Sabtu, 26 Mei 2012

Bedah Buku dan Film Cinta Suci Zahrana di FISIP UI (210512) ^^



Assalamualaykum... ^^

Apa kabar, teman-teman ^^. Kabar saya sangat sibuk akhir-akhir ini, soalnya mau ujian (UAS semester 6, cuy~ tak terasa ternyata kuliah tinggal 1 tahun lagi, hihiy~) Yap, saya tak tahan lagi mau menginggalkan semester ini, yaitu semester TERAKHIR belajar bahasa Korea, bwahahaha *gaya tangan pahlawan bertopeng. Hmm, bukannya tak mau belajar, hanya saja... peer-nya itu lho... sangat menyiksa. Banyak sekali. Bahkan mungkin, terlalu banyak -_____-

Untung saja, di tengah-tengah kesibukan itu, banyak acara dan seminar-seminar seru dan bermanfaat di dalam kampus ^^. Salah satunya, ada acara Bedah Buku dan Film Cinta Suci Zahrana di gadung AJS FISIP UI, tanggal 21 Mei 2012 kemarin dan seminggu sebelumnya, saya sudah dengar berita itu. Katanya, akan hadir Kang Abik sebagai penulisnya, Meyda Sefira, serta Cholidi Asadil Alam sebagai pemain dalam filmnya. Oleh karena itu, acara ini sangat saya tunggu-tunggu, hehehe ^^

Baiklah, mungkin kita bisa lihat resensi dan sinopsis bukunya di sini terlebih dahulu...
Nah, kalau sudah baca, balik lagi ke sini, hehe...

Acaranya dimulai pukul 14.00 sampai pukul 16.00 sore dan Alhamdulillah saya dapat tempat duduk di tengah depan, barisan ke empat. Saya datang dengan Zaki (yang sebelumnya sangat galau antara pergi ke perpus untuk kerjakan peer online shopping bahasa Korea bisnis atau datang ke acara bedah buku dan film itu bersama saya :p), lalu ada duo kembar, Kak Lita dan Lisa juga. Sebelumnya, tempat duduk di depan kosong, tapi saya dan Zaki terlalu cantik untuk ada di depan, nanti para pembicaranya tak bisa konsentrasi lagi :p



(acara dibuka oleh Tim Nasyid Al Hikmah FSI FISIP UI *sumpah mereka kocak banget, acara ini suasananya jadi lucu juga karena mereka, mereka nyanyi sambil ngelawak kayaknya, hehe plus di tengah acara, mereka juga merangkap jadi panitia perlengkapan, karena ikut bantu angkat sofa ke atas, bwahaha. sumpah kocak. tapi tetep ketika nyanyiin lagu nasyid kesukaan saya, saya merinding~ ziiing~)




(ki-ka: moderator (menurut saya kurang ok, nih, seharusnya Kak Yasir aja yang jadi moderator, hehe), Kang Abik (it's the first time for me to meet Kang Abik ^^ baju hijaunya sangat menentramkan~ kakek guru saya~ *sambil sungkem), terakhir Kak Odi (kakak itu datang dengan blazer coklat dan celana jeans, menurut saya gak terlalu cocok sama kulitnya, tapi gak apa-apa, karena kharismanya mengalahkan semuanya ^^ lagipula masih mending dia pake baju, soalnya selain main film, dia juga lagi sibuk banget sama kuliah dan jualannya di kalibata, hoho~)



Kang Abik bercerita mengenai cerita Cinta Suci Zahrana ini. Menurut saya, inti ceritanya adalah tentang seorang wanita yang telat menikah.Oh, iya, hampir lupa, dua orang pembicara lagi, yaitu Meyda Sefira dan Mr. M (saya tak suka orangnya, jadi saya tak mau tulis namanya di blog saya, hehe) berhalangan hadir. Michin yeoja-deul yang datang karena ingin melihat Mr. M, rasakanlah karena orang itu tak datang! Bwahahaha~

Oke, kembali lagi ke jalur kebaikan. Yap, dalam menulis cerita ini, Kang Abik memperoleh inspirasi dari kerabatnya yang kurang lebih begitu ceritanya, telat nikah. Kerabatnya Kang Abik itu lalu konsultasi kepadanya dengan harapan mendapatkan solusi dan bantuan.

Kang Abik juga membahas tentang pendidikan bagi perempuan yang sangat terbuka dalam Islam. Perempuan sama dengan laki-laki, boleh menggapai pendidikan sampai setinggi apapun karena menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Saya setuju kali ^^ Kemudian, Kang Abik juga bercerita tentang perbedaan wanita dan laki-laki dalam masalah usia pernikahan. Kaum laki-laki tidak punya masalah kapan menikah (tentunya setelah baligh), akan tetapi kaum wanita harus memikirkan masa produktifnya yaitu di bawah 35 tahun. Usia setelah 35 tahun, agak sulit karena mendekati masa menopause.

Dan Kang Abik menjelaskan penuh dengan kedamaian dan ketentraman~ Hmm, di sini, saya mengerti. Memang benar sekali, bagi kaum wanita khususnya, usia produktif harus dipikirkan sebelum menikah. Penting itu hukumnya. Sebelumnya, saya juga sudah memikirkan hal seperti itu. Waktu itu, niat saya untuk ambil S2 di Korea sangat menggebu-gebu. Lalu, saya berpikir... tapi saya akan menikah dulu, setelah itu baru kuliah S2. Banyak kok yang seperti itu, jadi menikah dan menuntut ilmu seharusnya tidak saling menjatuhkan, tapi berjalan beriringan...

Oh iya, di sesi pertanyaan, saya sebenarnya sudah mengewer-ngewerkan tangan saya. Tapi, masih belum rezeki, jadi tidak terpilih sebagai penanya. Huhu. Sedih. Padahal di depan itu adalah dua orang yang sangat menginspirasi. Ada sebuah pertanyaan yang bagus, dari Kak Nurul, dari FIB juga,

“Kang Abik, bagaimana ya caranya mencari jodoh? Maksudnya, kalau pendidikan kan sudah jelas, kita harus masuk SD, SMP, masuk sana situ, ambil jurusan ini itu... Nah, kalau urusan jodoh bagaimana?”

Kang Abik jadi seperti konsultan cinta lagi, hehehe. Dan saya serta hadirin lainnya cekikikan tapi penasaran juga, apa kiranya jawaban Kang Abik dari pertanyaan tadi. Sebenarnya, banyak yang dikatakan Kang Abik sebagai penjelasan dari jawabannya,

“Pantaskan diri.” Itu ringkasan dan inti dari jawabannya. Setuju dong, wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya. Dan saya langsung teringat bukunya Mas Ippho Santosa ^^ 



(kali ini, Kak Odi (yang ternyata seniornya Lisa di SMA, ya ampun dunia sempit sekali~) share tentang tokohnya sebagai Rahmat si tukang kerupuk di film ini yang Kak Odi bilang seorang tokoh yang sangat penting dalam cerita walau pengambilan gambarnya sedikit) 




Oh iya, sama seperti pertemuan dengan Kang Abik, pertemuan dengan Kak Odi juga menjadi yang pertama. Kedua orang itu sangat menginspirasi untuk saya yang tertarik di dunia penulisan dan wirausaha. Kang Abik, tak perlu ditanya lagi geliatnya di dunia kepenulisan, terutama novel religi. Dan saya juga meniti jalur yang sama, yaitu novel religi, namun masih untuk remaja, hehe. Oleh karena itu, tadi saya panggil Kak Abik jadi kakek guru, hehe. Semoga saya juga bisa jadi penulis seperti Kang Abik yang bisa membuat karya-karyanya jadi film. Tapi, sebenarnya, dari hati yang paling dalam, saya maunya karya-karya saya nantinya menjadi sebuah DRAMA! Yap, drama televisi. Saya tak mau menyebutnya sinetron, hehe. Tapi cukup kisaran 15-20 episode saja. Begitu... Semoga bisa jadi kenyataan dan bermanfaat bagi semua. Aamiin ^^

Nah, Kak Odi juga jadi orang yang sangat menginspirasi saya. Terserah orang lain dan michin yeoja-deul yang menyukainya sebagai artis, tapi saya tidak termasuk mereka. Kak Odi menginspirasi saya karena dirinya sendiri. Bukan karena dia artis atau bintang film. Saya jadi teringat, waktu beberapa tahun yang lalu nonton KCB  di Cibubur Junction bersama Tia, sahabat SMA saya. Waktu itu Tia bilang,

“Dia (Kak Odi yang berperan jadi Azzam) enggak ganteng tahu, Sol. Biasa aja mukanya...,”
“Ada tahi laletnya lagi...,” tambah Tia.
“Hehehe, emang iya. Dibilang manis, enggak juga. Sedikit banget manisnya, tapi entah kenapa, ada sesuatu yang berbeda dari dia Tia dan gue enggak tahu apa ...,”

Tapi sekarang saya tahu, itu adalah kharisma ^^ Oh, iya, adalah kebiasaan saya meng-add akun facebook setiap orang yang menginspirasi saya. Zaman awal-awal, film KCB, saya cari nama Kak Odi, ternyata... TIDAK ADA! Ya ampun... bertahun-tahun kemudian, yaitu sekarang, saya cari namanya, dan... sudah 4000-an temannya sampai tak bisa tambah teman lagi -___-. Ya sudahlah, yang penting, tak temananpun, kita sudah jadi saudara... saudara seiman ^^

Tentang wirausaha, Kak Odi (hasil per-kepo-an zaman dulu, zaman KCB masih gembar-gembor) pernah jualan sarung dan pecel lele di daerah Kalibata. Dari SMA sudah merantau ke Jakarta dari Pasuruan (*ya ampun, berarti Kak Odi teman sekampungnya Inul Daratista -__-). Entah benar atau tidak, hanya Kak Odi dan Allah yang tahu. Hehehe. Sekarang, mungkin sudah banyak dapat modal dari hasil main film, jadi sudah punya restoran ayam bakar di daerah Kalibata juga. Kak Odi juga sudah main teater dari zaman SMA (hasil ngobrol sama Lisa, juniornya di SMA). Waktu SMA, Kak Odi udah masuk ekskul teater. Dan kata Lisa, Kak Odi biasa-biasa saja orangnya, paling kalau ada acara teater, dia tampil. Begitu...

Tentang latar belakang keluarga dan pendidikan, Kang Abik dan Kak Odi hampir sama. Dua-duanya dari keluarga pesantren. Mantep dah ^^ Dan hal keren yang Kak Odi katakan ketika acara berlangsung adalah,

“Bermain di dalam genre film yang Islami adalah sebuah pilihan. Pilihan saya. Kalau saya main di film-film enggak bener, nanti saya bisa enggak disapa sama paman dan bibi saya di kampung. Semoga saya istiqomah. Aamiin. Insya Allah, semoga istiqomah.”

Saya mengaminkan sambil tersenyum, mengingat harapan saya supaya istiqomah dalam menulis novel religi remaja. Ya, walaupun belum debut dan masih amatir, saya akan tetap berdoa dan berusaha! No body’s perfect, but we can try to be perfect ^^

Kak Odi juga cerita tentang wirausaha yang dirintisnya. Kuliah broadcasting, main film religi, wirausaha ayam bakar. Itulah 3 kesibukannya. Kak Odi mengaku kelelahan, tapi Kak Odi suka melakukannya. Saya juga merasakan itu, menulis dan mengetik di depan laptop itu bikin sakit pinggang, lho. Memikirkan jalan cerita, karakter tokoh, kesinkronan alur dan plot... itu pusing dan melelahkan, lho. Tapi, saya suka dan menikmati itu.

Subhanallah, ya tulisan tentang inspirasi hari ini... Baiklah. Selanjutnya, kita harus jadikan inspirasi-inpirasi di sekitar kita, seperti Kang Abik dan Kak Odi ini menjadi re-charger semangar kita dalam hidup... Hiyaaaat! Saya siap! Saya siap untuk sukses... dunia... dan akhirat... ^^ aamiin (*oh iya, saya punya feeling, sepertinya saya akan bertemu lagi dengan kedua orang itu suatu hari nanti ^^ di sebuah event yang lebih besar lagi, semoga jadi kenyataan, hehe aamiin ^^ )

Sekian tulisan inspiratif kali ini. Semoga bermanfaat, ya ^^

Sabtu, 12 Mei 2012

인도네시아 어린 노래의 운명



노래는 예술 톤을 배열하는 것이다. 어른과 어린들은 노래를 듣기를 좋아한다. 스트레스를 풀기러 한다. 그래서 어른 노래가 있고 어린 노래도 있다. 어린 노래라는 것은 어린에게 특별한 노래이다. 어린 노래와 어른 노래는 특징이 다르다. 어린 노래의 특징은 간단한 가사, 어린의 즐거움 주제과 교육 있는 내용이다. 그래서인도네시아 사람과 음악가들은 어린 노래를 더 신경 쓰고 만들아야 한다.

하지만 요즘은, 특히2000년 대 후, 인도네시아의 어린 노래 가 없어지다. 인도네시아의 어린 노래의 없어지는 원인은 무엇인가? 작가 생각하기에는 원인이 4가지 있다. 첫번째는2000년 대 후에 어린 음악 프로그램은 많이 방송하지 않은다. 2000년 대 전에 어린 음악 프로그램은 많이 방송한다. 에를 들면, 칠룩바, 두니아 아낙, 트랄랄라 트릴릴리, 등 이 있다. 두번째는2000년 대 전에 어린 가수들은 어른이 된서 그의 노래 주제도 변한다. 어린의 즐거움 주제는 어른의 사랑으로 변한다. 그 가수들은 아그네스 모니카, 티나 툰, 조수와, 치키타 메이디, 등 이 있다. 세번째는요즘 어린들이 가수보다 배우가 되고 싶어한다. 돈을 더 벌을 수 있다고 생각한다. 에를 들면, 바임, 니잠, 아멜 카를라, 등 이 있다. 마지막은 음악잗들의 어린 노래 이상주의가 없어진다. 요즘 아이돌 크룹이나 믈라유 벤드 크룹보다 유행하지 않고 돈도 조금 벌을 수 있기 때문이다.

지금은 인도네시아의 어린들은 어린 노래가 없어지기 때문에 어른 노래를 부른다.가사는 간단하지 않고 어린의 즐거움 주제가 아니고 교육 있는 내용도 아니다. 어른 노래들은 대부분 사랑 주제가 있다. 오히려 어린의 나이위해 잘 어울리지 않지? 그래서 인도네시아 사람과 음악가들은 어린 노래를 더 신경 쓰고 만들아야 한다.


Kamis, 10 Mei 2012

Silaturahmi ke Rumah Bu Usmi ^_^ (191111)

Entah dari kapan sebenarnya mau menyimpan semua ini di dalam blog, hehehe. Supaya bisa jadi kenang-kenangan nantinya ketika sudah lulus kuliah... Akhirnya ada waktu juga...^ ^

Angkatan 2009, diundang ke apartemennya salah satu dosen paling oke, Bu Usmi di daerah (diam sesaat, lupa, sebentar, mikir dulu, hehe...) oh, iya... MOI ! Kejadian lucu sudah terjadi ketika rombongan pertama sudah tiba di rumahnya Bu Usmi, ketika naik lift, kami diusir keluar karena tidak punya kartu khusus. OMG! Akhirnya, kami telepon Bu Usmi dan mengadukan semuanya... hahaha!


(kami dan Bu Usmi)

(waktu itu, saya ngidam banget buat bikin kimbab... akhirnya kesampaian ^ ^)

(gulung-gulung~~ asiknya buat kimbab~~)

(sebenarnya yang ini bukan hasil bikinan saya, hehe. ancur begini bikinan zaki... *pis, zak! hehe... bikinan saya bagus lho~)

(yang sudah jadi ada tteokpokki, jabchae, ayam, dll)

(makan! ^ ^)

(sambil ngintip foto walimahannya Bu Usmi :p)

(hari pun berubah menjadi malam... indah banget kalo lihat pemandangan ke luar, 
jadi istana inspirasi banget nih kalo nulis di sini ^ ^)

(sementara itu, archie kita suruh motong mangga, bwahahaha *ketawa raksasa)

(kimchi!)

*semoga ketika saya sudah jadi dosen nanti, juga bisa silaturahmi seperti ini... ^ ^


Minggu, 22 April 2012

Tiga Buah Ramalan Ratu Seondeok


Tiga buah ramalan yang pernah dibuat Ratu Seondeok semasa pemerintahannya di Kerajaan Silla. Ratu Seondeok dikenal sebagai Ratu pertama Korea dan ia adalah seorang wanita yang cerdas dan tajam dalam berpikir. 
Ramalam pertama: suatu hari, penguasa Kerajaan Tang di Cina mengirimkannya sebuah hadiah berisi tiga genggam penuh bibit tanaman semak serta sebuah lukisan bunga berwarna merah, putih, dan ungu. Ratu Seondeok melihat lukisan itu dan kemudian berkata, “Bunga-bunga tanaman semak itu tidak akan mempunyai aroma harum.” Tanaman semak itu kemudian ditanam di kebun istana dan benar saja, tanaman yang dikirimkan penguasa Kerajaan Tang itu tidak beraroma semenjak awal ditanam, mekar bahkan sampai mati.
Ramalan kedua: pada suatu musim dingin di Kolam Pintu Gerbang Permata Hijau yang berlokasi di kuli suci Yeongmyo, tiba-tiba terjadi sebuah kebisingan akibat kumpulan suara katak. Katak-katak tersebut berkuak-kuak selama tiga sampai empat hari lamanya. Hal yang sangat aneh bagi manusia karena pada musim dingin seperti itu seharusnya para katak melakukan proses hibernasi. Masyarakat dan orang-orang istana yang heran dengan kejadian itu pun akhirnya bertanya kepada Sang Ratu apakah gerangan kiranya kejadian itu. Beberapa saat kemudian, ratu dengan tiba-tiba segera memerintahkan dua orang jendral, Al Cheon dan Piltan untuk memimpin dua ribu prajurit ke Lembah Okmun yang terletak di sebelah barat pinggir kota Gyeongju. Mereka ditugaskan untuk mencari dan membunuh pasukan musuh yang bersembunyi di dalam hutan. Para jendral pun melaksanakan tugas mencari pasukan musuh di Lembah Okmun sebagaimana yang telah diamanatkan ratu. Ketika mereka mencapai lembah tersebut, mereka menemukan 500 prajurit Kerajaan Baekje. Pasukan Kerajaan Silla kemudian mengepung dan membunuh mereka. Setelah itu, mereka menemukan seorang Jendral Kerajaan Baekje yang sedang bersembunyi di balik sebuah batu di Gunung Selatan. Jendral tersebut juga dihabisi oleh pasukan Kerajaan Silla sehingga pada akhirnya, mereka dapat mencegah dan bahkan menghabisi sebuah pasukan besar Baekje yang mempunyai rencana akan menyerang Kerajaan Silla.
Ramalan ketiga: suatu hari, ketika Ratu Seondeok berada dalam keadaan sehat walafiat, ia memanggil orang-orang istananya dan berkat kepada mereka, “Aku akan wafat pada suatu tahun, suatu bulan, dan suatu hari. Ketika aku sudah pergi, bakarlah diriku di tengah-tengah Toricheon.” Orang-orang istana bingung karena tidak mengetahui tempat yang disebut ratu itu. Mereka pun bertanya kepada ratu. Ratu kemudian menjawab dengan menunjuk ke sebuah bukit di daerah selatan.
Sewaktu hidupnya, orang-orang istana bertanya kepada Ratu Seondeok bagaimana caranya ia bisa membuat ramalan-ramalan tersebut. Ratu pun menjawab…
Ramalan pertama tentang tanaman semak dan lukisan bunga yang dihadiahkan oleh penguasa Kerajaan Tang: “Di dalam lukisan itu terdapat bunga. Namun, tidak terdapat kupu-kupu. Hal itu menandakan bahwa tanaman itu tidak beraroma. Penguasa Tang telah mengejek keadaanku yang tidak bersuami.” Selain itu, penguasa Kerajaan Tang yang mengirimkan lukisan bunga itu pun diduga mempunyai keahlian melihat masa depan. Tiga tangkai bunga yang terlukis di dalam lukisan tersebut menyimbolkan tiga orang penguasa wanita atau ratu di Korea. Mereka adalah Seondeok, Jindeok, dan Jinseong. Ratu Jindeok menggantikan pemerintahan Ratu Seondeok dan berkuasa antara tahun 647-654 M (kurang lebih selama 7 tahun), serta Ratu Jinseong yang menduduki tahta pada tahun 888 M.
Ramalan kedua tentang kebisingan suara katak di Lembah Okmun: “Untuk katak-katak di Kolam Pintu Gerbang Permata Hijau, mereka seperti para prajurit dan Permata Hijau dapat berarti wanita. Warna wanita adalah putih dan juga dapat menyimbolkan daerah barat (Baekje). Oleh karena itu, aku mengetahui bahwa para penyerang datang dari arah barat (Baekje). Jadi, aku tahu bahwa akan mudah untuk melawan para musuh tersebut.”
Ramalan ketiga tentang amanat untuk membakar jasadnya dan menguburnya di Toricheon ketika ia telah berpulang. Toricheon, sebuah tempat yang disinggung dalam kitab suci agama Buddha. Toricheon dan Sacheonwangcheon adalah dua buah surga dalam agama Buddha. Hal itulah yang membuat orang-orang istana pada waktu itu kebingungan karena tak tahu keberadaan tempat itu. Yang mereka tahu, Toricheon adalah nama sebuah surga. Pada akhirnya, waktulah yang dapat menjawab pertanyaan tentang ramalan ketiga ini. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 656 M, Raja Munmu membuat sebuah kuil bernama Kuil Sacheonwang. Kuil itu juga disebut Kuil untuk Empat Raja Dewa. Kuil Sacheonwang mempresentasikan empat arah mata angin dan maksudnya adalah Buddha dapat ditemukan di keempat arah mata angin itu. Kuil Sacheonwang dibangun di bawah makam Ratu Seondeok. Tidak tepat di bawah kuburannya tetapi di bawah bukit. Pada masa Kerajaan Silla, kuil itu digunakan untuk tempat berdoa. Orang-orang berdoa untuk kekuatan, ketahanan, dan keamanan negeri. Selain itu mereka juga berdoa untuk mengajukan permohonan baik untuk para keluarga kerajaan.

makam Ratu Seondeok di Gyeongju

Sacheonwang

bagian dalam Sacheonwang


Sumber dan referensi:
buku Samguk Yusa ditulis oleh Ilyeon

RANGKUMAN BUKU METODE KARAKTERISASI TELAAH FIKSI KARYA ALBERTINE MINDEROP


Buku Metode Karakterisasi Telaah Fiksi ditulis oleh Albertine Minderop dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia di Jakarta pada tahun 2005. Buku ini berisi lima buah bab dengan isi 178 halaman. Walaupun jumlah halaman terhitung banyak, hal tersebut disebabkan oleh banyaknya kutipan yang ditulis dan penggalan-penggalan cerita yang dianalisis oleh penulis. Pada bab pertama, yaitu Pendahuluan, dijelaskan bahwa fiksi tidak hanya mengacu pada novel atau cerita pendek saja, namun drama maupun puisi naratif juga merupakan salah satu bagan dari fiksi. Drama diketegorikan lebih dekat pada cerita fiksi bila dibandingkan dengan puisi karena drama bersifat fiktif, baik dalam pengertian faktual sehingga alur pada drama pada umumnya hanya rekaan. Pembaca karya fiksi atau mahasiswa yang bergumul dengan bidang sastra kerap kali dirancukan oleh istilah karakter dan karakterisasi. Karakter berarti peran atau watak sedangkan karakterisasi berarti pemeranan atau pelukisan watak.

Bab kedua, yaitu Metode Karakterisasi dalam Telaah Fiksi, dijelaskan bahwa banyak metode yang dapat digunakan dalam sebuah karakterisasi. Pertama adalah metode langsung (telling), yaitu pemaparan yang dilakukan langsung oleh pengarang dan biasanya digunakan oleh kisah-kisah zaman dahulu sehingga pembaca hanya mengandalkan penjelasan yang dilakukan pengarang semata. Pada metode ini, karakterisasi dapat melalui penggunaan nama tokoh, penampilan tokoh, dan tuturan pengarang. Penggunaan nama tokoh dugunakan untuk memperjelas dan mempertajam perwatakan tokoh serta melukiskan kualitas karakteristik yang membedakannya dengan tokoh lain, contohnya Edward Murdstone dalam David Copperfield karya Charles Dickens; (stone sama dengan batu yang bersifat keras) berarti si tokoh memiliki watak yang keras. Dalam suatu karya sastra, penampilan para tokoh memegang peranan penting sehubungan dengan telaah karakterisasi. Penampilan tokoh yang dimaksud misalnya, pakaian apa ayng dikenakannya atau bagaimana ekspresinya. Pemberian rincian tentang cara berpakaian memberikan gambaran tentang pekerjaan, status sosial, dan bahkan derajat harga dirinya. Karakterisasi melalui tuturan pengarang memberikan tempat yang luas dan bebas kepada pengarang atau narator dalam menentukan kisahannya. Pengarang tidak sekadar menggiring perhatian pembaca terhadap komentarnya tentang watak tokoh, tetapi juga mencoba membentuk presepsi pembaca tentang tokoh yang dikisahkannya.

Metode kedua adalah metode tidak langsung (showing): dialog dan tingkah laku, yaitu metode yang mengabaikan kehadiran pengarang sehingga para tokoh dalam karya sastra dapat menampikan diri secara langsung melalui tingkah laku mereka. Pada metode ini, karakterisasi dapat mencakup enam hal, yaitu karakterisasi melalui dialog; lokasi dan situasi percakapan; jatidiri tokoh yang dituju oleh penutur; kualitas mental para tokoh; nada suara, tekanan, dialek, dan kosa kata; dan karakterisasi melalui tindakan para tokoh. Pembaca harus memperhatikan substansi dari suatu dialog. Apakah dialog tersebut sesuatu yang terlalu penting sehingga dapat mengembangkan peristiwa-peristiwa dalam suatu alur atau sebaliknya. Dalam kehidupan nyata, percakapan yang berlangsung secara pribadi dalam suatu kesempatan di malam hari biasanya lebih serius dan lebih jelas daripada percakapan yang terjadi di tempat umum pada siang hari. Situasi dalam percakapan pun dapat mendukung dan memperjelas watak para tokoh yang dibicarakan. Jati diri tokoh yang dituju oleh penutur, penutur di sini berarti tuturan yang disampaikan tokoh dalam cerita, maksudnya tuturan yang diucapkan tokoh tertentu tentang tokoh lainnya. Kualitas mental para tokoh dapat dikenali melalui alunan dan aliran tuturan ketika para tokoh bercakap-cakap. Nada suara, tekanan, dialek, dan kosa kata dapat membantu dan memperjelas karakter para tokoh apabila pembaca mampu mengamati an mencermatinya secara tekun dan sunggh-sungguh. Selain melalui tuturan, watak tokoh dapat diamati melalui tingkah laku. Tokoh dan tingkah laku bagaikan dua sisi pada uang logam. Tampilan ekspresi wajah pun dapat memperlihatkan watak seorang tokoh. Selain itu, terdapat motivasi yang melatarbelakangi perbuatan dan dapat memperjelas gambaran watak para tokoh. Apabila pembaca mampu menelusuri motivasi ini, maka tidak sulit untuk menentukan watak tokoh.

Pada bab ketiga, Metode Karakterisasi Melalui Gaya Bahasa, dijelaskan bahwa karakterisasi dapat melalui Simile, Metafor, Personifikasi, dan Simbol. Pada umumnya, gaya bahasa adalah semacam bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek. Dengan menggunakan gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi lebih segara dan berkesan. Simile adalah perbandingan lansung antara benda-benda yang tidak selalu mirip, biasanya terdapat kata “seperti” atau “laksana”. Metafor adalah suatu gaya bahasa yang membandingkan satu benda dengan benda lainnya secara langsung. Personifikasi adalah suatu proses penggunaan karakteristik manusia untuk benda-benda non-manusia, termasuk abstraksi atau gagasan. Simbol dalam kesusastraan dapat berupa ungkapan tertulis, gambar, benda, latar, peristiwa, dan perwatakan yang biasanya digunakan untuk memberi kesan dan memperkuat makna dengan mengatur dan mempersatukan arti secara keseluruhan.

Bab keempat berjudul Metode Karakterisasi Melalui Sudut Pandang. Pada bab ini dijelaskan bahwa karakterisasi dapat melalui sudut pandang ketiga, sudut pandang pertama, sudut pandang campuran, dan sudut pandang dramatik. Berbicara tentang narator, berarti kita berbicara tentang sudut pandang, yaitu suatu metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang dari mana cerita disampaikan. Sudut pandang ketiga digunakan dalam pengisahan cerita dengan gaya “dia”. Narator atau pencerita adalah seseorang yang menampilkan tokoh-tokoh  cerita dengan menyebut nama, misalnya John, Mary, dan sebagainya atau penggunaan kata ganti seperti: ia, dia, atau mereka. Sudut pandang pertama, teknik ini menggunakan sudut pandang “aku”, seakan-akan pencerita menceritakan pengalamannya sendiri. Pembaca dibawa ke pusat kejadian dengan melihat, merasakan melalui mata dan kesadaran orang yang bersangkutan.sudut pandang campuran terdapat dalam sebuah novel apabila si pengarang menggunakan lebih dari satu teknik pencerita. Penggunaan sudut pandang dramatik atau objektif dalam sebuah cerita tidak disampaikan oleh pencerita melainkan disampaikan oleh para tokoh melalui dialog. Tidak hadirnya pencerita, maka pengisahan disampaikan melalui penampilan para tokoh suatu karya sastra bentuk drama.

Bab terakhir, Arus Kesadaran, dalam bab terakhir ini dijelaskan bahwa arus kesadaran merupakan suatu teknik karakterisasi yang tampil dari kesadaran atau alam bawah sadar mental dan pola pikir manusia yang mencakup pikiran, persepsi, perasaan, dan asosiasi yang mengalir begitu saja. Ada pula bahasan yang mengatakan bahwa arus kesadaran adalah sebuah cara mendramatisasi pikiran, sebuah cara membuat kita mengena apa ayng dirasakan oleh tokoh. Penggunaan teknik arus kesadaran berhubungan dengan waktu naratif atau waktu yang dialami tokoh dalam cerita.




Minggu, 18 Maret 2012

DIALOG KONYOL PEMUDA KOREA

Siang itu, saya dan kedua teman saya sedang duduk-duduk santai di depan gedung 5. Kami bertiga menunggu kelas Bahasa Inggris Akademik. Kelas itu baru akan dimulai sekitar setengah jam lagi. Kami pun mengobol ke sana ke mari. Joget ke sana joget ke sini. Lho? Jangnan![1] Hehehe! Hmm, kami punya alasan kenapa mengambil mata kuliah pilihan itu. Semua itu karena sebuah virus bernama virus linguistik! Virus itu telah menjalar dan menyerang otak sehingga menciptakan sebuah penyakit baru, lebih baru daripada H2N1. Hehehe! Penyakit itu bernama alih kode!

Begini singkatnya, kalau kami ingin menyebut kata ‘study’ maka kata yang akan keluar dari mulut adalah ‘gongbuhada’. Istilah buruknya, kami jadi sedikit amnesia untuk bahasa Inggris karena mempelajari bahasa lain. Oleh karena itu, kami butuh vaksin bahasa Inggris~. Hehehe! Sekali lagi, vaksin! Sebenarnya, menurut dosen linguistik sendiri, alih kode itu memang ada dan normal menyerang para aktivis bahasa. Enggak hanya mahasiswa, bahkan salah satu dosen di jurusan kami mengaku menderita penyakit yang sama! Padahal S1 beliau adalah prodi bahasa Inggris!

“Hanenim[2], saya tolong sembuhkanlah penyakit kami ini...,” doa saya sambil mengangkat tangan bergaya Sulis Cinta Rasul.

Tiba-tiba, kami didatangi oleh sesosok pemuda sipit tampan berkaos abu-abu. Ia datang bersama dua orang Indonesia. Kemudian mereka memberikan semacam flyer berisi undangan acara yang bertajuk Korean Day di gedung 4.

“Hi, (sambil menyodorkan cincin kawin, eh maksudnya si flyer itu) Korean Day...” kata pemuda itu dengan bahasa Inggris.
“Heh? Oh...” sambil melihat-lihat dan membolak-balikkan kertas itu. Siapa tahu ada cincin kawin terselip.             
“Emm, you know... song ‘nobody’? Wonder girls?” tanyanya.

Saya mengangguk perlahan sambil menyunggingkan senyuman maut. Tiba-tiba, di luar perkiraan, pemuda itu malah tak segan-segan menyanyikan lagu tersebut sambil menari seksi. Hahaha! Yang kedua bohong! Setelah mendengar konser kecil-kecilan pemuda itu, akhirnya saya menjawab dengan bahasa Korea saja.

“Oh, arrasseoyo..., (oh, saya tahu...,)”          
“Wuah! Your pronounciation is good!” kata pemuda itu dengan jempol besarnya.
“Anniyeyo. Jal mothamnina..., (enggak, kok. Biasa saja...,)” jawabku kaget.

Loh, kok pemuda itu menjawab dengan bahasa Inggris LAGI? Jelas-jelas saya sudah membalasnya dengan bahasa Korea tadi! Penyakit alih kode makin membuat otak saya konslet. Kepala saya jadi nyut-nyutan. Sumpah!

“Jeon hanguk hagwa. Jae chingu... (saya mahasiswa prodi Korea. Ini teman saya...)” kata saya sambil menunjuk-nunjuk Ajoshi.
“I hang nyeon... (tingkat dua...)” tambah saya.
“Heh? I rang nyeon? I hang nyeon? (heh? Tingkat satu apa tingkat dua?)” tanyanya lagi. Ya ampun, budek ya sepertinya ini orang!
“I hang nyeon! “ kata saya lagi, kini sambil memberi angka dua dengan tangan.
“Oh, what is your majoring?”

GLEKK!

Sumpah budek ya nih orang? Tadi kan saya sudah bilang!!!! Arrrghhh! Untung saja pemuda itu tampan... jadi saya senyum-senyum saja padahal dalam hati sudah mau cekek lehernya saja dari tadi. Mau bilang hanguk hagwa[3] lagi, nanti dia tanya lagi. Daripada nyut-nyutan lagi lebih baik saya jawab saja...

“Korean studies!” nah lho, bingung dah dia sekarang. Apa bedanya Korean studies dengan hanguk hagwa. Hahaha!
“Oh, you know Yayah?” tanyanya lagi.
“Yayah?” inilah salah satu kehebatan bahasa Korea. Kalau enggak tahu apa artinya, katakan saja lagi kepada lawan bicara dengan intonasi naik.
“Uri hubae!” kata Ajoshi (bukan nama sebenarnya) tiba-tiba. Dasar itu anak! Ke mana saja dia??! Bertapa??! Saya sudah pusing tujuh keliling mengobrol dua bahasa dengan pemuda ini sampai otak mendidih. Eeeh, dia baru muncul! Haduh haduh!
"She is my friend..." tambah Ajoshi.
"Ohh..."
“Emm, so you’re BIPA?” tanya saya. BIPA adalah program kursus bahasa Indonesia untuk orang asing di kampus. Akhir-akhir ini kebanyakan orang Korea yang datang belajar ke kampus. Jadi, di kampus serasa di Korea. Hehehe!
“BI...?? what??”

Nah lho, sekarang jadi saya yang bingung bagaimana menjelaskan tentang BIPA kepada pemuda ini. Seperti pemadam kebakaran saja, bagian lain otak saya memberikan sinyal darurat tit-tut-tit-tut. Itu suara sinyal darurat apa suara kentut yang ditahan? Hemm, saya segera menoleh ke Ajoshi, mengedip-ngedipkan mata meminta bantuan. Gyaaa! Anak itu sekali lagi enggak menghiraukan saya. Ya, ampun! Anak itu malah terlihat asyik mengobrol bersama Lao Tse (bukan nama sebenarnya juga). Kalau Lao Tse, dia bukan anak prodi Korea, melainkan prodi Cina. Jadi, saya enggak bisa mengharap banyak darinya. Akhirnya, saya phogihae[4] dan bertanya kepada salah satu teman pemuda itu yang kelihatannya orang Indonesia.

“Mbak! Ini acara anak BIPA ya?”
“Oh, bukan... ini acara mahasiswa Korea yang datang ke Indonesia...,”
“You have to come!” kata pemuda berkaos abu-abu itu kemudian.
“Eh? Ne... ne..., (eh? iya... iya...,)”
Saya hanya bisa mengatakan itu sambil manggut-manggut seperti burung merpati. Sebenarnya saya ingin menanyakan namanya, tapi saya bingung. Maklum, otak saya masih konslet. Kami senyam senyum saja berdua seperti orang gila. Ajoshi yang duduk di depan benar-benar keterlaluan! Akhirnya, pemuda itu pun pamit dan pergi sambil tersenyum manis. Hehehe! Dari rona kedua matanya, terlihat ia sangat mengharapkan kedatangan diri saya yang cantik dan menggemaskan ini. Hahaha!

Beberapa saat kemudian, teman saya yang lain, sebut saja Megi muncul. Ia datang kemudian melihat kertas flyer di tangan saya. Megi memberi tahu bahwa kata dosen kami, anak prodi Korea wajib datang ke acara itu. Singkat cerita, kami semua datang ke acara itu. Saya sempat berfoto dengan pemuda berkaos abu-abu yang sukses membuat otak saya konslet itu. Kemudian, ia menyampaikan terima kasihnya karena sudah menyempatkan datang. Hehehe...








[1] Bercanda!
[2] Ya Allah
[3] Prodi Korea
[4] Menyerah

Sabtu, 04 Februari 2012

Hallyu: Drama Korea


Akhir-akhir ini, dunia pertelevisian Indonesia diserang oleh banyak serial drama dari manca negara, khususnya Korea Selatan. Drama menjadi salah satu jalur Hallyu (gelombang Korea) yang menghasilkan banyak pendapatan bagi Korea Selatan. Drama-drama yang berasal dari Korea Selatan mempunyai banyak genre berbeda dibandingkan drama-drama dari Indonesia sehingga lebih menarik perhatian masyarakat. Selain itu, munculnya para pemain yang berpenampilan menarik juga menjadi salah satu faktor mengapa drama-drama negara ginseng tersebut diminati masyarakat.


Perjalanan drama di Korea telah menggoreskan tinta sejarah yang panjang. Mulai dari zaman kuno sampai zaman modern sekarang ini, drama menjadi salah satu bagian yang penting bagi kehidupan bermasyarakat di Korea.

Pada masa lalu, drama berupa pertunjukkan tari dan musik sederhana yang dipentaskan di tanah lapang saja yang setiap orang dapat datang untuk melihat drama yang sedang dipentaskan. Kemudian pementasan drama beralih ke teater sehingga setiap orang yang ingin menonton pementasan drama tersebut harus mengeluarkan uang untuk membayar tiket. Pada masa kini, teknologi telah berkembang pesat sehingga drama pun banyak diputar di televisi, internet, dan ada pula yang sudah disalin dalam bentuk CD atau DVD. Drama yang diproduksi dari dalam negeri maupun luar negeri dapat dengan mudah didapatkan dan dinikmati.

Salah satu negara yang terkena dampak Hallyu adalah Indonesia. Tepatnya pada tahun 2006, drama Korea pertama kali masuk ke dunia pertelevisian Indonesia. Drama tersebut adalah Winter Sonata. Drama ini begitu memikat hati masyarakat Indonesia dan menjadi pintu gerbang bagi drama-drama Korea lainnya untuk masuk ke Indonesia.

Menurut pendapat penulis, setidaknya ada 5 hal yang membuat drama Korea diminati masyarakat Indonesia, yaitu
a.       tema yang beragam
b.      narasi atau cerita yang menarik
c.       penokohan yang menarik
d.      aktor dan aktris yang rupawan
e.       antusias masyarakat

Di Indonesia sebenarnya juga terdapat drama, banyak drama. Namun, biasanya lebih akrab disebut dengan nama ‘sinetron’ daripada ‘drama’. Tema yang diusung oleh sinetron-sinetron Indonesia biasanya seragam karena terpengaruh oleh tuntutan pasar. Tema yang diangkat biasanya seputar kehidupan keluarga, perkantoran, dan cinta antara dua insan manusia. Bisa dikatakan bahwa tema sinetron-sinetron di Indonesia tidak beragam. Korea membawa drama-drama yang temanya beragam sehingga lebih banyak diminati masyarakat Indonesia. Dari segi episode pun berbeda. Sinetron di Indonesia dapat mencapai jumlah ratusan sedangkan drama Korea lebih sedikit, sekitar 20 episode dan untuk drama kolosal dapat mencapai 60an episode. Namun, tetap labih sedikit dibandingkan sinetron Indonesia.

Hallyu semakin merajalela di Indonesia. Kini, masyarakat, khususnya anak muda, banyak yang menonton drama Korea karena aktor kesayangannya dari kelompok idola tertentu bermain di dalamnya. Jadi, mereka tidak menonton karena tertarik dengan ceritanya, namun karena terpikat oleh aktor dan aktris yang bermain di dalamnya.

2006년 때, 한국의 드라마는 인도네시아에 들어왔다고 시작했다. 그 드라마의 목적은 윈터 소나타이다. 인도네시아 사람들 은윈터 소나타 드라마를 아주 좋아한다. 그 2006년 은윈터 소나타 드라마는 다른한국의 드라마를 위해 인도네시아으로 들어오는 큰 문처럼 비슷한다.

우리 의견의 하면 한국의 드라마들은 인도네시아에 왜 많이 유명한 이유가 5 가지이다.
ㄱ.  다양한 주제
ㄴ.  재미있는 이야기
ㄷ.  재미있는 특성짓기
ㄹ.  멋있는 배우들
ㅁ.  관객의 큰 열심

Sumber Referensi: Tu-hyon, Yi, dkk. Korean Performing Arts. Seoul: Jipmoondang Publishing Company, 1997.