Minggu, 18 Maret 2012

DIALOG KONYOL PEMUDA KOREA

Siang itu, saya dan kedua teman saya sedang duduk-duduk santai di depan gedung 5. Kami bertiga menunggu kelas Bahasa Inggris Akademik. Kelas itu baru akan dimulai sekitar setengah jam lagi. Kami pun mengobol ke sana ke mari. Joget ke sana joget ke sini. Lho? Jangnan![1] Hehehe! Hmm, kami punya alasan kenapa mengambil mata kuliah pilihan itu. Semua itu karena sebuah virus bernama virus linguistik! Virus itu telah menjalar dan menyerang otak sehingga menciptakan sebuah penyakit baru, lebih baru daripada H2N1. Hehehe! Penyakit itu bernama alih kode!

Begini singkatnya, kalau kami ingin menyebut kata ‘study’ maka kata yang akan keluar dari mulut adalah ‘gongbuhada’. Istilah buruknya, kami jadi sedikit amnesia untuk bahasa Inggris karena mempelajari bahasa lain. Oleh karena itu, kami butuh vaksin bahasa Inggris~. Hehehe! Sekali lagi, vaksin! Sebenarnya, menurut dosen linguistik sendiri, alih kode itu memang ada dan normal menyerang para aktivis bahasa. Enggak hanya mahasiswa, bahkan salah satu dosen di jurusan kami mengaku menderita penyakit yang sama! Padahal S1 beliau adalah prodi bahasa Inggris!

Hanenim[2], saya tolong sembuhkanlah penyakit kami ini...,” doa saya sambil mengangkat tangan bergaya Sulis Cinta Rasul.

Tiba-tiba, kami didatangi oleh sesosok pemuda sipit tampan berkaos abu-abu. Ia datang bersama dua orang Indonesia. Kemudian mereka memberikan semacam flyer berisi undangan acara yang bertajuk Korean Day di gedung 4.

“Hi, (sambil menyodorkan cincin kawin, eh maksudnya si flyer itu) Korean Day...” kata pemuda itu dengan bahasa Inggris.
“Heh? Oh...” sambil melihat-lihat dan membolak-balikkan kertas itu. Siapa tahu ada cincin kawin terselip.             
“Emm, you know... song ‘nobody’? Wonder girls?” tanyanya.

Saya mengangguk perlahan sambil menyunggingkan senyuman maut. Tiba-tiba, di luar perkiraan, pemuda itu malah tak segan-segan menyanyikan lagu tersebut sambil menari seksi. Hahaha! Yang kedua bohong! Setelah mendengar konser kecil-kecilan pemuda itu, akhirnya saya menjawab dengan bahasa Korea saja.

“Oh, arrasseoyo..., (oh, saya tahu...,)”          
“Wuah! Your pronounciation is good!” kata pemuda itu dengan jempol besarnya.
Anniyeyo. Jal mothamnina..., (enggak, kok. Biasa saja...,)” jawabku kaget.

Loh, kok pemuda itu menjawab dengan bahasa Inggris LAGI? Jelas-jelas saya sudah membalasnya dengan bahasa Korea tadi! Penyakit alih kode makin membuat otak saya konslet. Kepala saya jadi nyut-nyutan. Sumpah!

Jeon hanguk hagwa. Jae chingu... (saya mahasiswa prodi Korea. Ini teman saya...)” kata saya sambil menunjuk-nunjuk Ajoshi.
I hang nyeon... (tingkat dua...)” tambah saya.
“Heh? I rang nyeon? I hang nyeon? (heh? Tingkat satu apa tingkat dua?)” tanyanya lagi. Ya ampun, budek ya sepertinya ini orang!
I hang nyeon! “ kata saya lagi, kini sambil memberi angka dua dengan tangan.
“Oh, what is your majoring?”

GLEKK!

Sumpah budek ya nih orang? Tadi kan saya sudah bilang!!!! Arrrghhh! Untung saja pemuda itu tampan... jadi saya senyum-senyum saja padahal dalam hati sudah mau cekek lehernya saja dari tadi. Mau bilang hanguk hagwa[3] lagi, nanti dia tanya lagi. Daripada nyut-nyutan lagi lebih baik saya jawab saja...

“Korean studies!” nah lho, bingung dah dia sekarang. Apa bedanya Korean studies dengan hanguk hagwa. Hahaha!
“Oh, you know Yayah?” tanyanya lagi.
“Yayah?” inilah salah satu kehebatan bahasa Korea. Kalau enggak tahu apa artinya, katakan saja lagi kepada lawan bicara dengan intonasi naik.
Uri hubae!” kata Ajoshi (bukan nama sebenarnya) tiba-tiba. Dasar itu anak! Ke mana saja dia??! Bertapa??! Saya sudah pusing tujuh keliling mengobrol dua bahasa dengan pemuda ini sampai otak mendidih. Eeeh, dia baru muncul! Haduh haduh!
"She is my friend..." tambah Ajoshi.
"Ohh..."
“Emm, so you’re BIPA?” tanya saya. BIPA adalah program kursus bahasa Indonesia untuk orang asing di kampus. Akhir-akhir ini kebanyakan orang Korea yang datang belajar ke kampus. Jadi, di kampus serasa di Korea. Hehehe!
“BI...?? what??”

Nah lho, sekarang jadi saya yang bingung bagaimana menjelaskan tentang BIPA kepada pemuda ini. Seperti pemadam kebakaran saja, bagian lain otak saya memberikan sinyal darurat tit-tut-tit-tut. Itu suara sinyal darurat apa suara kentut yang ditahan? Hemm, saya segera menoleh ke Ajoshi, mengedip-ngedipkan mata meminta bantuan. Gyaaa! Anak itu sekali lagi enggak menghiraukan saya. Ya, ampun! Anak itu malah terlihat asyik mengobrol bersama Lao Tse (bukan nama sebenarnya juga). Kalau Lao Tse, dia bukan anak prodi Korea, melainkan prodi Cina. Jadi, saya enggak bisa mengharap banyak darinya. Akhirnya, saya phogihae[4] dan bertanya kepada salah satu teman pemuda itu yang kelihatannya orang Indonesia.

“Mbak! Ini acara anak BIPA ya?”
“Oh, bukan... ini acara mahasiswa Korea yang datang ke Indonesia...,”
“You have to come!” kata pemuda berkaos abu-abu itu kemudian.
“Eh? Ne... ne..., (eh? iya... iya...,)”
Saya hanya bisa mengatakan itu sambil manggut-manggut seperti burung merpati. Sebenarnya saya ingin menanyakan namanya, tapi saya bingung. Maklum, otak saya masih konslet. Kami senyam senyum saja berdua seperti orang gila. Ajoshi yang duduk di depan benar-benar keterlaluan! Akhirnya, pemuda itu pun pamit dan pergi sambil tersenyum manis. Hehehe! Dari rona kedua matanya, terlihat ia sangat mengharapkan kedatangan diri saya yang cantik dan menggemaskan ini. Hahaha!

Beberapa saat kemudian, teman saya yang lain, sebut saja Megi muncul. Ia datang kemudian melihat kertas flyer di tangan saya. Megi memberi tahu bahwa kata dosen kami, anak prodi Korea wajib datang ke acara itu. Singkat cerita, kami semua datang ke acara itu. Saya sempat berfoto dengan pemuda berkaos abu-abu yang sukses membuat otak saya konslet itu. Kemudian, ia menyampaikan terima kasihnya karena sudah menyempatkan datang. Hehehe...








[1] Bercanda!
[2] Ya Allah
[3] Prodi Korea
[4] Menyerah

Sabtu, 04 Februari 2012

Hallyu: Drama Korea


Akhir-akhir ini, dunia pertelevisian Indonesia diserang oleh banyak serial drama dari manca negara, khususnya Korea Selatan. Drama menjadi salah satu jalur Hallyu (gelombang Korea) yang menghasilkan banyak pendapatan bagi Korea Selatan. Drama-drama yang berasal dari Korea Selatan mempunyai banyak genre berbeda dibandingkan drama-drama dari Indonesia sehingga lebih menarik perhatian masyarakat. Selain itu, munculnya para pemain yang berpenampilan menarik juga menjadi salah satu faktor mengapa drama-drama negara ginseng tersebut diminati masyarakat.


Perjalanan drama di Korea telah menggoreskan tinta sejarah yang panjang. Mulai dari zaman kuno sampai zaman modern sekarang ini, drama menjadi salah satu bagian yang penting bagi kehidupan bermasyarakat di Korea.

Pada masa lalu, drama berupa pertunjukkan tari dan musik sederhana yang dipentaskan di tanah lapang saja yang setiap orang dapat datang untuk melihat drama yang sedang dipentaskan. Kemudian pementasan drama beralih ke teater sehingga setiap orang yang ingin menonton pementasan drama tersebut harus mengeluarkan uang untuk membayar tiket. Pada masa kini, teknologi telah berkembang pesat sehingga drama pun banyak diputar di televisi, internet, dan ada pula yang sudah disalin dalam bentuk CD atau DVD. Drama yang diproduksi dari dalam negeri maupun luar negeri dapat dengan mudah didapatkan dan dinikmati.

Salah satu negara yang terkena dampak Hallyu adalah Indonesia. Tepatnya pada tahun 2006, drama Korea pertama kali masuk ke dunia pertelevisian Indonesia. Drama tersebut adalah Winter Sonata. Drama ini begitu memikat hati masyarakat Indonesia dan menjadi pintu gerbang bagi drama-drama Korea lainnya untuk masuk ke Indonesia.

Menurut pendapat penulis, setidaknya ada 5 hal yang membuat drama Korea diminati masyarakat Indonesia, yaitu
a.       tema yang beragam
b.      narasi atau cerita yang menarik
c.       penokohan yang menarik
d.      aktor dan aktris yang rupawan
e.       antusias masyarakat

Di Indonesia sebenarnya juga terdapat drama, banyak drama. Namun, biasanya lebih akrab disebut dengan nama ‘sinetron’ daripada ‘drama’. Tema yang diusung oleh sinetron-sinetron Indonesia biasanya seragam karena terpengaruh oleh tuntutan pasar. Tema yang diangkat biasanya seputar kehidupan keluarga, perkantoran, dan cinta antara dua insan manusia. Bisa dikatakan bahwa tema sinetron-sinetron di Indonesia tidak beragam. Korea membawa drama-drama yang temanya beragam sehingga lebih banyak diminati masyarakat Indonesia. Dari segi episode pun berbeda. Sinetron di Indonesia dapat mencapai jumlah ratusan sedangkan drama Korea lebih sedikit, sekitar 20 episode dan untuk drama kolosal dapat mencapai 60an episode. Namun, tetap labih sedikit dibandingkan sinetron Indonesia.

Hallyu semakin merajalela di Indonesia. Kini, masyarakat, khususnya anak muda, banyak yang menonton drama Korea karena aktor kesayangannya dari kelompok idola tertentu bermain di dalamnya. Jadi, mereka tidak menonton karena tertarik dengan ceritanya, namun karena terpikat oleh aktor dan aktris yang bermain di dalamnya.

2006 , 한국의 드라마는 인도네시아에 들어왔다고 시작했다. 드라마의 목적은 윈터 소나타이다. 인도네시아 사람들 은윈터 소나타 드라마를 아주 좋아한다. 2006 은윈터 소나타 드라마는 다른한국의 드라마를 위해 인도네시아으로 들어오는 문처럼 비슷한다.

우리 의견의 하면 한국의 드라마들은 인도네시아에 많이 유명한 이유가 5 가지이다.
ㄱ.  다양한 주제
ㄴ.  재미있는 이야기
ㄷ.  재미있는 특성짓기
ㄹ.  멋있는 배우들
ㅁ.  관객의 열심

Sumber Referensi: Tu-hyon, Yi, dkk. Korean Performing Arts. Seoul: Jipmoondang Publishing Company, 1997.  


Rabu, 09 November 2011

Syahrini Mencari Jodoh

CERPEN WRITING SPOT FORMASI *wehehe
TEMA: PENOKOHAN

Siang yang amat terik. Wiro Sableng sedang membasuh wajahnya yang kepanasan di pinggir sungai. Sejenak ia terdiam memandangi wajahnya yang hitam, kedua matanya yang besar, hidungnya yang pesek, dan rambutnya yang panjang dan lepek karena keringat. Dalam hati, ia berdecak kagum sendiri melihat ketampanan wajahnya di dalam bayangan air. Seusai istirahat dari latihan bela diri itu, Wiro Sableng segera membersihkan dirinya dan bersiap-siap kembali ke kampung.

Di tengah pasar, terdapat kerumunan yang terlihat sedang asyik memperbincangkan sesuatu. Wiro Sableng pun tertarik untuk mendatang mereka. Ternyata, mereka sedang ribut memperbincangkan sayembara calon suami Syahrini. Menurut flyer-flyer yang dibagikan ke seluruh penduduk kampung, Syahrini Sang Penyanyi Terkenal Seantero Kampung itu sedang mencari seorang pemuda perkasa yang akan ia jadikan sebagai suami. Siapa yang tidak mengenal Syahrini yang berparas memesona sejuta Adam di kampung itu. Wiro Sableng pun kemudian meminta restu Nenek Guru Sinto Gendeng di gunung. Mendengar niatan muridnya, Sinto Gendeng terkekeh tidak percaya dan berkata bahwa pemuda itu tidak akan berhasil. Namun, karena tngkat kepercayaan dirinya yang sangat tinggi, Wiro Sableng tidak menghiraukannya.

Beberapa hari kemudian, Wiro Sableng mendaftarkan diri di balai desa dan berniat penuh untuk mengikuti semua ujian yang diadakan panitia. Ujian pertama adalah ujian ketangkasan dan bela diri. Wiro Sableng tertawa terbahak-bahak. Ia telah bertahun-tahun berlatih bela diri dengan nenek gurunya sehingga ia berpikir pasti dapat menyelesaikannya dengan mudah. Wiro Sableng mulai berkonsentrasi mengumpulkan tenaga dalamnya. Sementara itu, beberapa meter di dekatnya, Hulk Si Hijau dengan kekuatan supernya dengan cepat menghancurkan sebongkah besar batu di hadapannya. Tidak hanya Hulk, Hyeon Bin pun yang notabenenya sebagai pemain teater kampung, sukses menghancurkan bongkahan batu yang lain dengan granat. Wiro Sableng kalah cepat.

Hari berikutnya, ujian kesenian. Para peserta sayembara diharuskan untuk mempersembahkan sebuah pertunjukan seni, entah menyanyi, menari, memainkan alat musik, melukis, ataupun memahat patung. Kali ini, Hyeon Bin lagi-lagi menjadi primadona. Semua orang mengira pemuda tampan bermata sipit itu akan memainkan sebuah peran. Namun ternyata, ia bernyanyi! Dan suara yang keluar dari tenggorokannya sangat indah dan membuai penonton serta Syahrini sendiri yang duduk di depan panggung. Sementara itu, Wiro Sableng hanya dapat memainkan seruling bambunya. Tidak terlalu jelek memang, namun tetap saja kalah indah dengan suara Hyeon Bin.

Wiro Sableng yang mulanya penuh percaya diri itu pun putus asa. Ia telah kalah 2-0 dari Hyeon Bin. Tela dipastikan pasti pemuda tampan berahang lancip itu yang akan menjadi calon suami Syahrini kelak. Wiro Sableng mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan pemberian nenek guru. Ia pun berjalan kembali pulang dengan linglung sampai-sampai tidak menyadari sapu tanagn kesayangannya terjatuh ke tanah. Dari kejauhan, Wiro Sableng terkejut karena melihat nenek gurunya datang dari kejauhan. Ia pun segera berlari menghampirinya. Ternyata, Sinto Gendeng datang dari gunung hanya untuk memberikan dukungan kepada murid kesayangannya itu. Wiro Sableng sangat terharu, namun ia berkata bahwa ia telah gagal dan akan kembali saja ke gunung untuk merawat nenek guru. Wiro Sableng pun segera menggendong nenek gurunya di belakang punggung dan berjalan untuk kembali pulang.

Sementara itu, Syahrini tidak sengaja menemukan sapu tangan Wiro Sableng yang tertulis dalam jahitan di dalamnya “Dari nenek guru. Untuk Wiro, murid kesayanganku.” Syahrini menoleh kanan kiri mencari di mana keberadaan Wiro Sableng. Sampai di sebuah jalan, ia melihat pemuda itu sedang menggendong nenek gurunya sambil mengobrol dengan akrab. Beberapa orang di jalan itu berkata,

“Lihat itu, Wiro Sableng sedang menggendong nenek gurunya kembali ke gunung yang jauh itu. Berbakti sekali, ya, pemuda itu!”
“Berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain, ya. Mereka hanya main perempuan dan melupakan neneknya...,”

Entah apa yang dirasakan Syahrini. Sambil mengenggam sapu tangan Wiro Sableng, dalam tatapan syahdu, Syahrini berbisik sendiri,

“Wah, ternyata Wiro Sableng sangat sesuatu!”

***

Ngos ngos ngos...

Pagi itu, hari yang ungu. Semoga wajah saya tak terlihat aneh memakai jilbab warna ungu, hehe. Maklum, itulah jilbab ungu pertama saya. Dari rumah, saya telah merencanakan untuk izin pergi ke FIB sebentar untuk mengurus pendaftaran pengawas SIMAK UI 2011. Hari itu deadline pendaftaran di BEM. Lumayan dapet duit, hehe. Sekitar pukul 10.00 pagi, saya langsung loncat menyebrang ke jembatan Teksas. Tuing! Dari FE ke FIB... gampanglah paling 5 menit doang. Tinggal loncat kan? Awas aja kepeleset nanti nyemplung ke danau...

Saya naik tangga ke gedung 9, menuju ke ruang BEM. Saya menongolkan kepala di pintu ruang BEM(*menongolkan?), ternyata teman yang saya tunggu belum datang. Saya agak terkejut ketika melihat ada Pak Fauzi Bowo sedang duduk di ruang BEM. Heh? Mau ngapain dia di situ? Tiba-tiba, saya mendengar ada yang membicarakan acara Inspiration Days. Lho lho, itu kan acara saya? Kata saya dalam hati. Singkat cerita, ternyata bapak utusan walikota Depok yang mirip Fauzi Bowo itu tersesat. Ia berencana untuk datang ke acara ID yang ia tahu ada di gedung 9 FIB. Ia belum tahu kalau tempatnya itu diganti di FE *padahal ajudannya sudah diberitahu panitia lho. Waduh... Ya sudah, akhirnya saya mengantar bapak utusan walikota itu ke FE.

Saya: “Kita mau jalan aja, Pak?”
Bapak: “Iya iya.”
Saya: “Oh, oke.”
Bapak: “FE itu jauh enggak, Mbak?”
Saya: “Emm, enggak kok Pak. Noh di sono noh! Di sebrang jembatan!”
Beberapa saat kemudian di jembatan Teksas. Entah mengapa rasanya lamaaaaaaaa sekali berjalan dari gedung 9 ke jembatan Teksas.
Bapak: “Ngos ngos ngos...”
Saya: “Eh, buset. Kenapa nih si bapak? Ngos-ngosan ampe begitu? Di tengah jembatan gini kalo pingsan gimana??” (dalam hati) sambil melirik-lirik si bapak.
Bapak: “Masih jauh enggak?” masih sambil ngos-ngosan. Jangan-jangan bapaknya punya asma! 

Sumpah saya takut sekali jika si bapak itu tiba-tiba pingsan dan mengeluarkan busa-busa aneh dari mulutnya. *kebanyakan nonton teve

Saya: “Enggak kok, Pak! Tuh di depan!” sedikit memberikan semangat. Tapi kayaknya semangat itu tidak berpengaruh, karena si bapak malah berkata,
Bapak: “Kalo tahu begini, kita naik kendaraan aja tadi...”
Saya tertegun lalu berteriak dalam hati: “Woy, Pak! Kan saya tadi udah nanya! Mau jalan apa enggak! Gyaaaa....”

Saya sungguh merasa bersalah melihat kucuran keringat yang ada di dahinya *dasar saya golongan darah A. Ia mengelap berkali-keli menggunakan sapu tangan. Tiba-tiba entah mengapa, saya teringat bapak saya di rumah yang pekerjaannya adalah PNS juga. Jadi seragamnya mirip bapak walikota itu. Jangan-jangan, bapak saya juga kayak begitu. Tenaganya semakin menguap karena dimakan usia. Dalam waktu yang singkat itu, saya merenung. Di tempat kerjanya, bapak saya pasti juga berkeringat seperti itu. Atau bahkan lebih... Bayaran untuk tetes-tetes keringat itu bukan untuk siapa-siapa kan? Tentu saja untuk keluarga dan anak-anaknya. Huahua... Padahal saya sering melawannya. Ya Allah maafkan saya...

Saya: “Semangat, Pak! Olahraga Pak biar sehat, hehe.”
Bapak: “Ngos ngos ngos...”
Saya:   -___- *semakin merasa bersalah. Amat.

Akhirnya, kami tiba di depan auditorium. Di koridor, kami berdua dilihati oleh orang-orang. Gile, jalan sama birokrat walikota aja sudah kayak gitu. Apalagi sama presiden?? Yap. Salah satu yang melihati kami adalah dua orang pengisi stan sebuah bank *saya lupa bank apa, hehe. Tatapan mereka begitu hormat kepada kami berdua. Pasti gara-gara bapak walikota di samping saya. Bayangkan, satu memakai seragam birokrat PNS  dan satu lagi seragam panitia. Pasti dikira itu bapak adalah orang penting, kan? Saya tersenyum nyengir kepada mereka, agak tertawa di dalam hati, hehe. Akhirnya, sampai di depan meja pendaftaran ikhwan. Semua pada bingung, salah satunya Raniw. Tepat di belakang bapak itu, ia bertanya tanpa suara kepada saya.

Raniw: “Siapa? Siapa?” sambil menunjuk-nunjuk si bapak.
Saya: “Enggak tahu. Katanya dari walikota Depok...” sambil menaik-naikkan bahu.

Beberapa saat kemudian, bapak utusan walikota itu pun dibawa masuk ke dalam auditorium. Saya meminggirkan diri di pojok tangga, di depan tempat pendaftaran akhwat.

Saya: “Ngos ngos ngos...”

***

Selasa, 01 November 2011

Selasa, 04 Oktober 2011

Fatimah @ Bebestar


Fatimah gagal ikut bebestar karena belum genap usia tiga tahun, haha... Ini dia videonya oleh Adi sebagai kameramen, Sitsol sebagai sutradara dan Rahman sebagai penghibur, hihi. Oh iya, mama sebagai konsumsi~

Sabtu, 03 September 2011

Serba Serbi ULI

Assalamualaykum, Guys ^-^
Mohon maaf lahir dan batin ya...

Yap. Dalam suasana Idul Fitri, Alhamdulillah di meja makan banyak terjejer makanan-makanan. Ada yang hasil masak ibu, kue kering pemberian tetangga, ketupat pemberian saudara... *maklum, setiap Idul Fitri, keluarga saya jarang membuat ketupat, beda ya dengan mayoritas keluarga-keluarga di Indonesia? Keluarga saya juga jarang membuat opor ayam, kami lebih sering membuat rendang, hehe...

Selain rendang, makanan yang keluarga kami buat adalah ULI. Pernah mendengar? Itu loh, makanan tradisional Betawi atau Sunda yang terbuat dari beras ketan dan parutan kelapa... Kali ini, saya ingin memberitahu kalian tentang cara membuat ULI!

Pertama, beras ketan putih 2 liter dicuci bersih kemudian dikukus setengah matang. Kira-kira setengah jam. Sambil menunggu, kita parut 1 buah kelapa yang telah dikerik bersih. Ingat! DIKERIK BERSIH agar uli yang dihasilkan nantinya cantik putih bersinar seputih muliara... *halah

Kedua, angkat kukusan beras ketan, campur dengan parutan kelapa. Kemudian dikukus kembali sampai matang. Kira-kira satu jam.



beras ketan fresh from kukusan ^_^

Ketiga, kita tumbuk sampai berubah bentuk menjadi adonan. Ditumbuknya memakai kayu lho... Di ujung kayunya jangan lupa lapisi plastik supaya tidak kotor ulinya. *nah lho, bingung ya cari kayu di mana? hehe.. untung saya masih punya kebon... :p  







Tidak berupa butiran beras lagi.... *mulai berubah, khaaaan?


Keempat, siapkan bungkusnya dari daun pisang yang dilapisi minyak goreng *kayu di sampingnya adl kayu penumbuk, hehe. Fresh from kebon, langsung dipahat oleh bapak saya ^_^, lihat deh bagian tengahnya.... 



Lalu masukkan ke dalam daun pisang dan lipat.

*mirip moci ukuran jumbo, wehehe



And finally, ready to serve!

Selamat mencoba dan jangan melupakan makanan tradisional kita yak ^_^