Rabu, 20 Februari 2013

Angin Semilir di Tengah Malam

Aslm!

Wow, sekarang saya masuk di minggu kedua semester 8, semester terakhir Insya Allah! Di tengah kesibukan menyusun skripsi, belajar, mengajar, menulis dan menyiapkan naskah ke penerbit (lagi).... tiba-tiba saya ingat akan teman-teman di Sos 3 SMA 14 ^^  Ini sepertinya akibat dari wisuda semester ganjil beberapa waktu yang lalu yang saya tidak bisa datang karena sedang flu dan turun hujan besar juga. Hiks. Biasalah, saya yang terkadang suka mendramatisasi segala hal ini... hehehe! Saya merasa ditinggal beberapa teman-teman baik di kampus yang sudah lulus 3,5 tahun ㅠㅠ. Nanti jadi jarang bertemu kan? Karena sudah lulus. Perasaan sekarang itu sama seperti waktu di penghujung masa SMA dulu. Dulu, saya berpikir, "ih, pasti kangen deh sama semuanya, maksudnya kayak udah comfort zone banget sama anak-anak di SMA, trus harus berpisah karena kuliah...". Sekarang juga begitu, ya? Ya, memang harus begitu. Ada pertemuan juga ada perpisahan ㅠㅠ.

Dan saya bersyukur pernah punya teman-teman yang baik di SMA (walaupun kekurangan teman cowok, kebanyakan main sama cewek, hihi). Ya, bodo amat sekarang itu gedung SMA sedang dihancurkan untuk direnovasilah, isu pungli-lah, gosip yang buat jelek nama sekolah-lah. Tapi, untuk saya pribadi, masuk SMA saya itu adalah sebuah keberkahan karena saya mulai mengenal orang-orang hebat di SMA itu. Salah satunya, Imam Prasodjo yang saya lihat di reuni akbar dulu pas jadi panitia. 

Teman-teman SMA saya itu, sedang apa saja mereka sekarang? Super kangen ㅠㅠ.

Dulu, waktu SMA, saya dan teman-teman pasti bermimpi ingin jadi ini ingin jadi itu. Kuliah ini kuliah itu. Sekarang, saya sudah lihat perkembangannya. Teman saya, sebut saja Dita, dulu dia teman sebangku waktu SMA, sekarang sudah kerja di sebuah bank yang bagus. Ingat zaman dulu, ketika mengerjakan peer akutansi Pak Chai. Begitu telitinya Si Dita itu. Mungkin, gayanya dalam menganalisis keuangan di bank akan sama  ya seperti di kelas. Hihi.

Satu lagi, Tia, katanya dulu saya dan dia sering dibilang 'kembar srikandi' karena mirip. hehehe! Tia kabar terakhirnya sedang dalam percobaan mengajar di sebuah SMA. Padahal ingat sekali, dulu dia bilang benar-benar tidak mau jadi guru. Eh, malah jadi guru ekonomi dia. hehehe!

Terus, ada Machi, yang rumahnya sering kami jadikan markas latihan senam. Bakso Malang yang sering disuguhkan mamanya Machi-lah yang membuat kami betah lama-lama di sana. hehehe! Kabar terakhir, dia yang beralih dari IPS ke IPA ketika kuliah itu sekarang sedang berjuang jadi analis kesehatan.

Nah, kabar saya? Hemm, pastinya harus lulus Cum Laude dan diwisuda bulan Agustus 2013 nanti. Setelah itu, liburan sampai akhir tahun (semoga bisa terbitin sesuatu pada masa ini dan jadi karya kesekian ^^). Januari 2014 barulah jadi  full jikjangin a.k.a pekerja full. Sekarang, resminya, masih dalam 'masa kuliah menjadi mahasiswa'. hehehe! Jadi, harus dinikmati.Yoyoy! Lakukan yang terbaik dan ingat juga waktu untuk santai-santai! My lovely motto!


(di Transjakarta bersama Dita, Tia, Machi 
dalam perjalanan ke Veldrum buat tes lari pelajaran olahraga)

Selasa, 05 Februari 2013

Asal Usul Pondok Ranggon; My Lovely Kampung

Ini sebenernya dapet dari buku pas main di Gramed, hehehe. Lumayan kaget ternyata ada yang menulis tentang sejarah nama daerah di Jakarta, salah satunya kampung saya dong... Pondok Ranggon. Huruf G-nya ada dua ya, bukan satu. Banyak yang salah tuh, huh payah...

Yuks, mari kita intip foto-fotonya ^_^




*kampung halaman kalian, bagaimana ceritanya? ^_^

Rabu, 12 Desember 2012

Sepertinya 'banyak' yang salah....

Ada apa dengan perempuan ini?
Sepertinya ada yang salah
Sepertinya 'banyak' yang salah
Sepertinya harus ada kegiatan yang dihentikan
Yang mana?

Yang itu
Yang itu
Uang?
Terserah
Cukup sekali ini saja kacau seperti ini

Jadi kupu-kupu lagi?
Ya
Karena belum waktunya perempuan ini terbang
Nanti
Tunggu\
Sabar

Januari, semua itu berakhir
Buatlah semua itu berakhir
Akalmu butuh ilmu
Bukan butuh uang
Cukup sampai di sini

Perempuan ini tak sadar
Ia terlalu jauh terbang
Sampai lupa sangkarnya
Sampai lupa bahwa ia belum boleh terbang terlalu jauh
Belum saatnya

Aku yakin
Nanti pasti ada waktunya
Nanti
Percayalah
Come on
Kembalilah saudariku
Kembali pada dirimu yang dulu

Berani
Lepaskahlah semua itu
Kegiatan itu
Aku bersungguh-sungguh
Sepertinya sekarang bukan waktunya
Sekarang bukan tanggung jawabmu
Sekali lagi bukan

Menurutku, ini adalah cobaan kecil dari Allah
Dia ingin kau memilih
Uang
Atau
Ilmu
Lihat ketika akalmu tidak diasah dengan ilmu
Akalmu akan tumpul terus
Percayalah padaku, saudariku

Aku sayang padamu
Allah sayang padamu
Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala hambanya walaupun sedikit
Dia tidak akan menyia-nyiakan hambanya, saudariku
Aku bersumpah
Tidak ada yang setara dengan-Nya, saudariku
Persis seperti yang kemarin kau katakan kepada mereka
Ikhlaskanlah, saudariku
Ikhlaskan
Ada yang lebih besar yang menunggumu di depan sana
Tapi, kau butuh ilmu dulu
Akalmu kini kehausan, saudariku
Kau tahu, kan?

Saudariku
Aku percaya kepadamu
Kau dapat kembali seperti dulu
Tidak mengurusi pikiran orang lain
Tidak iri dengan orang lain
Tidak dengki dengan orang lain
Tidak

Aku akan mengingatkanmu
Ini
Jalan ini
Adalah
Jihadmu
Jihadmu
Saudariku
Dan jihadmu ini pasti lebih ringan dibanding saudara kita di Palestina sana
Kau mengerti, kan?
Aku yakin
Kau pasti mengerti
Karena kau adalah saudariku



Rabu, 21 November 2012

Buat Apa Susah?

"Buat apa susah? Buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya..."

Lagu ini ternyata benar sekali. Lagu Pramuka zaman SD dulu, ternyata baru saya sadari kebenarannya sekarang. Manusia hidup di dunia pasti akan dihadapkan dengan yang namanya masalah dan kesusahan. Tidak ada manusia yang hidupnya sempurna. Tidak ada. Manusia yang tak punya masalah di dunia adalah manusia yang sudah mati. Yang harus dipikirkan bukan masalahnya, melainkan bagaimana pemecahan masalahnya. Memang, ketika masalah itu sedang ada di puncaknya, kepala kita pasti jadi nyut-nyut-an, hati jadi sedih dan murung, wajah jadi manyun, dan tubuh jadi kehilangan semangat. Istigfar sama Allah dan minta bantuan-Nya supaya masalah kita  cepat terselesaikan dengan baik, itu solusinya.

"Di sini senang! Di sana senang! Di mana-mana hatiku senang!"

Lagu ini yang harusnya jadi pegangan hati kita. Harus senang, jangan sedih. Karena yang seperti ditulis 'Aidh Al-Qarni, jangan bersedih, sebab kesedihan akan menguras potensi dan energi. Depresi, level kesedihan tertinggi menurut saya, adalah hal yang paling menguras potensi dan energi manusia. Saya depresi? Pernah and it's normal. Saya pernah berpikir untuk bunuh diri? Pernah juga dan itulah sebuah pikiran negatif paling negatif yang pernah saya pikirkan. Dan pikiran itu muncul karena depresi; beban-beban kesedihan, level tertinggi dari kesedihan. Astagfirullah. Tapi Allah itu Maha Baik, Dia memberikan masalah dan kesedihan untuk menguji mahluknya, lalu menaikkan kelas derajatnya. Kalau kita sabar dan tetap bersyukur, Insya Allah lulus ujiannya Allah dan naik kelas derajatnya. Karena iman itu adalah sebuah lingkaran, setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi, syukur. Kalau kita berkata 'saya beriman', tapi ketika ditimpa masalah dan kesedihan, kita tidak bersabar dan tidak bersyukur... maka, iman itu dipertanyakan.

Allah Maha Oke (seperti yang Mas Ippho Santosa bilang). Allah itu semuanya oke. Jadi, jangan takut dan beranilah menatap masa depan kita. Walaupun  banyak yang bilang ini sulit itu sulit, ini mahal itu mahal, Allah Maha Oke. Kalau Allah bilang 'Oke' dan 'Jadilah' pada doa-doa kita, maka 'Oke dan Jadilah'. So, sekarang yang harus dilakukan kita adalah berpikir positif, bekerja dengan produktif, istirahat dan refreshing yang cukup (sering dilupakan, ya? hati-hati, nih penting soalnya), dan terus minta bantuan Allah di setiap aktivitas kehidupan kita. Bertemanlah dengan Allah, niscaya kita beruntung karena Allah-lah sebaik-baiknya teman dan penolong :)

*semangat, semoga menginspirasi :) 

Memacu Waktu

*satu lagi tugas matkul penulisan populer, untuk tema narasi :)

Memacu Waktu

            Kedua roda motor itu terus berputar dengan cepat. Seorang laki-laki paruh baya yang mengemudikan motornya itu pun menunjukkan wajah penuh konsentrasi. Srat! Srat! Srat! Mobil dan motor di depannya disalip dengan cekatan bak Valentino Rossi Sang Pembalap Moto GP. Sementara itu, pemuda yang dibonceng di belakangnya sibuk melakukan hal lain. Tangan kanannya memegang buku Pengantar Ekonomi yang terbuka halamannya dan tangan kirinya dengan erat memegang besi motor bagian belakang agar tidak jatuh. Motor itu melesat masuk ke Gerbatama UI. Amir namanya, tapi biasanya dipanggil Mimir oleh teman-teman yang perempuan di kampusnya dan ia sebenarnya tidak suka dengan hal itu. Ada satu temannya juga bernama bagus, yaitu David, eh dipanggilnya Mpit. Sekalian saja sumpit! Seenak jidat ganti-ganti nama orang, dasar perempuan! Ya, begitu biasanya ia berteriak. Namun, hanya di dalam hati. Tidak beranilah pemuda itu untuk benar-benar berteriak di depan wajah para teman perempuannya yang sering mentraktirnya di Starbucks perpustakaan pusat.

            Amir menengok jam tangannya, satu menit lewat dari pukul sembilan pagi. UTS pasti sudah dimulai. Dosen Pengantar Ekonominya itu sangat tepat waktu pada setiap kedatangannya, apalagi hari ini ujian. Amir jadi panik. Tidak seharusnya tadi malam ia makan tahu pedas terlalu banyak sehingga paginya jadi mulas-mulas dan terlambat. Pemuda berkemeja biru itu jadi teringat kejadian di dekat pasar tadi sebelum ia akhirnya memutuskan beralih naik ojek. Jalanan lancar seperti biasanya, namun sedikit ramai dan macet di dekat pasar. Di dalam mobil angkot itu juga tidak begitu penuh sehingga Amir dapat belajar untuk ujian dengan lumayan nyaman.

Lima menit berlalu, mobil diam di tempat. Sebelumnya, tidak pernah macet separah itu. Amir menaikkan kepalanya mencoba menyelidiki apa yang sedang terjadi di depan. Ia menengok jam tangannya, masih pukul 8.15. UTS dimulai pukul 9.00, masih aman menurutnya. Pemuda itu kembali membaca bukunya. Lima belas menit berlalu, masih macet parah. Sudah tidak aman. Amir berpikir apa yang harus ia lakukan karena sekarang sudah pukul 8.30. Ia tidak mau terlambat.

Nyit! Tiba-tiba, perutnya terasa mulas lagi. Sontak ia melirih kesakitan seraya memegang perutnya. Padahal pagi itu ia sudah lima kali bolak-balik ke kamar mandi dan mengoleskan minyak kayu putih hampir setengah botolnya, tapi mengapa masih sakit saja? Amir tak habis pikir. Haruskah dirinya meminum minyak kayu putih itu? Toilet kampus langsung terbayang di pikirannya. Ya, hal pertama yang akan dilakukannya begitu tiba di kampus adalah pergi ke toilet! Pikirnya tegas. Pret! Amir kelepasan buang angin. Wajah para penumpang lain tertuju lurus kepadanya karena dari tadi hanya ia yang terlihat sibuk mengelus-ngelus perutnya.

“Uh! Mama, angkotnya bau...,” ujar seorang anak SD kepada mamanya tak lama kemudian. Sang mama hanya tersenyum bingung, tidak mengerti harus berkata apa. Tidak mungkin mamanya itu menjawab, “Iya, Nak. Mas-Mas di pojok itu kentut, jadinya bau, deh!” Sekali lagi, tidak mungkin! Impossible!

      Amir segera keluar dari angkot sambil pura-pura tidak terjadi apa-apa. Ketika ia berjalan meninggalkan mobil angkot itu, suara-suara yang lain terdengar. Semuanya berirama mirip dengan suara yang dilontarkan bocak SD tadi. Wajah Amir merah, namun pikirannya menghiburnya seolah berkata, “Dasar norak, semuanya! Kentut itu kan sehat! Lihat saja, akan aku bawakan fakta ilmiah kalau kentut itu sehat! Kalian seperti tidak pernah kentut saja!” Dua menit kemudian, pemuda itu tiba-tiba melupakan masalah kentut karena terlalu takjub dengan antrean kendaraan yang ada. Ada apa sebenarnya? Eh? Mengapa banyak yang menjual daun ketupat? Ya Tuhan! Ternyata Amir lupa kalau besok itu adalah Hari Raya Idul Adha! Pantas saja! Pasar pasti lebih ramai dibandingkan hari-hari biasa. Amir terus berjalan menyusuri pinggir jalan, beberapa orang terlihat melakukan hal yang sama karena tidak ada gunanya naik kendaraan, tidak bisa bergerak. Amir mulai berkeringat karena berjalan lumayan jauh. Pinggir pasar begitu ramai oleh suara para penjual yang menawarkan dagangannya, para pembeli yang menawar, suara kambing yang mengembek, suara klakson kendaraan yang tidak bersabar karena macet, dan lainnya. Kalau saja hari itu tidak ada ujian, pastilah Amir akan membolos saja lalu pulang kembali ke rumah. Amir memutar otak. Ah, naik ojek!  

            Amir sudah tiba di depan kampus, ia melirik jam tangan lagi, pukul 9.05. Ya, hanya telat 5 menit, pasti dimaafkan! Amir begitu percaya diri. Ketika merogoh dompet di saku celana belakangnya, Amir terkejut. Dompetnya hilang! Seluruh isi tas sudah dikeluarkan, namun dompetnya masih tidak ditemukan. Pekerjaan tukang copet di pasarkah? Akhirnya, Amir memberikan KTM-nya kepada tukang ojek sebagai jaminan. Untungnya KTM itu tidak ia masukkan ke dompet kemarin usai pinjam buku di perpustakaan. Amir berlari terbirit-birit menuju kelas sambil menahan sakit perut. Begitu tiba di kelas, kosong. Glek!

“Apa-apaan ini? Kelasnya pindah?” Amir langsung mengambil telepon genggam dari saku depan celananya, berniat bertanya kepada teman lain.
“#Jarkom: UTS Pengantar Ekonomi hari ini ditunda minggu depan karena Bu Wati mendadak sakit.” Waktu penerimaan pesan: pukul 8.00 WIB. Pengirim: Junaidi EKO10.

            Bruk! Buku yang dibawa Amir jatuh ke lantai. Tubuhnya lemas. Ia berharap hari itu adalah mimpi, bukan kenyataan. Seorang gadis berambut panjang dan berlipgloss merah muda datang menghampiri sambil memanggil dengan manja,

“Mimir... Mimir... Mimir kenapa? Oh, iya, sms waktu itu, maaf ya belum dibalas, hapeku sedang direparasi, hehe. Mimir... ayo masuk! Memang tak mau ikut ujian? Eh, lho, kok kosong? Mimir! Kok kosong? Mimir! Mimir!” 

Minggu, 21 Oktober 2012

hari ini...

hari ini...

dini: kakak seonsaengnim kelas c, ya? aku minta tolong sesuatu ya... (mengeluarkan selembar kertas)
saya: iya...
dini: seonsaengnim suka Q-pop?
saya: apa? Q-pop?
dini, hana, intan, kiki: iya, Q-pop...
saya: Q-pop apa K-pop?
hana: eh, itu itu maksudnya, K-pop... kakak suka siapa?
saya: hmm, CN Blue, favoritnya Jeonghyeon. (sementara itu wajah hana seolah berkata: Yonghwa gimana?)
saya: aku gak suka Yonghwa, soalnya mukanya terlalu aneh kayak benco*g
dini: bwahaha, kakak jujur banget! *gulinguling (muka hana agak kecewa)

beberapa menit kemudian...


saya: ayo dini, coba baca pidatonya!
dini: *komatkamit baca pidato
hana: kakak, kenapa pilih jurusan korea? (OMG! itu adl pertanyaan yg saya benci, capek jawabnya krn keseringan ditanya -___-)
saya: iya, soalnya prospeknya bagus... (kiki dan intan melirik, karena tadi minta dijelasin struktur 'go') oia, jadi 'go' itu artinya 'dan' ayo kita baca contohnya...
dini: kak, verb dua dari build itu apa ya? ganti 't' ya? kalo go jadi went, ya? (dini sedang mengerjakan peer bahasa inggris punya kiki -____-)
saya: heem (*agak bete, karena waktu sudah hampir 40 menit berlalu, tapi murid kelas c blm pada nongol)

tok tok, tiba-tiba sajangnim datang seraya berkata, "sitsol, hari ini kayaknya kelas c dicancel deh, pada sakit dan izin..."

saya: krik...krik...krik...




"kyaaaa! minta dibacok!"


Senin, 01 Oktober 2012

Semester 7, ternyata di luar dugaan...

*terdiam sejenak, menengok ke atas, melihat judul, kemudian menarik napas dalam... ya, semester 7, ternyata di luar dugaan...

Assalamualaykum... semua... sudah lama saya tak menulis hal-hal pribadi lagi ini, hehe.

Langsung saja kalau begitu. Sudah tiga puluh dua hari kuliah di semester 7 ini. OMG! Ternyata sama saja, awalnya saya kira akan lebih santai... Semester yang boleh dibilang salah satu semester terakhir saya ini.. ternyata... 

sibuk dan himdero juga   -_____-

Padahal sebelumnya kan sudah ambil SP, ternyata tugas tetap banyak semester 7 ini. Padahal saya cuma ambil 15 sks. Sebelumnya, 18 sks, tapi dengan berat hati harus men-drop Bahasa Inggris Akademik B (padahal gak berat2 hati amat juga, dosennya gak asik dan mulai kuliahnya jam 5 cuy, gile aje...). Baiklah, mengapa saya bilang di luar dugaan? Ya, itu dia, sks cuma 15, tapi kok serasa 21, ya?

Fokus dan rencana awal saya sebenarnya di Semester 7 ini adalah LES BAHASA INGGRIS DAN TOEFL... Secara, belajar bahasa Korea selama 3 tahun benar-benar membuat Bahsa Inggris saya jarang dipakai dan mengendap. Padahal dulu pernah cita-cita juga jadi guru Bahasa Inggris. Pokoknya dulu saya suka sekali Bahasa Inggris itu dan ingin keliling dunia... Eh, sekarang Bahasa Inggrisnya tertindih     Bahasa Korea -___-  Tapi, sepertinya memang bulan ini harus ekstra belajar Bahasa Korea dulu karena ada si Tes TOPIK tanggal 28 di JIKS. Sumpah, itu buku soal saya yang fotocopy di perpus bagus sekali, warnanya hijau, dan ada penjelasan lengkapnya juga. Tak salah tuh teman saya rekomendasikan buku latihan TOPIK itu ^_^ Ya, saya ini orangnya fokus, terlalu fokus mungkin, jadi belajar TOEFLnya setelah Tes TOPIK sajalah... *lalala~

Di Semester 7 ini juga, niat saya adalah beli baju baru. Eh? Beli baju baru? Heem, kan sudah di penghujung masa kuliah nih, sebentar lagi Insya Allah akan pindah ke masa kerja, jadi harus menyiapkan baju baru. Baju, rok, kerudung, sepatu, alat make up (yang ini belajarnya harus ekstra, karena sebenernya gak terlalu suka sama make up, lebih suka lipgloss sama pelembab aja, hhe) dan mental. Ya, mental. Saya masih suka bingung begitu mau langsung kerja atau S2. Tapi, ketika ingat betapa himdero-nya belajar di kampus, saya jadi malas mau S2. Tapi, ketika keinginan jadi dosen itu sedang naik-naiknya, saya semangat sekali S2. Ya, begitulah. Rencananya, akhir semester ini harus diputuskan mau ke mana...

Dan ketika pilihan sudah diputuskan... saya mau mengumpulkan modal dan wirausaha restoran kimbab, hehe... aamiin ^_^

Hem, entah cuma perasaan atau apa, tapi saya merasa di Semester 7 ini, saya semakin sensitif, istilah anak prodi koreanya sih, 'sengchok' alias senggol-bacok, "lo nyenggol gue, awas lo gue bacok!". Begitu... Intinya lebih sensitif. Mungkin karena terlalu banyak hal yang dipikirkan ya? Ya, namanya juga mahasiswi tingkat akhir... 

Salah satu hal yang harus diputuskan adalah skripsi. Menurut gosip nih, angkatan saya adalah angkatan terakhir yang masih bisa pilih mau skripsi apa tidak, begitu... Waduh, jadi bingung ini. Jujur, menulis skripsi saya tak takut, cuma itu lho... bimbingannya yang malas... cari bukunya juga... walau sampai sekarang juga sudah dapat lumayan bukunya. Tapi, masih setengah hati nih. Belum mantap rasanya untuk skripsi. Jadi, sesuai rencana, hal ini harus diputuskan pertengahan semester 7, ya sekitar bulan Oktober akhir atau November awal...

Baiklah, seperti itu saja laporan saya (eh?). Sampai jumpa pada postingan berikutnya, hehe...