentang watak tokoh, tetapi juga mencoba membentuk presepsi pembaca tentang tokoh yang dikisahkannya.

Metode kedua adalah metode tidak langsung (showing): dialog dan tingkah laku, yaitu metode yang mengabaikan kehadiran pengarang sehingga para tokoh dalam karya sastra dapat menampikan diri secara langsung melalui tingkah laku mereka. Pada metode ini, karakterisasi dapat mencakup enam hal, yaitu karakterisasi melalui dialog; lokasi dan situasi percakapan; jatidiri tokoh yang dituju oleh penutur; kualitas mental para tokoh; nada suara, tekanan, dialek, dan kosa kata; dan karakterisasi melalui tindakan para tokoh. Pembaca harus memperhatikan substansi dari suatu dialog. Apakah dialog tersebut sesuatu yang terlalu penting sehingga dapat mengembangkan peristiwa-peristiwa dalam suatu alur atau sebaliknya. Dalam kehidupan nyata, percakapan yang berlangsung secara pribadi dalam suatu kesempatan di malam hari biasanya lebih serius dan lebih jelas daripada percakapan yang terjadi di tempat umum pada siang hari. Situasi dalam percakapan pun dapat mendukung dan memperjelas watak para tokoh yang dibicarakan. Jati diri tokoh yang dituju oleh penutur, penutur di sini berarti tuturan yang disampaikan tokoh dalam cerita, maksudnya tuturan yang diucapkan tokoh tertentu tentang tokoh lainnya. Kualitas mental para tokoh dapat dikenali melalui alunan dan aliran tuturan ketika para tokoh bercakap-cakap. Nada suara, tekanan, dialek, dan kosa kata dapat membantu dan memperjelas karakter para tokoh apabila pembaca mampu mengamati an mencermatinya secara tekun dan sunggh-sungguh. Selain melalui tuturan, watak tokoh dapat diamati melalui tingkah laku. Tokoh dan tingkah laku bagaikan dua sisi pada uang logam. Tampilan ekspresi wajah pun dapat memperlihatkan watak seorang tokoh. Selain itu, terdapat motivasi yang melatarbelakangi perbuatan dan dapat memperjelas gambaran watak para tokoh. Apabila pembaca mampu menelusuri motivasi ini, maka tidak sulit untuk menentukan watak tokoh.

Pada bab ketiga, Metode Karakterisasi Melalui Gaya Bahasa, dijelaskan bahwa karakterisasi dapat melalui Simile, Metafor, Personifikasi, dan Simbol. Pada umumnya, gaya bahasa adalah semacam bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek. Dengan menggunakan gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi lebih segara dan berkesan. Simile adalah perbandingan lansung antara benda-benda yang tidak selalu mirip, biasanya terdapat kata “seperti” atau “laksana”. Metafor adalah suatu gaya bahasa yang membandingkan satu benda dengan benda lainnya secara langsung. Personifikasi adalah suatu proses penggunaan karakteristik manusia untuk benda-benda non-manusia, termasuk abstraksi atau gagasan. Simbol dalam kesusastraan dapat berupa ungkapan tertulis, gambar, benda, latar, peristiwa, dan perwatakan yang biasanya digunakan untuk memberi kesan dan memperkuat makna dengan mengatur dan mempersatukan arti secara keseluruhan.

Bab keempat berjudul Metode Karakterisasi Melalui Sudut Pandang. Pada bab ini dijelaskan bahwa karakterisasi dapat melalui sudut pandang ketiga, sudut pandang pertama, sudut pandang campuran, dan sudut pandang dramatik. Berbicara tentang narator, berarti kita berbicara tentang sudut pandang, yaitu suatu metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang dari mana cerita disampaikan. Sudut pandang ketiga digunakan dalam pengisahan cerita dengan gaya “dia”. Narator atau pencerita adalah seseorang yang menampilkan tokoh-tokoh  cerita dengan menyebut nama, misalnya John, Mary, dan sebagainya atau penggunaan kata ganti seperti: ia, dia, atau mereka. Sudut pandang pertama, teknik ini menggunakan sudut pandang “aku”, seakan-akan pencerita menceritakan pengalamannya sendiri. Pembaca dibawa ke pusat kejadian dengan melihat, merasakan melalui mata dan kesadaran orang yang bersangkutan.sudut pandang campuran terdapat dalam sebuah novel apabila si pengarang menggunakan lebih dari satu teknik pencerita. Penggunaan sudut pandang dramatik atau objektif dalam sebuah cerita tidak disampaikan oleh pencerita melainkan disampaikan oleh para tokoh melalui dialog. Tidak hadirnya pencerita, maka pengisahan disampaikan melalui penampilan para tokoh suatu karya sastra bentuk drama.

Bab terakhir, Arus Kesadaran, dalam bab terakhir ini dijelaskan bahwa arus kesadaran merupakan suatu teknik karakterisasi yang tampil dari kesadaran atau alam bawah sadar mental dan pola pikir manusia yang mencakup pikiran, persepsi, perasaan, dan asosiasi yang mengalir begitu saja. Ada pula bahasan yang mengatakan bahwa arus kesadaran adalah sebuah cara mendramatisasi pikiran, sebuah cara membuat kita mengena apa ayng dirasakan oleh tokoh. Penggunaan teknik arus kesadaran berhubungan dengan waktu naratif atau waktu yang dialami tokoh dalam cerita.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar