Rabu, 14 Mei 2014

Balada Move On Ke Kerjaan Baru (part 1)

Assalamualaykum!!!

Cha, ceritanya saya mau share pengalaman 'menakjubkan' saya selama minggu ini. Mulai tanggal 5 Mei 2014, saya resmi pindah tempat kerja, ceritanya mau move on. Apa alasan saya pindah kerja? Ya benar! Move on cari duit yang lebih banyak hahahaha! Supaya bisa beli DP MOBIL!

Baik, lanjut pada kerjaan baru saya sekarang. Hmm, tetep mengajar bahasa Korea sih, tapi objeknya beda. Kali ini calon tenaga kerja Indonesia, iya iya! CTKI. Kantor saya dirahasiakan ya, hehehe. Dibandingkan kerjaan sebelumnya di Depok, lokasi tempat kerja sekarang lebih jauh, tapi masih itungan 'kampung sebelah' kata adek saya. Wehehe. Oke, kali ini saya mau cerita perjuangan saya di minggu pertama ^^

Senin...

Hari itu saya bersemangat sekali, bercampur deg-deg-an juga sih karena akan menemui rekan-rekan kerja baru, orang-orang baru. Pagi itu sebenarnya agak kelelahan juga karena dua hari sebelumnya masih kerja freelance 'perpisahan' di Depok. Sulit juga meninggalkan murid-murid di Depok, tapi hidup harus terus berjalan. Aseek. 

Eh, tapi tak benar-benar meninggalkan kelas di Depok sih… karena ujung-ujungnya murid level 3 (yang palig lama diajar, jadi paling dekat) memohon agar saya mengajari mereka sampai akhir, tanggung 2 bab lagi kata mereka dan dengan pengaturan jadwal ulang.

Oke, para pembaca yang terhormat… apakah Anda tahu bahwa terjadi hal yang tak pernah akan saya lupakan seumur hidup di hari Senin ini?! Iya… ada. Rencana saya untuk mengajar kelas baru diubah menjadi mengajar kelas pemantapan soal EPS TOPIK. Bayangkan sodara-sodara! Saya sendiri belum tahu bagaimana rupanya si mahluk bernama 'EPS TOPIK' itu. Kalau TOPIK biasa saya tahu :p

Itu semua terjadi karena tiba-tiba ada salah satu rekan guru yang resign. Jadilah saya ditugaskan untuk menggantikan kelas si guru resign itu: KELAS PEMANTAPAN SOAL. Nah, lho. Awalnya saya sudah menolak karena saya kan baru. Benar-benar BARU HARI ITU MULAI KERJA! Wong saya sudah prepare untuk mengajar murid-murid Basic Level.

Masih Senin. Hmm. Intinya, banyak pelajaran yang saya dapatkan di hari itu… selain bahwa rencana Anda bisa saja tiba-tiba berubah sesuai kebijakan pihak managemen lembaga.  Singkat cerita…

  1. Saya dapat murid-murid yang amat REALISTIS. Mereka saya suruh maju ke depan satu-satu untuk perkenalan diri, tapi mereka menolak dengan alasan "bisa kenal sambil berjalannya waktu, kita gak punya waktu, ujian bentar lagi, waktu belajar tinggal sedikit lagi…" Saya ditusuk dengan kata-kata tadi. Sakit. Padahal biasanya kelas yang saya pegang itu santai tapi serius. Sekarang serius banget. Hmm, oke ikuti saja dulu. Begitu pikir saya.

  1. Musola accident. Apa maksudnya? Iya, jadi kantor kami kekurangan ruang untuk tempat solat. Jadi kami bingung dan memikirkan solusinya, yaitu menggeser meja dan lemari agar ada satu ruang kecil yang muat untuk 1 orang solat. Saya ingat sekali perkataan 'seseorang' itu kepada saya.

Mbak X
: "Di sebelah sini aja, ya? Tapi boleh gak ya sama Pak Bos?"
Saya
: (dengan ke-sotoy-an dan ke-polos-an yang belum berubah) "Bolehlah, masa gak boleh? Terus nanti kita solat di mana?
Mas X
: "Wah itu pernyataan yang salah itu, gak boleh itu."  
Saya
(langsung ambil pisau, bunuh diri)

Mampus banget, kan? Mana gaya ngomongnya menusuk hatiku yang lembut bagaikan agar-agar ini… Di hari pertama, men!!!! Tak mengerti lagi saya~ Atau memang saya yang salah bicara. Ya mungkin saja. Maklum, bos di tempat kerja sebelumnya itu sohib banget karena masih muda. Cuma beda tiga atau empat tahun.

Di tempat kerja baru ini BEDA. Bosnya sudah agak tua. Dan… sepertinya di sini sangat menghargai Pak Bos. Jalan saja sampai nunduk-nunduk begitu. Minggu ini saya belajar beradaptasi dengan lingkungan kerja baru dan sangat kelelahan. Hehe


-Bersambung di part 2-

Selasa, 15 April 2014

Tragedi Tes CPNS 2013

Assalamualaykum? Piye kabare? Kumaha damang?

Kali ini, saya mau share pengalaman pertama dalam hidup saya mengikuti tes CPNS. YIPPIE! Padahal belum berhasil, tapi… ini sangat sesuatu banget! Lebih tepatnya… sebuah tragedi, yang bisa menjadi pengalaman super berharga buat tes kedua tahun ini. Semoga tahun 2014 ini saya dapat rejeki dan lulus jadi PNS! AAMIIN!

Ngomong-ngomong, kenapa sih ngebet banget jadi PNS? Kan masih banyak kerjaan yang ngebikin hujan duit… Alasannya karena mimpi~ Yap! Saya punya cita-cita jadi…

     -     pengajar (Alhamdulillah sudah tercapai)
  • penerjemah (Alhamdulillah sudah tercapai)
  • jadi PNS (tahun 2014, AAMIIN)
  • penulis buku dan skenario sinetron berkualitas
  • punya wirausaha tempat makan
  • main  ke Korea (tahun 2015, AAMIIN)
  • pergi umroh (tahun 2016, AAMIIN)
  • nikah (tahun 2017, AAMIIN)
  • terus honeymoon deh di Pulau Lombok sama jalan-jalan ke Korea sama suami… hohoho
  • dan masih banyak lagi...

Semua juga tahu yang namanya mimpi atau cita-cita harus banyak ya biar hidup terasa lebih hidup karena kita punya target-target untuk dicapai. Naik turun, bangun jatuh, terseok-seok, itulah nikmatnya menjalani proses pencapaian target (cie kayak motivator aje,kekekek). Tapi, bener deh. Cara bikin hidup yang tak monoton ya itu… buat target-target, lalu berusahalah sampai tercapai ^^

Tes CPNS 2013 lalu, sejujurnya saya ada di dalam keadaan dalam masa penyembuhan dari demam berdarah. Tapi waktu itu sok-sok-an udah sehat. Ya kalo tak dipaksa tak akan sehat kan? Masa selimutan di kasur terus. Waktu itu, formasi cuma ada satu di satu departemen. Hahaha. Pasti langsung pada pesimis. Awalnya saya juga, tapi harus dicoba. Lawannya belum banyak ini…

Waktu itu, ada 3 bagian perjuangan:
  1. Sesi pemberkasan.
Alhamdulillah saya lulus walaupun pake acara berantem dulu sama babeh terkait surat lamaran yang ditulis tangan dan harus memandang tatapan agak sinis dan menertawakan ketua RT beserta istri karena saya bilang formasi cuma ada satu.
  1. Sesi TKD.
Alhamdulillah lulus juga dengan perjuangan belajar layaknya anak SMA mau masuk SNMPTN. Tesnya di Stadion Lebak Bulus, saya ngojek sama adek saya. Gile, sumpah, bagian belakang saya panas kelamaan di motor, terus dikatain lebay saya sama si adek. Ngok! Pas TKD, dresscode saya beda sendiri, yang saya lihat, semuanya pada pake baju rapi kayak mau wawancara kerja, kalo saya emang sudah diniatkan mau pake baju paling nyaman biar mikirnya lancaaar dan tak lupa bawa air minum. Maka dari itulah, saya pakai kaos Micky Mouse kesukaan saya dan kerudung langsung merah Rabbani yang sudah dibeli sekitar empat tahun yang lalu, hahaha. Namanya juga baju kesayangan…
  1. Sesi TKB.
INI DIA TRAGEDINYA! SAUDARA-SAUDARA! Belum tepat tujuh hari setelah pengumuman kelulusan TKD, ternyata TKB sudah diselenggarakan! Saya jadi ketinggalan informasi. Websitenya memang susah dibuka dan tahu-tahu sudah ujian saja! Kyaaa tiga hari dua malam saya depresi, menangis, dan merasa bodoh. Hari itu hari Minggu, benar-benar kisah sedih di hari Minggu. Waktu itu, jadwal saya mengajari di Depok sebenarnya, tapi karena saya sedang hari pertama menstruasi, perut saya melilit dan kala itu tak bisa dibendung lagi sakitnya. Jadilah saya meliburkan kelas dan istirahat di rumah mirip orang habis melahirkan. Selimutan di kasur sambil sakit perut.

Babeh saya sebenarnya PNS di BKN Pusat. Jadi doi tahu jadwal Tes CPNS kapan dan gimana aja gitu. Waktu kelulusan TKD aja mukanya Babeh biasa aja cenderung tak percaya karena belum saatnya pengumuman kelulusan katanya. Nah, lho. Saya juga senangnya jadi setengah-setengah, kan. Belum rampung saya belajar untuk TKB, eh tragedi itu terjadi. Untung saya cuma depresi 3 hari hehe. Dibanding SMA dulu, gagal masuk IPA, saya depresi 3 bulan sampai kurus kempot. Untung tak sampai buat video maki-maki temen kayak artis M.

Padahal saya sudah pede banget kalo satu formasi itu adalah rejeki saya. Beberapa waktu kemudian, saya koreksi diri dan menurut saya, saya tahu bahwa ada beberapa kesalahan yang saya lakukan sehingga kenapa saya ditidakluluskan sama Allah.

  1. Terlalu pede, sombong (tobattobat T.T)
  2. Tidak khusyuk dalam beribadah, kurang fokus (T.T)
  3. Kurang bersih hati, niatnya belum lurus (T.T)
  4. Belajar dalam tekanan, kurang tenang (T.T)
  5. Kurang bisa menjaga emosi, terperosok dalam tekanan (T.T)
  6. Kurang tawakal (T.T)


Itulah kesalahan-kesalahannya yang harus diperbaiki! Sekarang, waktunya mengayuh roda baru kehidupan! Tengoklah masa lalu sewajarnya saja sebagai pengalaman agar keburukan di masa lalu tak kembali terulang di masa mendatang. Sekarang saya sudah MOVE ON! Yeah~

Jangan Jadi Badut di Hari Spesial

Assalamualaykum, semua! Apa kabar, hehe. 

Setelah mengalami depresi level lumayan karena beberapa hal, kini mental saya sudah sehat kembali (ini serius -.-"). Biasa, penyakit ABCD alias Anak Baru Cari Duit, wkwkwk. Tapi Alhamdulillah target duit yang saya peroleh bulan April ini berhasil. Horeee! Makanya, depresi saya sembuh. Kekekek. Namanya juga remaja yang menuju kedewasaan hehehe. Inget umur… inget umur…  masih 23 kok santaai… Oke, kali ini saya mau share tentang pengalaman menghias wajah (alah). Kamu siyap?

Sebagai seorang yang suka dipanggil akhwat (padahal gak akhwat-akhwat banget, ngementorin aja udah berhenti, liqo sendiri juga bermasalah sama jadwal, nah lho). Tapi, semoga tulisan saya kali ini bisa jadi salah satu ibadahlah… aamiin. Tahu, kan maksudnya 'akhwat' di sini yaitu muslimah yang kerudungnya syari menutupi yang harus ditutupi dan bajunya cenderung longgar. Eh, tapi itu menurut saya ya, hehe. Masih banyak lagi dimensi arti dari kata "akhwat" itu kalo mau cari, mah.

Nah, menurut pengamatan dan pengalaman saya sebagai seorang akhwat, ada beberapa macam jenis akhwat, hehe. Ada yang girly, ada yang tomboy, ada yang pertengahan. Akhwat yang girly biasanya kerjaannya itu jadi sekretaris di Rohis, suaranya lembut, hobinya ngerajut atau masak, dsb. Akhwat yang tomboy biasanya kerjaannya itu jadi member Kastrad atau Sospol di Rohis, pokoknya yang suka demo-demo gitu, terus hobinya naik gunung, nulis kritis di media, dsb. Nah, kalo akhwat yang pertengahan, ya sifatnya di antara dua tadi. Namanya juga pertengahan, hehe. Kalo di Rohis, biasanya anak pertengahan bisa masuk di mana aja. Kerjaanya… demo sambil masak alias demo masak, kekekek. Ya, kali! Intinya, biasanya… sekali lagi BIASANYA akhwat girly dan sebagian akhwat pertengahan suka bedakan. Sementara itu, akhwat tomboy dan sebagian akhwat pertengahan tak suka bedakan. Jadi ceritanya yang pertengahan dibagi dua: cenderung girly atau cenderung tomboy. Ini menurut saya pribadi lho. Hehehe.

Seorang akhwat yang tomboy atau agak tomboy dan masih singel suka bingung sendiri saat harus menghias diri. Di satu sisi, ingin juga terlihat cantik tapi di sisi lain masih agak malu untuk mengungkapkan dan melakukan. Nah, karena saya adalah seorang akhwat pertengahan yang cenderung tomboy, saya bisa memberikan tips menghias diri untuk saudari sekalian yang mirip dengan saya, hehehe.

Pertama, tips menghias wajah untuk di hari-hari biasa sih pakai saja... pelembab, bedak, dan lipstik warna natural. Kalo ada kekurangan seperti bintik hitam karena jerawat, sinar matahari atau tanda lahir… bisa kita samarkan pake concealer sesudah pelembab. Kalo mau najemin (dikira piso) mata, bisa pake eyeliner hitam. Saya rekomendasikan, pakai yang bentuk pensil saja karena biasanya bisa terhapus air wudhu dan tak membuat mata panda kalo kena air dibandingkan eyeliner liquid. Terus, buat bibir supaya lembab, kalo perlu pakai lipbalm atau minyak zaitun dulu sebelum lipstik (apalagi lipstik jenis matte, kudu wajib!). Gitu aja udah cukup. Percaya sama saya walaupun saya bukan dukun, hehe. Dengan hiasan natural, kamu bisa tetep cantik dalam kesederhanaan dan kebersahajaan.

Kedua, tips menghias wajah untuk hari-hari spesial! Seperti wisuda, pernikahan, wawancara kerja, sama kondangan di rumah pejabat, kekekek. Kalo ini, saya mau cerita dulu soalnya ada cerita lucu terkait bahasan ini. Beberapa waktu lalu, saya datang ke wisudaan senior saya, dia juga akhwat pertengahan agak tomboy kayak saya gitu. Waktu itu dia pernah bilang setengah teriak, "wuaaa, Sitsol! Aku kayak bencong, nih! Benchooong!". Satu lagi, seorang saudara jauh, dia juga bermasalah dengan make-up. Kejadiannya juga pas wisuda, tapi ini cerita dari emak saya. Emak bilang, "Waktu dulu, teteh X didandanin sama orang, sama sebuah agensi perias bencong yang sudah terkenal di kampungnya, tapi entah mengapa, wajah teteh X malah ketebelan alis gak karuan dan jadi kayak bencong.". Padahal aslinya cantik, lho! Di sini, saya bukan mau ngatain bencong ya, tapi yang kita tahu, para bencong biasanya make-up dengan tebal dan yang kayak gitu tak cocoklah untuk para akhwat.

Maka dari itulah, saya berpesan pada diri sendiri beberapa bulan sebelum wisuda : "do ur own make-up and dress!"

Menghias wajah alias make-up jangan sampai membuat kita menjadi orang lain, kita sebagai muslimah bisa berekspresi dengan syari dan sesuai dengan jati diri.  Tips menghias wajah untuk hari-hari spesial…

  1. Wajib cari model jilbab yang tetap syari, cantik, dan tak membuat ribet diri sendiri
  1. Kalo udah nemu, wajib melakukan tutorial sendiri di depan cermin, kira-kira cocok apa tidak buat wajah kita
  1. Untuk make-up, kira-kira cenderung sama dengan tips make-up sehari-hari, tapi karena ini hari spesial… maka harus ada suatu hal yang berbeda. Kamu bisa tambah hiasan mata dengan eyeshadow  yang warnanya matching sama busana.

Jangan pernah pake bulu mata palsu atau ngerok alis ya… tak boleh itu. Bolehnya pake pensil alis saja (buat kita yang masih muda, kata mbak-mbak Wardah, cocok warna coklat). Terlebih buat yang alisnya berantakan, pensil alis akan bantu banget!
Juga boleh untuk pake maskara biar bulu matanya naik ke atas jadi lebih lentik. Lentiknya kan sesaat saja, tak merubah ciptaan Allah, ^^. Saya pribadi sejujurnya tak suka pake maskara, hhe.
Perona pipi juga boleh supaya tak pucat karena bedaknya terlalu datar warnanya.
Oh, iya! Jangan lupa perhatikan kebersihan wajah dan mata saat mau wudhu, khususnya maskara. Sedia make-up remover saat mau wudhu, ya!

  1. Make-up juga wajib kamu lakukan tutorialnya di depan cermin beberapa kali. Haha jadi ingat tutorial saya, pertama-tama kayak badut abis! Saya sama emak saya sampai tertawa terbahak-bahak. Kedua ketiga dst mendinganlah… bisa karena biasa.
  1. Busana… bisalah cari yang warnanya matching sama jilbab dan ukurannya agak longgar biar tetap syari.
  1. Intinya, wajib coba tutorial sediri di depan cermin sampai kamu menemukan yang cocok~~ selain wajib kumpulin duit buat beli alat make-up nya nyahaha…
  2. Tambahan: usahakan kulit wajah berada di dalam kondisi fit dari beberapa hari sebelum hari spesial kamu. Jangan sampai wajah yang jerawatan ditambahin sama bedak dll, bisa buat tambah hancur muka kamu. Lakukanlah perawatan wajah dengan banyak minum air putih, sayuran, buah, dan cuci muka setiap hari, serta pakai pelembab muka dan bibir. Kenapa? Menurut pengalaman saya, kulit yang fit akan membuat make-up di wajah menempel sempurna ^^


Sekian dulu tips dari saya, semoga bisa bermanfaat ya ^^ Jangan jadi badut di hari spesial kamu ya, okay! Soalnya itu hari spesial kamu ya punya kamu!

Selasa, 18 Maret 2014

시간이란...


갸야야야
요즘 바빠서 죽겠다. 돈을 벌기 위해... 고생 많이 가지구 수업 많이 가르치구 과학 만화도 번역한다. 그거 말구 책도 만들고 싶다. 이제 1과는 안 끝나는데 아 그게 뭐야. 걸치만 아픈 것 같다.
숨을 못 쉬는 것 같다. 이년에 이렇게 살고 한다면... 할 수 있을 까 라고 깊은 생각이 난다. 솔칙히 말하면은... 나 같은 A혈액형 자진 사람은 이런 스타일이 아니다. 이것 저것 하는 것은 나의 스타일이 아니다. 잘 어울리지 않는다.
. 난 이제 뭐 하나?
단 사람을 보면 와 걔들 좋은 것들을 많이 하지만 나 뭐야. 그런 생각한다. 우리 동생 지키기 위해 일을 못 집중하게 됬나? 난 집에서 일하기는 그만할 까? . 난 친구를 하고 싶은데... 인생이 지금 좀 무서운데. 친구 없다니까. 엄마, 난 어떻가지? 엄마도 가게에서 일해서 고생 많이 하셨지? 누구에게 도아 달라고 그래야지. 안 그래, 엄마? 난 또 이상 집에서 일하기는 못하나 봐. 미안해, 엄마.
어머... 이게 무슨 우울이지? 아마... 졸업한 후에 우울 ㅎㅎ. 단 컴퓨터도 살 까? à 단 우울. 완벽하네!


Selasa, 07 Januari 2014

Mission Impossible? Nonono! Yes, We Can!

Assalamualaykum warohmatullohi wabarokatuh, semua! 좋은 밤이네... 헤헤헤

Wah, blog saya ternyata sudah berusia 3 tahun, ya? Lumayan. Panjang umur. Hehehe. Ini posting pertama nih di tahun 2014 ini. 2014 itu... buat saya... Tahunnya nyari duit! Yeyeey! Tahunnya nerbitin buku! Hohoho! Tahunnya PERJUANGAN MANDIRI secara finansial! Siyaap!

Hmm. Bulan Desember kemarin, eksperimen survival saya yaaa boleh dibilang lumayan berhasil ^^. Tapi, kok malah banyak utang ya? Hadeeh. Itu kekurangannya. Baiklah! Mari kita jalani bulan Januari ini dengan LEBIH IRIT karena mulai bulan ini, perjuangan benar-benar ASLI dan sudah bukan sebuah eksperimen lagi. Harus bisa!

Setelah bertapa di gunung selama beberapa tahun (alah), saya akhirnya menemukan misi selanjutnya setelah lulus kuliah. Yap, pertama adalah: UMROH! Pada usia saya yang ke-25 tahun. Waktu bertapa, saya mendapatkan pencerahan. Melihat banyak orang yang mengumpulkan uang untuk urusan duniawi saja, maka saya berpikir mengapa tidak menabung untuk urusan dunia dan akhirat juga? Ketika teman-teman saya berlomba-lomba untuk pergi ke Korea, saya menggeleng dalam hati. Si hati berujar, “gue ke mau liat Ka’bah dulu aja, ke Mekah dulu, ke Madinah, ke makam Nabi, ke makam para sahabat Nabi, abis itu, baru dah travelling keliling dunianya, Korea gak bakal kemana-mana...”

Berarti, saya punya waktu 2 tahun untuk mempersiapkan semuanya. Hehehe. Setelah itang-itung, sekarang biayanya sekitar 20 jutaan. Niatnya, saya mau berdua sama mama-ke. Berarti perlu 40 jutaan. Hmm... dengan honor mengajar saya yang segini... hmmm... saya harus bisa pokoknya! Matematika manusia mungkin impossible, tapi matematika Allah kan possible. Mau apa juga bisa kalau Allah Mengizinkan-mah. Iya, kan, iya dong? Minta doanya ya temans...

Oh iya... Ada sebuah kejadian unik terjadi beberapa waktu lalu ketika sedang mencari buku panduan Umroh. Terlintas di kepala untuk mencari buku yang ringan ala remaja bahasanya. Eh, sudah memutari Gramed Depok tetap tidak ada. Adanya buku-buku yang lain. Bahasanya kaku, kurang sreg. Ketika kedua kaki sudah pegal, mata sudah berkunang-kunang, dan kepala sudah mulai pening... saya melihat seorang pegawai yang sedang merapikan buku baru. Ia memasukan buku-buku yang baru dibawanya ke dalam rak buku. Buku itu berwarna hijau muda: Haji for Teenager. Saya langsung sumringah. Allah mendengar permintaan dan kebutuhan saya. Segera saya hampiri pegawai wanita tersebut, saya minta buku yang sudah dibuka, tapi dia bilang belum ada yang dibuka. “Wah buku baru!” pekik saya dalam hati ketika itu. Pegawai tsb pun membukakan salah satu bukunya agar saya bisa melihat isinya. Wah, sangat sreg! Buku itu saya taruh kembali, lalu saya ambil yang masih diplastik di dalam rak buku. Hehehe.

Pernah pikiran berbisik, “cari kerjaan lain aja yang duitnya lebih banyak biar nabungnya lebih cepet!”. Namun, hati menjawab, “mungkin duitnya lebih banyak, tapi Lo gak bisa bohong, passion Lo apa? syukur dah Lo udah ngerti passion Lo apa, gak kayak temen-temen Lo yang lain, hari gini masih aja nyariin si passion yang belum ketemu, tugas Lo sekarang adalah berani dalam ber-action, karena passion dan realita udah lumayan terikat benang merah, tinggal dikit lagi Ti, supaya benang merah ini semakin kuat dan kuat dan kuat! ayolaaah, jangan kayak orang lain yang nyesel hidup bertahun-tahun dengan pekerjaan yang berduit memang, tapi malah bikin hidup mereka hampa, hidup udah kayak zombie.” Nah lho, si pikiran diceramahin kan sama si hati. Hehehe.

Umroh dan Haji itu mission impossible? NONONO! Itu possible, man! Saya yakin! Sudah banyak kisah tidak terlogikakan mengenai perjalanan ke sana. Yang jelas, syaratnya: yakin, doa, usaha. Sekali lagi, action. Hehehe. Tapi, untuk saat ini, saya mau Umroh dulu yang lebih ‘mudah’ dibandingkan Haji. Semoga kalau Haji bisa sama suami kelak. Insya Allah. Aamiin. (Padahal belom tahu suaminya siapa, wehehe.)

Misi kedua adalah: TERBIT BUKU TAHUN 2014! Buku apa, sih? Hmm... masih rahasia. (Ah! Sok rahasia-rahasiaan Lu, nyang baca blog ini juga gak seberape.. kekekek.) Yang jelas buku ini akan menggemparkan dunia perbukuan. Hehehe. Semoga. Aamiin. Membayangkan misi-misi saya ini membuat kepala saya pusing karena saking bersemangatnya, lho. Beneran, dah! Hehehe. Menurut saya, orang sukses itu harus pernah membuat buku yang jadi masterpiece mereka, setidaknya skripsi. Hehehe.

Oh iya, sekalian curcol. Saya agak risih ya melihat dan mendengar acara infotaiment di teve yang menggambarkan bahwa seseorang yang sukses adalah seseorang yang banyak duit. Sering banget deh. Contohnya, Caisar yang jadi OKB karena aksinya di YKS. Yang saya masalahkan bukan si Caisarnya. Dia mah oke, low profile orangnya. Hanya, konsep sukses yang diangkat acara infotaiment itu lho. Sukses = Banyak Duit. Menurut saya, harus ditambahkan satu lagi, Sukses = Banyak Duit, Tapi Tetap Sederhana. Seperti Sahabat Umar bin Khatab. Man, saya nge-fans banget sama beliau! Gyaaa mau ketemu banget! Tapi, kalau ketemu, takut diomelin karena ibadah saya yang masih acak kadul. Siapa saya mau ketemu mereka yang mulia itu. Pesimis tingkat tinggi. Jauuuuh banget derajatnya #terjun ke sumur.

Yuk, mari. Sekian dulu posting kali ini, Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Hehehe. Salam damai


Wassalamualaykum warohmatullohi wabarokatuh! 안녕히 주무세요... v^^v

Minggu, 15 Desember 2013

KEAJAIBAN SEDEKAH

Assalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh! 좋은 아침... ^^

Kali ini saya mau share tentang perselingkuhan persedekahan. Posting pertama nih di blog saya tentang sedekah. Okay, hmm... Keajaoban sedekah ini terjadi kepada saya minggu lalu, tepatnya tanggal 8 Desember 2013. Hari itu adalah jadwal saya mengajar di Depok. Sebelum itu, saya pergi ke ATM di Cibubur untuk transfer ke salah seorang kenalan dalam rangka ikut menyumbang kepada (kita sebut saja) Pak S. Beliau adalah pak satpam di SMA saya dulu. Kini, beliau sedang sakit stroke dan butuh bantuan. Katanya, kondisi beliau sudah parah. Memang sih, saya melihat foto di grup FB itu seperti before and after-nya tubuh beliau. Dulu, beliau sangat gemuk, tetapi sekarang kurus kering. Jujur, saya tidak akan mengenali beliau jika berpapasan di jalan. Kurus sekali! Dan katanya tubuhnya menguning karena sakit tersebut.

Jadi, para alumni berinisiatif untuk membantu beliau. (Btw, teman-teman pembaca tolong doakan saya supaya terhindar dari ujub, bukan maksud saya untuk ujub karena sedekah, tetapi keajaiban yang saya rasakan nantilah yang saya maksudkan dalam posting kali ini. Sungguh Allah Maha Kaya dan Maha Mengetahui.)

Nah, siang itu sekitar pukul 12.00 kurang, saya transfer 100 ribu rupiah. Setelah dari ATM, saya mengangkot menuju Depok. Kelas diadakan pukul 13.00. Di kelas, ternyata sudah datang salah seorang murid yang begitu sanguinis (menurut saya, hehehe.). Kita panggil saja dengan Mbak S. Hari itu, Mbak S bersorak-sorai gembira karena dirinya membawa Chocopie. Kudapan yang mirip Better tapi lebih lembut dan isinya itu marsmellow. Enak sih, tapi saya tidak terlalu suka karena selalu menyangkut tuh di gigi dan membuat gigi item-item. Hehehe!

Begitu kelas akan dimulai, Mbak S mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah buku jurnal 2014 berwarna biru. Saya terperanjat seraya berujar kepadanya,

“Wah! Udah beli, ya, Mbak? Keren!”

Kemudian, saya lanjutkan dalam hati, “Wah, Mbak S udah beli. Tapi itu punya Mbak S kayaknya. Berarti punya gue kapan datengnya, ya?” Buku jurnal itu adalah buku jurnal lucu yang dijual online. Kami berdua adalah maniak online shopping, by the way (kekekek). Minggu sebelumnya, kami sudah membicarakan buku yang harganya 109 ribu rupiah itu. Singkatnya, minggu saya menitip buku itu kepada Mbak S. Namun, belum pernah menanyakan kondisi pesanannya.

Sebenarnya, selain buku jurnal, toko online-nya juga menjual buku catatan perjalanan dan lain-lain. Mbak S membeli buku perjalanan jauh sebelum hari itu dan sudah terisi lengkap dengan perjalanannya ke Bali dan Korea. Di bukunya, tertempel aneka foto dan bahkan karcis kereta! Buku tersebut memang menyediakan halaman khusus untuk hal-hal itu.

Back to the keajaiban sedekah! Saya menitip beli buku itu kepada Mbak S minggu lalu dan hari Rabu sudah ia terima katanya. Setelah itu, Mbak S juga mengeluarkan sebuah benda lain dari dalam tasnya, seplastik besar rumput laut untuk kimbab! KIM! Atau terkenal juga dengan sebutan Nori. Isinya ada 20 lembar. Nah, saya juga menitip beli barang itu beberapa minggu sebelumnya karena rumah Mbak S katanya dekat dengan toko makanan Korea. Kim seperti itu sudah saya cari-cari dari beberapa tahun yang lalu (beneran, susah banget carinya!).

Ketika saya menanyakan total harganya, ia menjawab,

“Enggak usah Seonsaengnim. Buat Seonsangnim aja sebagai kado ulang tahun!” (padahal ulang tahun saya akhir November kemarin... dan bukan tipe penyuka ulang tahun. Setiap ulang tahun, saya malah takut karena tambah tua dan takut tambah dosa .)

JEGER! Ya, mungkin beberapa orang menganggap lebay. Akan tetapi, tidak bagi saya. Kedua barang itu saya idam-idamkan sekali. Pertama, buku jurnal 2014 yang lucu dan warna warni itu. Saya cari di Gramedia pun tidak ada buku semacam itu. Di sana, terlalu plain bukunya. Saya butuh buku jurnal yang lucu dan warna warni agar target-target dan mimpi-mimpi saya tahun 2014 dapat dirancang dengan fun. Allah mendengar kebutuhan saya. Maka, datanglah murid saya dengan informasi toko online buku itu. Pertama kali melihat review di website-nya, saya langsung jatuh cinta dengan buku jurnal itu.

Kedua, seplastik rumput laut untuk kimbab a.k.a kim. Saya adalah maniak rumput laut, jadi saya berkeinginan suatu saat bisa membuat kimbab isi rendang di rumah atau isian yang lainnya yang ala Indonesia. Dan Allah juga mendengar keinginan saya itu. Keinginan yang menurut sebagian orang mungkin biasa saja. Ya, mungkin keinginan saya ini sama dengan keinginan seorang miskin yang ingin sekali makan ayam goreng. Macam tu lah. Hehehe!

Nah, kalau dikalkulasikan... sebelumnya, saya sedekah pukul 12.00 kurang, dengan jumlah 100 ribu rupiah. Kemudian sekitar satu jam setelahnya, sedekah saya langsung diganti berupa buku jurnal dan kim! Kedua benda itu kalau dikalkulasi, buku harganya 109 ribu dan kim isi 20 lembar mungkin sekitar 50 ribu atau lebih (yang kecil-kecil di minimarket aja mahal, apalagi nyang gede ini). So, totalnya, sekitar 159 ribu. Mungkin kalau hitang-hitung seperti ini agak gimana gitu, ya? Tapi entah mengapa saya merasa  takjub sendiri! Padahal saya baru sedekah satu jam sebelumnya dan langsung dibalas cepat sekali. Allah sama sekali tidak menundanya! 100 ribu saya diganti! Malah dapat lebih 59 ribu! Alhamdulillah!

Ya, sedekah itu memang ‘jemputan’ rezeki. Rezeki bisa berbentuk materi, seperti uang, properti, dan barang. Juga, berbentuk non materi, seperti kesehatan, keselamatan dari bahaya bahkan kematian. Saya pernah baca buku, isinya kisah seorang pemuda yang tidak jadi mati karena sebelumnya bersedekah dengan hartanya. Allah menunda kematiannya dan membatalkan tugas malaikat pencabut nyawa hari itu. Bayangkan! Kematian bisa ditunda lho pakai sedekah! (Kalau tidak salah, dari buku 7 Keajaiban Rezekinya Ippo Santoso)



Itulah kisah saya tentang keajaiban sedekah. Kalau kamu? ^^


Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh!  

Selasa, 03 Desember 2013

Random sih, tapi penting! (part 1)

Okay, sekarang sudah masuk bulan Desember. It’s the month of my survival experiment plan (nah lho, apaan tuh?). Intinya, saya akan belajar untuk semakin mandiri (baca: ongkos bulanan). Walaupun masih belum berpenghasilan banyak sesuai plan, teteup mau coba sebulan enggak minta uang ke orang tua tapi... mulainya setelah dapat honor mengajar tanggal 6 hehe. Survival Plan Bulan November gagal, hehehe. Yang jelas, Insya Allah apapun yang terjadi... mulai Januari tahun 2014, saya harus bisa membiayai hidup sendiri! Wush wush prok prok! Doakan saya, yak!

Sipp. Lanjut. Ya, namanya juga random. Hehehe. (Ambil kalender, nyontek aneka kegiatan yang sudah lalu, ya abisnya lupa, kkk.) Okay, jadi terakhir saya nge-posting di sini agak lama, ya? Itu tanggal 10 Agustus. Dua puluh hari sebelum Wisuda S1 saya ^^. All right then, mari kita putar waktu lebih jauh ke belakang... Sruuuutttt.... Sumpah ini jauh banget, ke bulan Juli 2013 :p.

Di bulan Juli itu, saya masih menjadi mahasiswa yang sedang menuju sidang skripsinya. Dulu sih parno gimana gitu kalau mendengar kata ‘skripsi’, tapi sekarang mah enggak dong. Kan sudah lulus, hehe. Tepat tanggal 8 Juli pukul 10 pagi di ruang 6103, saya sidang presentasi di depan para penguji (aseek). Sampai-sampai di kalendernya, saya gambarkan simbol hati sebagai pengingat hari sidang skripsi. Jadi, angka 8 nya itu ada di tengah gambar hati ^^ (alay dikit). Gambar hati dipilih bukan karena saya menyukai sidang. (idiiiih, ya kaleee...) Akan tetapi, saya ingin menghipnotis diri supaya lebih tenang dan memikirkan kebahagiaan super tingkat tinggi setelah sidang tsb berakhir. Simbol hati kan bermakna cinta dan kebahagiaan. Iya, kan?

Btw, kata teman-teman saya, skripsi itu ibarat wanita yang sedang hamil. Nah, sidangnya itu adalah WAKTU MELAHIRKANNYA! Jadi, perasaan pas sidang ya seneng-seneng agak takut-nervous gimana gitu. Tapi teteup semua itu tergantung pintar-pintarnya diri kita membuat pikiran kita tetap positif. Saya ingat, di tengah-tengah presentasi, tangan saya tiba-tiba gemetar. Saya langsung istigfar lalu menenangkan diri seraya berbisik sendiri dalam hati, “It’s fine. Tenang, Ti. Tenang. Gak apa-apa. Semua akan beres dan selesai dengan baik.” Ya kira-kira begitu. Dan hipnotis tsb berhasil berhasil hore! #sing dora the explorer.

Nah, tips kalau mau sidang skripsi adalah pertama, kuasai materi dari bab 1 sampai kesimpulan dengan baik dan menyeluruh. Kedua, latihan presentasi dan latihan antisipasi jawaban soal (maksudnya pertanyaan yang kira-kira akan ditanyakan para penguji). Waktu itu untuk menguasai materi, saya membuat catatan ringkasan dari semua bab. Nah, kemudian saya latihan dengan dua orang teman saya, Agnes dan Zakiyah di kosan Zakiyah di Jalan Amaliah, Akses UI. Yang koplaknya adalah ketika latihan presentasi dan antisipasi jawaban, saya masih menjawab pertanyaan seperti orang ayan, terbata-bata dan tidak jelas mau ke mana jawabnya. Itu terjadi dua kali. Jadi, kami latihan satu angkatan dan juga latihan satu kali lagi secara lebih privat di kosannya Zakiyah.

Waktu latihan di KCC, perpus UI lantai 2, sudah keren pakai slide segala, tapi kelemahan saya waktu itu adalah belum menyusun kata untuk presentasi. Tahu, kan kalau sidang itu ada batas presentasinya berapa menit, jadi enggak boleh terlalu bertele-tele gitu. Eh, karena minim persiapan, saat latihan saya kacau meracau.

Selain susunan kata, ekspresi wajah dan tubuh juga sangat penting lho waktu sidang! Dan diri saya kacau sekali waktu latihan itu. Waktu latihan di KCC, teman saya ada yang bilang kalau ekspresi saya terlalu ‘jujur’. Maksudnya, jujur kagetnya dengan pertanyaan yang diajukan teman saya (dia pura-pura jadi dosen penguji, saya nantinya juga dapat giliran pura-pura jadi dosen penguji). Ya pokoknya latihannya memang sudah diatur sedemikian rupa supaya mirip dengan suasana sidang. Back to my expression! Hehe. Iya, selain kaget dengan pertanyaan (karena enggak nyangka akan ditanya seperti itu), saya juga diomeli teman karena tidak sadar kalau dari awal itu berkacak pinggang (satu tangan pegang handout dan satu tangan lagi di pinggang, malah terkadang tangan yang ada handout-nya itu berputar ke sana kemari mirip wayang, dan saya enggak sadar!). Slide juga dapat kritikan dari teman, katanya terlalu rame. Akhirnya saya memperbaiki semuanya.

(urutan peserta sidang)

Kebetulan saya dapat giliran pertama untuk maju sidang. Entah mau senang atau sedih ketika dapat informasi itu. Sebaliknya, Si Agnes dapat giliran terakhir. Ya, saya positif thinking lagi, berarti nanti jadi sarjana humaniora dari anak-anak Korea angkatan 2009 yang pertama. Wehehe kerenlah. Lagipula, being the first itu memang lebih banyak enaknya (dalam kasus saya ini). Kalau sudah selesai, tinggal nontonin teman-teman yang lain yang lagi sidang hehehe. Oh iya, jadwal sidang kami itu ada di saat menuju bulan Ramadhan. Waktu itu ada selentingan dari teman, “ya, semoga dapet pas Ramadhan, kan jadi enggak usah nyediain konsumsi buat para penguji, kkk.” Eh, ternyata teteup aja harus menyediakan karena kami sidang tanggal 8 dan 9 Juli sementara Ramadhan jatuh di tanggal 10. Hahaha. Yasuud.

Nah, dengan latihan, doa, dan pikiran positif, serta asupan makanan yang enak, saya berhasil me’menang’kan sidang! Alhamdulillah dapat nilai terbaik sesuai harapan. Bahkan di luar plan awal. Really THE BEST OF ALL.

Masih cerita tentang skripsi saya, ya! Sebenarnya, waktu itu saya sedang banyak jadwal mengajar di bimbel, jadi badan agak kurang fit. Untungnya, ketika sidang, saya sehat-sehat saja. Tapi, satu hari setelah sidang, langsung deh masuk angin. Dan kebahagiaan super tingkat tinggi yang saya kira akan saya dapatkan setelah sidang skripsi, ternyata BOHONG BELAKA!!!! Suer deh. Ternyata, mengurus kelulusan dan tetek bengeknya itu super duper menguras tenaga and itu sudah masuk bulan puasa. Intinya, jika mau lulus, maka revisi skripsi harus jadi paling lambat seminggu setelah sidang (kasus saya, beda dengan yang lain sih), lalu diprint yang banyak (apalagi waktu itu skripsi saya tentang film, jadi banyak gambarnya, jatohnya jadi mahal T.T), kemudian ditandatangani para dosen penguji, lalu ke sub bagian akademik untuk dicap, ke perpus buat di-upload, minta surat bebas pustaka, surat berhasil unggah dsb. Akhirnya... ya akhirnya... saya tepar! Pertamanya sih, merasa kelelahan doang karena harus bolak balik ke sana ke mari dan di rumah juga ada kerjaan bersih-bersih rumah dll. Di saat-saat itu, saya menanti hari-hari datang bulan agar setidaknya bisa ‘istirahat’. Sebenarnya sudah tanggalnya, tapi entah mengapa waktu itu belum datang juga.

Tepat pada tanggal 23 Juli, saya berada di titik paling nadir. Waktu itu sambil menunggu jilid-an di perpustakaan, saya sudah kliyengan dan berpikir untuk membatalkan puasa. Tapi, saya tetap bertahan. Akhirnya, saya pulang naik ojek dari perpus UI sampai rumah di Cibubur. Di perpus, saya masih bisa senyum kepada abang ojek, tapi di gang rumah, saya sudah hampir pingsan. Mungkin karena diterpa angin di perjalanan. Saya menepuk-nepuk tangan agar tetap sadar dan terus  istigfar. Pokoknya jangan sampai pingsan.

Turun dari ojek di depan rumah, sepeda baru Poligon Lite saya ternyata sudah tiba (memang pesanan diantar hari itu). Namun, karena masuk angin super (saya kira waktu itu) tsb, tiadalah nafsu untuk melihat sepeda barang secuilpun. Sama sekali. Gerbang dikunci, saya teriak-teriak sambil menangis minta dibukakan segera. Tas berisi jilidan skripsi yang sudah direvisi saya lempar ke atas sofa dan saya minta adik saya untuk mengurus ongkos si tukang ojek. Sementara saya minta teh hangat dan minta dikerok oleh ibu saya. Masuk rumah langsung rebahan dan selimutan. Saya ingat, tetangga saya yang sedang bantu setrika di ruang tamu berkata waktu itu, “Ya ampun, Ti, Pucet banget mukanya!”. Saya tambah shock. Saya batalkan puasa segera setelah ibu menyodorkan teh manisnya.

Tanggal 24, saya haid! Alhamdulillah! Akhirnyaaa bisa istirahat juga. Btw, saya ini paling malas pergi ke dokter karena tidak bisa minum obat pil dan kapsul, bisanya hanya sirup dan puyer (padahal umur sudah tua :p). Tapi, beberapa hari ke depannya, saya akhirnya ke dokter karena demam sangat tinggi. Mata sampai merah. Semalaman tidak bisa tidur. Ya, saya kira itu adalah demam terparah saya selama saya hidup. Kacau benar sama sekali tidak bisa tidur! Panas sekali dengan kaki yang kedinginan, persendian sakit, kepala pusing, dan perut mual serta muntah-muntah.

EMERGENCY!!!!

Tanggal 27, sore harinya, saya merasa sangat tidak kuat lagi untuk bertahan dan sempat berpikir mungkin saya terkena tipus. Panas dan demam memang sudah reda, tetapi saya mulai merasa sesak nafas dan denyut nadi saya rasakan sangat lemah. Perut juga masih mual dan sulit menerima makanan. Selalu muntah. Jadilah badan saya lemah selemah lemahnya. Di sore itu, akhirnya saya minta dibawa ke klinik Oyot Haji di Bekasi (beliau paman ibu saya). Saya dibawa pakai mobil tetangga yang waktu itu supirnya sungguh ingin sekali saya cekek lehernya. Bayangkan! Saya sedang bengek-bengek begitu, dia bertanya di dalam mobil, “Saya boleh merokok?”. Sontak langsung saya jawab, “Jangan, Pak! Jangan!!!!” DASAR GILA!

Sesampainya di tujuan, saya disambut oleh saudara saya yang baik hati, Si Gustiani. Wajahnya damai dan melihat saya yang kliyengan, ia terlihat begitu panik dan menyuruh saya masuk ke dalam. Saat cipika cipiki dengannya saja sebenarnya saya sudah tidak kuat lagi berdiri sehingga setelah itu, saya langsung jongkok ditempat. Masuk ke penginapan di klinik, saya langsung diinfus dan diambil darah. Keesokan harinya, jengjengjeng! TERNYATA DEMAM BERDARAH! Trombositnya hanya 7000, padahal normalnya 110.000 (saya lupa satuannya apa, CMIIW).

Koplaknya adalah, sebelumnya, Si Dokter a.k.a adik sepupu ibu saya dan sekaligus kakaknya Gustiani, bernama Teteh Zubaidah, kurang fokus dalam melihat hasil laboratorium. Ia berkata saya hanya kelelahan dan semua normal. Namun, ketika Oyot Haji (bapaknya Teteh Zubaidah dan Gustiani) membaca kertas itu... “Ya Allah, Ti! Iyeu mah demam berdarah atuh! DBD! Trombositnya sakiyeu teh di bawah normal!” Beliau begitu panik. Saya mendengar hal itu, jujur, antara amazing dan takut. Amazing bahwa saya kena DBD maksudnya karena saya belum pernah dirawat di RS dan ketika dirawat, penyakitnya super sekali (#nada gaya Mario Teguh), DBD! Dan tentang perasaan takut, ya off course ya cuy. Ya kalee ente seneng kena DBD. Amazing beda ya sama senang. Kan banyak yang ‘lewat’ karena DBD ane juga takut ‘lewat’ laaah. Ini beneran! Saya berdoa dan berharap sama Allah supaya diberi kesembuah dan jangan ‘diambil’ saat itu karena jujur merasa belum berbuat apa-apa untuk kedua orang tua, keluarga, nusa dan bangsa saya serta masih merasa berlumur dosa T.T

Oyot Haji bertambah panik ketika mengetahui saya mengeluarkan darah (padahal itu kan darah haid). Tapi, memang tubuh kita ini punya kedinamisan ya? Jadi, ketika tubuh saya sedang drop sekali, saya haidnya berhenti. Sama sekali berhenti padahal baru beberapa hari (normal haid kan seminggu). Setelah lumayan banyak diinfus, haidnya muncul lagi. Nah, Oyot Haji mengira itu darah karena pembuluh darah yang pecah akibat DBD (gila!! itu sih serem abis!). Untungnya saya belum ada pendarahan seperti itu. Alhamdulillah...

Teman-teman kantor bapak saya, saudara-saudara, menjenguk saya. Di saat itu, saya merasa terharu untuk pertama kalinya. Saya menghabiskan 29 botol infus. Keren, kan? Dan tangan saya tidak bengkak, Hehehe. Itu bagus katanya. Kurang lebih selama 10 hari saya dirawat di Bekasi. Setelah pulang ke rumah, para tetangga menjenguk lagi dan saya terharu lagi ^^. Sementara itu, Idul Fitri telah menunggu di ujung jalan. Untung saya sudah pulang sebelum Ied. Jadilah saya sendiri menunggu di rumah saat Lebaran karena masih dalam masa pertumbuhan, eh maksudnya penyembuhan. Tahun itu, saya utang puasa 16 hari karena DBD!

(penampakan tangan setelah cabut infus)

Oh iya, untungnya waktu sakit, saya tinggal mengurusi pembayaran wisuda dan menunggu tulisan di SIAK NG berubah menjadi lulusan. Yang upload foto saja adik saya di klinik. Iya, jadi laptop dibawa dari rumah dan adik saya yang kedua juga sampai bolos sekolah gara-gara saya sakit (dia masuk angin kehujanan pas pulang dari Bekasi).

(Ijay dan Fatimah yang setia menunggu akyuu :p)

Okay, random dari skripsi berpindah ke DBD dan sekarang ke mana lagi, ya? (Cek kalender lagi...). Hemm, wah wisuda ternyata!! Tapi, sekarang sudah jam dua dini hari, sepertinya sudah cukup. Nanti saya buat part 2 nya saja, ya! Hehehe. Sekarang mari rapi-rapi dan tidur untuk interview kerja esok pagi :p. Btw, thx for reading my posting ya ^^