Minggu, 22 April 2012

Tiga Buah Ramalan Ratu Seondeok


Tiga buah ramalan yang pernah dibuat Ratu Seondeok semasa pemerintahannya di Kerajaan Silla. Ratu Seondeok dikenal sebagai Ratu pertama Korea dan ia adalah seorang wanita yang cerdas dan tajam dalam berpikir. 
Ramalam pertama: suatu hari, penguasa Kerajaan Tang di Cina mengirimkannya sebuah hadiah berisi tiga genggam penuh bibit tanaman semak serta sebuah lukisan bunga berwarna merah, putih, dan ungu. Ratu Seondeok melihat lukisan itu dan kemudian berkata, “Bunga-bunga tanaman semak itu tidak akan mempunyai aroma harum.” Tanaman semak itu kemudian ditanam di kebun istana dan benar saja, tanaman yang dikirimkan penguasa Kerajaan Tang itu tidak beraroma semenjak awal ditanam, mekar bahkan sampai mati.
Ramalan kedua: pada suatu musim dingin di Kolam Pintu Gerbang Permata Hijau yang berlokasi di kuli suci Yeongmyo, tiba-tiba terjadi sebuah kebisingan akibat kumpulan suara katak. Katak-katak tersebut berkuak-kuak selama tiga sampai empat hari lamanya. Hal yang sangat aneh bagi manusia karena pada musim dingin seperti itu seharusnya para katak melakukan proses hibernasi. Masyarakat dan orang-orang istana yang heran dengan kejadian itu pun akhirnya bertanya kepada Sang Ratu apakah gerangan kiranya kejadian itu. Beberapa saat kemudian, ratu dengan tiba-tiba segera memerintahkan dua orang jendral, Al Cheon dan Piltan untuk memimpin dua ribu prajurit ke Lembah Okmun yang terletak di sebelah barat pinggir kota Gyeongju. Mereka ditugaskan untuk mencari dan membunuh pasukan musuh yang bersembunyi di dalam hutan. Para jendral pun melaksanakan tugas mencari pasukan musuh di Lembah Okmun sebagaimana yang telah diamanatkan ratu. Ketika mereka mencapai lembah tersebut, mereka menemukan 500 prajurit Kerajaan Baekje. Pasukan Kerajaan Silla kemudian mengepung dan membunuh mereka. Setelah itu, mereka menemukan seorang Jendral Kerajaan Baekje yang sedang bersembunyi di balik sebuah batu di Gunung Selatan. Jendral tersebut juga dihabisi oleh pasukan Kerajaan Silla sehingga pada akhirnya, mereka dapat mencegah dan bahkan menghabisi sebuah pasukan besar Baekje yang mempunyai rencana akan menyerang Kerajaan Silla.
Ramalan ketiga: suatu hari, ketika Ratu Seondeok berada dalam keadaan sehat walafiat, ia memanggil orang-orang istananya dan berkat kepada mereka, “Aku akan wafat pada suatu tahun, suatu bulan, dan suatu hari. Ketika aku sudah pergi, bakarlah diriku di tengah-tengah Toricheon.” Orang-orang istana bingung karena tidak mengetahui tempat yang disebut ratu itu. Mereka pun bertanya kepada ratu. Ratu kemudian menjawab dengan menunjuk ke sebuah bukit di daerah selatan.
Sewaktu hidupnya, orang-orang istana bertanya kepada Ratu Seondeok bagaimana caranya ia bisa membuat ramalan-ramalan tersebut. Ratu pun menjawab…
Ramalan pertama tentang tanaman semak dan lukisan bunga yang dihadiahkan oleh penguasa Kerajaan Tang: “Di dalam lukisan itu terdapat bunga. Namun, tidak terdapat kupu-kupu. Hal itu menandakan bahwa tanaman itu tidak beraroma. Penguasa Tang telah mengejek keadaanku yang tidak bersuami.” Selain itu, penguasa Kerajaan Tang yang mengirimkan lukisan bunga itu pun diduga mempunyai keahlian melihat masa depan. Tiga tangkai bunga yang terlukis di dalam lukisan tersebut menyimbolkan tiga orang penguasa wanita atau ratu di Korea. Mereka adalah Seondeok, Jindeok, dan Jinseong. Ratu Jindeok menggantikan pemerintahan Ratu Seondeok dan berkuasa antara tahun 647-654 M (kurang lebih selama 7 tahun), serta Ratu Jinseong yang menduduki tahta pada tahun 888 M.
Ramalan kedua tentang kebisingan suara katak di Lembah Okmun: “Untuk katak-katak di Kolam Pintu Gerbang Permata Hijau, mereka seperti para prajurit dan Permata Hijau dapat berarti wanita. Warna wanita adalah putih dan juga dapat menyimbolkan daerah barat (Baekje). Oleh karena itu, aku mengetahui bahwa para penyerang datang dari arah barat (Baekje). Jadi, aku tahu bahwa akan mudah untuk melawan para musuh tersebut.”
Ramalan ketiga tentang amanat untuk membakar jasadnya dan menguburnya di Toricheon ketika ia telah berpulang. Toricheon, sebuah tempat yang disinggung dalam kitab suci agama Buddha. Toricheon dan Sacheonwangcheon adalah dua buah surga dalam agama Buddha. Hal itulah yang membuat orang-orang istana pada waktu itu kebingungan karena tak tahu keberadaan tempat itu. Yang mereka tahu, Toricheon adalah nama sebuah surga. Pada akhirnya, waktulah yang dapat menjawab pertanyaan tentang ramalan ketiga ini. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 656 M, Raja Munmu membuat sebuah kuil bernama Kuil Sacheonwang. Kuil itu juga disebut Kuil untuk Empat Raja Dewa. Kuil Sacheonwang mempresentasikan empat arah mata angin dan maksudnya adalah Buddha dapat ditemukan di keempat arah mata angin itu. Kuil Sacheonwang dibangun di bawah makam Ratu Seondeok. Tidak tepat di bawah kuburannya tetapi di bawah bukit. Pada masa Kerajaan Silla, kuil itu digunakan untuk tempat berdoa. Orang-orang berdoa untuk kekuatan, ketahanan, dan keamanan negeri. Selain itu mereka juga berdoa untuk mengajukan permohonan baik untuk para keluarga kerajaan.

makam Ratu Seondeok di Gyeongju

Sacheonwang

bagian dalam Sacheonwang


Sumber dan referensi:
buku Samguk Yusa ditulis oleh Ilyeon

RANGKUMAN BUKU METODE KARAKTERISASI TELAAH FIKSI KARYA ALBERTINE MINDEROP


Buku Metode Karakterisasi Telaah Fiksi ditulis oleh Albertine Minderop dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia di Jakarta pada tahun 2005. Buku ini berisi lima buah bab dengan isi 178 halaman. Walaupun jumlah halaman terhitung banyak, hal tersebut disebabkan oleh banyaknya kutipan yang ditulis dan penggalan-penggalan cerita yang dianalisis oleh penulis. Pada bab pertama, yaitu Pendahuluan, dijelaskan bahwa fiksi tidak hanya mengacu pada novel atau cerita pendek saja, namun drama maupun puisi naratif juga merupakan salah satu bagan dari fiksi. Drama diketegorikan lebih dekat pada cerita fiksi bila dibandingkan dengan puisi karena drama bersifat fiktif, baik dalam pengertian faktual sehingga alur pada drama pada umumnya hanya rekaan. Pembaca karya fiksi atau mahasiswa yang bergumul dengan bidang sastra kerap kali dirancukan oleh istilah karakter dan karakterisasi. Karakter berarti peran atau watak sedangkan karakterisasi berarti pemeranan atau pelukisan watak.

Bab kedua, yaitu Metode Karakterisasi dalam Telaah Fiksi, dijelaskan bahwa banyak metode yang dapat digunakan dalam sebuah karakterisasi. Pertama adalah metode langsung (telling), yaitu pemaparan yang dilakukan langsung oleh pengarang dan biasanya digunakan oleh kisah-kisah zaman dahulu sehingga pembaca hanya mengandalkan penjelasan yang dilakukan pengarang semata. Pada metode ini, karakterisasi dapat melalui penggunaan nama tokoh, penampilan tokoh, dan tuturan pengarang. Penggunaan nama tokoh dugunakan untuk memperjelas dan mempertajam perwatakan tokoh serta melukiskan kualitas karakteristik yang membedakannya dengan tokoh lain, contohnya Edward Murdstone dalam David Copperfield karya Charles Dickens; (stone sama dengan batu yang bersifat keras) berarti si tokoh memiliki watak yang keras. Dalam suatu karya sastra, penampilan para tokoh memegang peranan penting sehubungan dengan telaah karakterisasi. Penampilan tokoh yang dimaksud misalnya, pakaian apa ayng dikenakannya atau bagaimana ekspresinya. Pemberian rincian tentang cara berpakaian memberikan gambaran tentang pekerjaan, status sosial, dan bahkan derajat harga dirinya. Karakterisasi melalui tuturan pengarang memberikan tempat yang luas dan bebas kepada pengarang atau narator dalam menentukan kisahannya. Pengarang tidak sekadar menggiring perhatian pembaca terhadap komentarnya tentang watak tokoh, tetapi juga mencoba membentuk presepsi pembaca tentang tokoh yang dikisahkannya.

Metode kedua adalah metode tidak langsung (showing): dialog dan tingkah laku, yaitu metode yang mengabaikan kehadiran pengarang sehingga para tokoh dalam karya sastra dapat menampikan diri secara langsung melalui tingkah laku mereka. Pada metode ini, karakterisasi dapat mencakup enam hal, yaitu karakterisasi melalui dialog; lokasi dan situasi percakapan; jatidiri tokoh yang dituju oleh penutur; kualitas mental para tokoh; nada suara, tekanan, dialek, dan kosa kata; dan karakterisasi melalui tindakan para tokoh. Pembaca harus memperhatikan substansi dari suatu dialog. Apakah dialog tersebut sesuatu yang terlalu penting sehingga dapat mengembangkan peristiwa-peristiwa dalam suatu alur atau sebaliknya. Dalam kehidupan nyata, percakapan yang berlangsung secara pribadi dalam suatu kesempatan di malam hari biasanya lebih serius dan lebih jelas daripada percakapan yang terjadi di tempat umum pada siang hari. Situasi dalam percakapan pun dapat mendukung dan memperjelas watak para tokoh yang dibicarakan. Jati diri tokoh yang dituju oleh penutur, penutur di sini berarti tuturan yang disampaikan tokoh dalam cerita, maksudnya tuturan yang diucapkan tokoh tertentu tentang tokoh lainnya. Kualitas mental para tokoh dapat dikenali melalui alunan dan aliran tuturan ketika para tokoh bercakap-cakap. Nada suara, tekanan, dialek, dan kosa kata dapat membantu dan memperjelas karakter para tokoh apabila pembaca mampu mengamati an mencermatinya secara tekun dan sunggh-sungguh. Selain melalui tuturan, watak tokoh dapat diamati melalui tingkah laku. Tokoh dan tingkah laku bagaikan dua sisi pada uang logam. Tampilan ekspresi wajah pun dapat memperlihatkan watak seorang tokoh. Selain itu, terdapat motivasi yang melatarbelakangi perbuatan dan dapat memperjelas gambaran watak para tokoh. Apabila pembaca mampu menelusuri motivasi ini, maka tidak sulit untuk menentukan watak tokoh.

Pada bab ketiga, Metode Karakterisasi Melalui Gaya Bahasa, dijelaskan bahwa karakterisasi dapat melalui Simile, Metafor, Personifikasi, dan Simbol. Pada umumnya, gaya bahasa adalah semacam bahasa yang bermula dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek. Dengan menggunakan gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi lebih segara dan berkesan. Simile adalah perbandingan lansung antara benda-benda yang tidak selalu mirip, biasanya terdapat kata “seperti” atau “laksana”. Metafor adalah suatu gaya bahasa yang membandingkan satu benda dengan benda lainnya secara langsung. Personifikasi adalah suatu proses penggunaan karakteristik manusia untuk benda-benda non-manusia, termasuk abstraksi atau gagasan. Simbol dalam kesusastraan dapat berupa ungkapan tertulis, gambar, benda, latar, peristiwa, dan perwatakan yang biasanya digunakan untuk memberi kesan dan memperkuat makna dengan mengatur dan mempersatukan arti secara keseluruhan.

Bab keempat berjudul Metode Karakterisasi Melalui Sudut Pandang. Pada bab ini dijelaskan bahwa karakterisasi dapat melalui sudut pandang ketiga, sudut pandang pertama, sudut pandang campuran, dan sudut pandang dramatik. Berbicara tentang narator, berarti kita berbicara tentang sudut pandang, yaitu suatu metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang dari mana cerita disampaikan. Sudut pandang ketiga digunakan dalam pengisahan cerita dengan gaya “dia”. Narator atau pencerita adalah seseorang yang menampilkan tokoh-tokoh  cerita dengan menyebut nama, misalnya John, Mary, dan sebagainya atau penggunaan kata ganti seperti: ia, dia, atau mereka. Sudut pandang pertama, teknik ini menggunakan sudut pandang “aku”, seakan-akan pencerita menceritakan pengalamannya sendiri. Pembaca dibawa ke pusat kejadian dengan melihat, merasakan melalui mata dan kesadaran orang yang bersangkutan.sudut pandang campuran terdapat dalam sebuah novel apabila si pengarang menggunakan lebih dari satu teknik pencerita. Penggunaan sudut pandang dramatik atau objektif dalam sebuah cerita tidak disampaikan oleh pencerita melainkan disampaikan oleh para tokoh melalui dialog. Tidak hadirnya pencerita, maka pengisahan disampaikan melalui penampilan para tokoh suatu karya sastra bentuk drama.

Bab terakhir, Arus Kesadaran, dalam bab terakhir ini dijelaskan bahwa arus kesadaran merupakan suatu teknik karakterisasi yang tampil dari kesadaran atau alam bawah sadar mental dan pola pikir manusia yang mencakup pikiran, persepsi, perasaan, dan asosiasi yang mengalir begitu saja. Ada pula bahasan yang mengatakan bahwa arus kesadaran adalah sebuah cara mendramatisasi pikiran, sebuah cara membuat kita mengena apa ayng dirasakan oleh tokoh. Penggunaan teknik arus kesadaran berhubungan dengan waktu naratif atau waktu yang dialami tokoh dalam cerita.




Minggu, 18 Maret 2012

DIALOG KONYOL PEMUDA KOREA

Siang itu, saya dan kedua teman saya sedang duduk-duduk santai di depan gedung 5. Kami bertiga menunggu kelas Bahasa Inggris Akademik. Kelas itu baru akan dimulai sekitar setengah jam lagi. Kami pun mengobol ke sana ke mari. Joget ke sana joget ke sini. Lho? Jangnan![1] Hehehe! Hmm, kami punya alasan kenapa mengambil mata kuliah pilihan itu. Semua itu karena sebuah virus bernama virus linguistik! Virus itu telah menjalar dan menyerang otak sehingga menciptakan sebuah penyakit baru, lebih baru daripada H2N1. Hehehe! Penyakit itu bernama alih kode!

Begini singkatnya, kalau kami ingin menyebut kata ‘study’ maka kata yang akan keluar dari mulut adalah ‘gongbuhada’. Istilah buruknya, kami jadi sedikit amnesia untuk bahasa Inggris karena mempelajari bahasa lain. Oleh karena itu, kami butuh vaksin bahasa Inggris~. Hehehe! Sekali lagi, vaksin! Sebenarnya, menurut dosen linguistik sendiri, alih kode itu memang ada dan normal menyerang para aktivis bahasa. Enggak hanya mahasiswa, bahkan salah satu dosen di jurusan kami mengaku menderita penyakit yang sama! Padahal S1 beliau adalah prodi bahasa Inggris!

“Hanenim[2], saya tolong sembuhkanlah penyakit kami ini...,” doa saya sambil mengangkat tangan bergaya Sulis Cinta Rasul.

Tiba-tiba, kami didatangi oleh sesosok pemuda sipit tampan berkaos abu-abu. Ia datang bersama dua orang Indonesia. Kemudian mereka memberikan semacam flyer berisi undangan acara yang bertajuk Korean Day di gedung 4.

“Hi, (sambil menyodorkan cincin kawin, eh maksudnya si flyer itu) Korean Day...” kata pemuda itu dengan bahasa Inggris.
“Heh? Oh...” sambil melihat-lihat dan membolak-balikkan kertas itu. Siapa tahu ada cincin kawin terselip.             
“Emm, you know... song ‘nobody’? Wonder girls?” tanyanya.

Saya mengangguk perlahan sambil menyunggingkan senyuman maut. Tiba-tiba, di luar perkiraan, pemuda itu malah tak segan-segan menyanyikan lagu tersebut sambil menari seksi. Hahaha! Yang kedua bohong! Setelah mendengar konser kecil-kecilan pemuda itu, akhirnya saya menjawab dengan bahasa Korea saja.

“Oh, arrasseoyo..., (oh, saya tahu...,)”          
“Wuah! Your pronounciation is good!” kata pemuda itu dengan jempol besarnya.
“Anniyeyo. Jal mothamnina..., (enggak, kok. Biasa saja...,)” jawabku kaget.

Loh, kok pemuda itu menjawab dengan bahasa Inggris LAGI? Jelas-jelas saya sudah membalasnya dengan bahasa Korea tadi! Penyakit alih kode makin membuat otak saya konslet. Kepala saya jadi nyut-nyutan. Sumpah!

“Jeon hanguk hagwa. Jae chingu... (saya mahasiswa prodi Korea. Ini teman saya...)” kata saya sambil menunjuk-nunjuk Ajoshi.
“I hang nyeon... (tingkat dua...)” tambah saya.
“Heh? I rang nyeon? I hang nyeon? (heh? Tingkat satu apa tingkat dua?)” tanyanya lagi. Ya ampun, budek ya sepertinya ini orang!
“I hang nyeon! “ kata saya lagi, kini sambil memberi angka dua dengan tangan.
“Oh, what is your majoring?”

GLEKK!

Sumpah budek ya nih orang? Tadi kan saya sudah bilang!!!! Arrrghhh! Untung saja pemuda itu tampan... jadi saya senyum-senyum saja padahal dalam hati sudah mau cekek lehernya saja dari tadi. Mau bilang hanguk hagwa[3] lagi, nanti dia tanya lagi. Daripada nyut-nyutan lagi lebih baik saya jawab saja...

“Korean studies!” nah lho, bingung dah dia sekarang. Apa bedanya Korean studies dengan hanguk hagwa. Hahaha!
“Oh, you know Yayah?” tanyanya lagi.
“Yayah?” inilah salah satu kehebatan bahasa Korea. Kalau enggak tahu apa artinya, katakan saja lagi kepada lawan bicara dengan intonasi naik.
“Uri hubae!” kata Ajoshi (bukan nama sebenarnya) tiba-tiba. Dasar itu anak! Ke mana saja dia??! Bertapa??! Saya sudah pusing tujuh keliling mengobrol dua bahasa dengan pemuda ini sampai otak mendidih. Eeeh, dia baru muncul! Haduh haduh!
"She is my friend..." tambah Ajoshi.
"Ohh..."
“Emm, so you’re BIPA?” tanya saya. BIPA adalah program kursus bahasa Indonesia untuk orang asing di kampus. Akhir-akhir ini kebanyakan orang Korea yang datang belajar ke kampus. Jadi, di kampus serasa di Korea. Hehehe!
“BI...?? what??”

Nah lho, sekarang jadi saya yang bingung bagaimana menjelaskan tentang BIPA kepada pemuda ini. Seperti pemadam kebakaran saja, bagian lain otak saya memberikan sinyal darurat tit-tut-tit-tut. Itu suara sinyal darurat apa suara kentut yang ditahan? Hemm, saya segera menoleh ke Ajoshi, mengedip-ngedipkan mata meminta bantuan. Gyaaa! Anak itu sekali lagi enggak menghiraukan saya. Ya, ampun! Anak itu malah terlihat asyik mengobrol bersama Lao Tse (bukan nama sebenarnya juga). Kalau Lao Tse, dia bukan anak prodi Korea, melainkan prodi Cina. Jadi, saya enggak bisa mengharap banyak darinya. Akhirnya, saya phogihae[4] dan bertanya kepada salah satu teman pemuda itu yang kelihatannya orang Indonesia.

“Mbak! Ini acara anak BIPA ya?”
“Oh, bukan... ini acara mahasiswa Korea yang datang ke Indonesia...,”
“You have to come!” kata pemuda berkaos abu-abu itu kemudian.
“Eh? Ne... ne..., (eh? iya... iya...,)”
Saya hanya bisa mengatakan itu sambil manggut-manggut seperti burung merpati. Sebenarnya saya ingin menanyakan namanya, tapi saya bingung. Maklum, otak saya masih konslet. Kami senyam senyum saja berdua seperti orang gila. Ajoshi yang duduk di depan benar-benar keterlaluan! Akhirnya, pemuda itu pun pamit dan pergi sambil tersenyum manis. Hehehe! Dari rona kedua matanya, terlihat ia sangat mengharapkan kedatangan diri saya yang cantik dan menggemaskan ini. Hahaha!

Beberapa saat kemudian, teman saya yang lain, sebut saja Megi muncul. Ia datang kemudian melihat kertas flyer di tangan saya. Megi memberi tahu bahwa kata dosen kami, anak prodi Korea wajib datang ke acara itu. Singkat cerita, kami semua datang ke acara itu. Saya sempat berfoto dengan pemuda berkaos abu-abu yang sukses membuat otak saya konslet itu. Kemudian, ia menyampaikan terima kasihnya karena sudah menyempatkan datang. Hehehe...








[1] Bercanda!
[2] Ya Allah
[3] Prodi Korea
[4] Menyerah

Sabtu, 04 Februari 2012

Hallyu: Drama Korea


Akhir-akhir ini, dunia pertelevisian Indonesia diserang oleh banyak serial drama dari manca negara, khususnya Korea Selatan. Drama menjadi salah satu jalur Hallyu (gelombang Korea) yang menghasilkan banyak pendapatan bagi Korea Selatan. Drama-drama yang berasal dari Korea Selatan mempunyai banyak genre berbeda dibandingkan drama-drama dari Indonesia sehingga lebih menarik perhatian masyarakat. Selain itu, munculnya para pemain yang berpenampilan menarik juga menjadi salah satu faktor mengapa drama-drama negara ginseng tersebut diminati masyarakat.


Perjalanan drama di Korea telah menggoreskan tinta sejarah yang panjang. Mulai dari zaman kuno sampai zaman modern sekarang ini, drama menjadi salah satu bagian yang penting bagi kehidupan bermasyarakat di Korea.

Pada masa lalu, drama berupa pertunjukkan tari dan musik sederhana yang dipentaskan di tanah lapang saja yang setiap orang dapat datang untuk melihat drama yang sedang dipentaskan. Kemudian pementasan drama beralih ke teater sehingga setiap orang yang ingin menonton pementasan drama tersebut harus mengeluarkan uang untuk membayar tiket. Pada masa kini, teknologi telah berkembang pesat sehingga drama pun banyak diputar di televisi, internet, dan ada pula yang sudah disalin dalam bentuk CD atau DVD. Drama yang diproduksi dari dalam negeri maupun luar negeri dapat dengan mudah didapatkan dan dinikmati.

Salah satu negara yang terkena dampak Hallyu adalah Indonesia. Tepatnya pada tahun 2006, drama Korea pertama kali masuk ke dunia pertelevisian Indonesia. Drama tersebut adalah Winter Sonata. Drama ini begitu memikat hati masyarakat Indonesia dan menjadi pintu gerbang bagi drama-drama Korea lainnya untuk masuk ke Indonesia.

Menurut pendapat penulis, setidaknya ada 5 hal yang membuat drama Korea diminati masyarakat Indonesia, yaitu
a.       tema yang beragam
b.      narasi atau cerita yang menarik
c.       penokohan yang menarik
d.      aktor dan aktris yang rupawan
e.       antusias masyarakat

Di Indonesia sebenarnya juga terdapat drama, banyak drama. Namun, biasanya lebih akrab disebut dengan nama ‘sinetron’ daripada ‘drama’. Tema yang diusung oleh sinetron-sinetron Indonesia biasanya seragam karena terpengaruh oleh tuntutan pasar. Tema yang diangkat biasanya seputar kehidupan keluarga, perkantoran, dan cinta antara dua insan manusia. Bisa dikatakan bahwa tema sinetron-sinetron di Indonesia tidak beragam. Korea membawa drama-drama yang temanya beragam sehingga lebih banyak diminati masyarakat Indonesia. Dari segi episode pun berbeda. Sinetron di Indonesia dapat mencapai jumlah ratusan sedangkan drama Korea lebih sedikit, sekitar 20 episode dan untuk drama kolosal dapat mencapai 60an episode. Namun, tetap labih sedikit dibandingkan sinetron Indonesia.

Hallyu semakin merajalela di Indonesia. Kini, masyarakat, khususnya anak muda, banyak yang menonton drama Korea karena aktor kesayangannya dari kelompok idola tertentu bermain di dalamnya. Jadi, mereka tidak menonton karena tertarik dengan ceritanya, namun karena terpikat oleh aktor dan aktris yang bermain di dalamnya.

2006년 때, 한국의 드라마는 인도네시아에 들어왔다고 시작했다. 그 드라마의 목적은 윈터 소나타이다. 인도네시아 사람들 은윈터 소나타 드라마를 아주 좋아한다. 그 2006년 은윈터 소나타 드라마는 다른한국의 드라마를 위해 인도네시아으로 들어오는 큰 문처럼 비슷한다.

우리 의견의 하면 한국의 드라마들은 인도네시아에 왜 많이 유명한 이유가 5 가지이다.
ㄱ.  다양한 주제
ㄴ.  재미있는 이야기
ㄷ.  재미있는 특성짓기
ㄹ.  멋있는 배우들
ㅁ.  관객의 큰 열심

Sumber Referensi: Tu-hyon, Yi, dkk. Korean Performing Arts. Seoul: Jipmoondang Publishing Company, 1997.  


Rabu, 09 November 2011

Syahrini Mencari Jodoh

CERPEN WRITING SPOT FORMASI *wehehe
TEMA: PENOKOHAN

Siang yang amat terik. Wiro Sableng sedang membasuh wajahnya yang kepanasan di pinggir sungai. Sejenak ia terdiam memandangi wajahnya yang hitam, kedua matanya yang besar, hidungnya yang pesek, dan rambutnya yang panjang dan lepek karena keringat. Dalam hati, ia berdecak kagum sendiri melihat ketampanan wajahnya di dalam bayangan air. Seusai istirahat dari latihan bela diri itu, Wiro Sableng segera membersihkan dirinya dan bersiap-siap kembali ke kampung.

Di tengah pasar, terdapat kerumunan yang terlihat sedang asyik memperbincangkan sesuatu. Wiro Sableng pun tertarik untuk mendatang mereka. Ternyata, mereka sedang ribut memperbincangkan sayembara calon suami Syahrini. Menurut flyer-flyer yang dibagikan ke seluruh penduduk kampung, Syahrini Sang Penyanyi Terkenal Seantero Kampung itu sedang mencari seorang pemuda perkasa yang akan ia jadikan sebagai suami. Siapa yang tidak mengenal Syahrini yang berparas memesona sejuta Adam di kampung itu. Wiro Sableng pun kemudian meminta restu Nenek Guru Sinto Gendeng di gunung. Mendengar niatan muridnya, Sinto Gendeng terkekeh tidak percaya dan berkata bahwa pemuda itu tidak akan berhasil. Namun, karena tngkat kepercayaan dirinya yang sangat tinggi, Wiro Sableng tidak menghiraukannya.

Beberapa hari kemudian, Wiro Sableng mendaftarkan diri di balai desa dan berniat penuh untuk mengikuti semua ujian yang diadakan panitia. Ujian pertama adalah ujian ketangkasan dan bela diri. Wiro Sableng tertawa terbahak-bahak. Ia telah bertahun-tahun berlatih bela diri dengan nenek gurunya sehingga ia berpikir pasti dapat menyelesaikannya dengan mudah. Wiro Sableng mulai berkonsentrasi mengumpulkan tenaga dalamnya. Sementara itu, beberapa meter di dekatnya, Hulk Si Hijau dengan kekuatan supernya dengan cepat menghancurkan sebongkah besar batu di hadapannya. Tidak hanya Hulk, Hyeon Bin pun yang notabenenya sebagai pemain teater kampung, sukses menghancurkan bongkahan batu yang lain dengan granat. Wiro Sableng kalah cepat.

Hari berikutnya, ujian kesenian. Para peserta sayembara diharuskan untuk mempersembahkan sebuah pertunjukan seni, entah menyanyi, menari, memainkan alat musik, melukis, ataupun memahat patung. Kali ini, Hyeon Bin lagi-lagi menjadi primadona. Semua orang mengira pemuda tampan bermata sipit itu akan memainkan sebuah peran. Namun ternyata, ia bernyanyi! Dan suara yang keluar dari tenggorokannya sangat indah dan membuai penonton serta Syahrini sendiri yang duduk di depan panggung. Sementara itu, Wiro Sableng hanya dapat memainkan seruling bambunya. Tidak terlalu jelek memang, namun tetap saja kalah indah dengan suara Hyeon Bin.

Wiro Sableng yang mulanya penuh percaya diri itu pun putus asa. Ia telah kalah 2-0 dari Hyeon Bin. Tela dipastikan pasti pemuda tampan berahang lancip itu yang akan menjadi calon suami Syahrini kelak. Wiro Sableng mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan pemberian nenek guru. Ia pun berjalan kembali pulang dengan linglung sampai-sampai tidak menyadari sapu tanagn kesayangannya terjatuh ke tanah. Dari kejauhan, Wiro Sableng terkejut karena melihat nenek gurunya datang dari kejauhan. Ia pun segera berlari menghampirinya. Ternyata, Sinto Gendeng datang dari gunung hanya untuk memberikan dukungan kepada murid kesayangannya itu. Wiro Sableng sangat terharu, namun ia berkata bahwa ia telah gagal dan akan kembali saja ke gunung untuk merawat nenek guru. Wiro Sableng pun segera menggendong nenek gurunya di belakang punggung dan berjalan untuk kembali pulang.

Sementara itu, Syahrini tidak sengaja menemukan sapu tangan Wiro Sableng yang tertulis dalam jahitan di dalamnya “Dari nenek guru. Untuk Wiro, murid kesayanganku.” Syahrini menoleh kanan kiri mencari di mana keberadaan Wiro Sableng. Sampai di sebuah jalan, ia melihat pemuda itu sedang menggendong nenek gurunya sambil mengobrol dengan akrab. Beberapa orang di jalan itu berkata,

“Lihat itu, Wiro Sableng sedang menggendong nenek gurunya kembali ke gunung yang jauh itu. Berbakti sekali, ya, pemuda itu!”
“Berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain, ya. Mereka hanya main perempuan dan melupakan neneknya...,”

Entah apa yang dirasakan Syahrini. Sambil mengenggam sapu tangan Wiro Sableng, dalam tatapan syahdu, Syahrini berbisik sendiri,

“Wah, ternyata Wiro Sableng sangat sesuatu!”

***

Ngos ngos ngos...

Pagi itu, hari yang ungu. Semoga wajah saya tak terlihat aneh memakai jilbab warna ungu, hehe. Maklum, itulah jilbab ungu pertama saya. Dari rumah, saya telah merencanakan untuk izin pergi ke FIB sebentar untuk mengurus pendaftaran pengawas SIMAK UI 2011. Hari itu deadline pendaftaran di BEM. Lumayan dapet duit, hehe. Sekitar pukul 10.00 pagi, saya langsung loncat menyebrang ke jembatan Teksas. Tuing! Dari FE ke FIB... gampanglah paling 5 menit doang. Tinggal loncat kan? Awas aja kepeleset nanti nyemplung ke danau...

Saya naik tangga ke gedung 9, menuju ke ruang BEM. Saya menongolkan kepala di pintu ruang BEM(*menongolkan?), ternyata teman yang saya tunggu belum datang. Saya agak terkejut ketika melihat ada Pak Fauzi Bowo sedang duduk di ruang BEM. Heh? Mau ngapain dia di situ? Tiba-tiba, saya mendengar ada yang membicarakan acara Inspiration Days. Lho lho, itu kan acara saya? Kata saya dalam hati. Singkat cerita, ternyata bapak utusan walikota Depok yang mirip Fauzi Bowo itu tersesat. Ia berencana untuk datang ke acara ID yang ia tahu ada di gedung 9 FIB. Ia belum tahu kalau tempatnya itu diganti di FE *padahal ajudannya sudah diberitahu panitia lho. Waduh... Ya sudah, akhirnya saya mengantar bapak utusan walikota itu ke FE.

Saya: “Kita mau jalan aja, Pak?”
Bapak: “Iya iya.”
Saya: “Oh, oke.”
Bapak: “FE itu jauh enggak, Mbak?”
Saya: “Emm, enggak kok Pak. Noh di sono noh! Di sebrang jembatan!”
Beberapa saat kemudian di jembatan Teksas. Entah mengapa rasanya lamaaaaaaaa sekali berjalan dari gedung 9 ke jembatan Teksas.
Bapak: “Ngos ngos ngos...”
Saya: “Eh, buset. Kenapa nih si bapak? Ngos-ngosan ampe begitu? Di tengah jembatan gini kalo pingsan gimana??” (dalam hati) sambil melirik-lirik si bapak.
Bapak: “Masih jauh enggak?” masih sambil ngos-ngosan. Jangan-jangan bapaknya punya asma! 

Sumpah saya takut sekali jika si bapak itu tiba-tiba pingsan dan mengeluarkan busa-busa aneh dari mulutnya. *kebanyakan nonton teve

Saya: “Enggak kok, Pak! Tuh di depan!” sedikit memberikan semangat. Tapi kayaknya semangat itu tidak berpengaruh, karena si bapak malah berkata,
Bapak: “Kalo tahu begini, kita naik kendaraan aja tadi...”
Saya tertegun lalu berteriak dalam hati: “Woy, Pak! Kan saya tadi udah nanya! Mau jalan apa enggak! Gyaaaa....”

Saya sungguh merasa bersalah melihat kucuran keringat yang ada di dahinya *dasar saya golongan darah A. Ia mengelap berkali-keli menggunakan sapu tangan. Tiba-tiba entah mengapa, saya teringat bapak saya di rumah yang pekerjaannya adalah PNS juga. Jadi seragamnya mirip bapak walikota itu. Jangan-jangan, bapak saya juga kayak begitu. Tenaganya semakin menguap karena dimakan usia. Dalam waktu yang singkat itu, saya merenung. Di tempat kerjanya, bapak saya pasti juga berkeringat seperti itu. Atau bahkan lebih... Bayaran untuk tetes-tetes keringat itu bukan untuk siapa-siapa kan? Tentu saja untuk keluarga dan anak-anaknya. Huahua... Padahal saya sering melawannya. Ya Allah maafkan saya...

Saya: “Semangat, Pak! Olahraga Pak biar sehat, hehe.”
Bapak: “Ngos ngos ngos...”
Saya:   -___- *semakin merasa bersalah. Amat.

Akhirnya, kami tiba di depan auditorium. Di koridor, kami berdua dilihati oleh orang-orang. Gile, jalan sama birokrat walikota aja sudah kayak gitu. Apalagi sama presiden?? Yap. Salah satu yang melihati kami adalah dua orang pengisi stan sebuah bank *saya lupa bank apa, hehe. Tatapan mereka begitu hormat kepada kami berdua. Pasti gara-gara bapak walikota di samping saya. Bayangkan, satu memakai seragam birokrat PNS  dan satu lagi seragam panitia. Pasti dikira itu bapak adalah orang penting, kan? Saya tersenyum nyengir kepada mereka, agak tertawa di dalam hati, hehe. Akhirnya, sampai di depan meja pendaftaran ikhwan. Semua pada bingung, salah satunya Raniw. Tepat di belakang bapak itu, ia bertanya tanpa suara kepada saya.

Raniw: “Siapa? Siapa?” sambil menunjuk-nunjuk si bapak.
Saya: “Enggak tahu. Katanya dari walikota Depok...” sambil menaik-naikkan bahu.

Beberapa saat kemudian, bapak utusan walikota itu pun dibawa masuk ke dalam auditorium. Saya meminggirkan diri di pojok tangga, di depan tempat pendaftaran akhwat.

Saya: “Ngos ngos ngos...”

***

Selasa, 01 November 2011