Selasa, 21 Oktober 2014

Akhirnya, saya resign!

Assalamualaykum!

Salam buat para pekerja nine to five or eight to five di seluruh muka bumi ini! Saya mulai bulan Oktober ini tidak jadi anggota geng kalian lagi. Hehehe. Saya kembali pada dunia freelance!

Okay, pernah melakukan resign? Kenapa resign? Pasti banyak alasan para pekerja melakukan resign. Kalau saya… (bagaimana ya ceritanya?) Okay. Begini ceritanya. Sebelumnya, saya merupakan freelancer yang bekerja sendirian. So, saya menginginkan suasana kerja baru. Saya mengharapkan nuansa pekerjaan yang berbeda dari pekerjaan sebelumnya (freelance), punya kantor yang didatangi setiap weekdays, punya relasi dan teman kantor yang banyak buat begahol, punya tabungan yang banyak, dsb.

Selama lima bulan ini, apakah semua itu sudah dirasakan? Ya, sudah. Alhamdulillah! Tiga bulan pertama, saya sangaaaaaat bahagia ^^. Walaupun pekerjaannya sangat menguras waktu dan tenaga. Sabtu juga ngantor gitu. Meh banget! Tapi demi tabungan, yo wess...

Sebenarya saya ini orangnya terstruktur dan well prepare dalam mengajar. Jadi, kalau saya pulang pergi ke rumah, hal itu sangat menguras waktu istirahat saya. Waktu kebanyakan terbuang di jalan. Akhirnya, setelah melakukan pertapaan di gunung, saya memutuskan untuk menyewa kamar kos! Agar persiapan materi mengajar di setiap harinya tersusun dengan rapi. Maka, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya mengekos. Hahaha. Masih ingat dulu. Malam pertama mengekos, saya mendadak tak bisa tidur. Mengetahui saya mengekos, teman-teman masa kuliah pun sampai meledek, "Cie akhirnya jadi anak kosan juga. Gimana rasanya?"

Okay, masuk bulan keempat, saya mulai paham akan budaya kerja di kantor XXX tersebut. Sulit untuk melakukan perubahan walaupun positif. Yang punya kantor terlalu mendominasi setiap kebijakan. Pun kebijakan managemen yang sudah disepakati bersama bisa seenak beliau diubah. Yang seperti itu tidak sejalan dengan saya sebenarnya karena menurut saya tidak ideal. Dan saya mulai bosan ketika harus mendengar perkataan, "Dari dulu di sini memang seperti ini…"

Terlebih ketika beberapa teman saya diberhentikan secara mendadak oleh pihak kantor. Padahal saya tahu, yang punya masalah dengan kedisiplinan adalah pegawai yang lain. Bukan beberapa teman saya itu. Lho, kenapa mereka yang diberhentikan? Usut punya usut, alasannya karena masalah pribadi dari yang punya kantor.

Langsung hilang tiga orang, men! Awalnya saya shock and panic at the disco. Tapi, saya mencoba tegar tetap stay on the right track. I mean keep stay cool. Walaupun kantor jadi sepi kayak kuburan. Saya harus tetap profesional demi murid-murid saya. And because I LOVE TEACHING. Saya pun bertahan. Namun, ternyata hanya bisa bertahan selama dua bulan saja. Iya, dengan kondisi rutinitas bangun pagi buat materi - pergi pagi - mengajar - pulang sore - makan - tidur. Secara di kosan tak bisa berbuat apa-apa. Ngobrol pun sama siapa? Sama tembok?

Genap lima bulan. Akhirnya, saya mendadak resign. Kantor sempat heboh juga. Saya mohon maaf. Tapi saya sudah merasakan berada di titik jenuh dalam pekerjaan saya. Padahal saya sangat jatuh cinta pada kegiatan belajar mengajar dan saya cinta murid-murid saya. Sebenarnya sudah merasa jenuh sejak tiga minggu sebelum resign. Tapi saya terus menghibur diri sendiri dan bertahan sampai murid-murid ujian akhir.

Awalnya, saya sudah minta izin untuk resign per bulan November. Namun, saya berubah pikiran dan memutuskan resign di bulan Oktober. Untuk pertama kalinya, saya melawan arus dan peraturan: mendadak resign. Saya berkali-kali mohon maaf dan berkali-kali dicibir salah satu staff yang mengatakan saya tidak bertanggung jawab. Saya mengaku salah, seharusnya saya memberikan solusi pengajar pengganti. Tapi, saya tidak melakukannya.

Jujur, saya sebenarnya agak sedikit trauma terkait masalah pengajar pengganti ini. Why? Dulu saya pernah karena suatu hal tak bisa mengajar di hari Sabtu. Jadi, saya memberikan solusi dengan meminta junior saya untuk menggantikan. Yang punya kantor sudah setuju. Saya pun sudah memberikan briefing materi apa saja yang harus diajarkan. Bahkan, saya juga sudah mengenalkan junior sang pengajar pengganti saya itu kepada murid-murid sekelas.

Pokoknya sudah beres… tapi… di luar perkiraan… sangat di luar perkiraan…

Saat junior saya datang untuk membicarakan masalah keuangannya dengan managemen, pihak managemen berkata bahwa pengganti saya di hari Sabtu sudah ada.

WHAT THE HELL?!

Sampai sekarang saya tidak enak hati sama junior saya itu. Saya bingung sebingung-bingungnya. Yang punya kantor agak gimana gitu ya? Seharusnya tegas. Kalau tidak setuju, ya bilang saja tidak dari awal.

Kembali ke masalah mendadak resign. Sebelumnya, saya pikir orang yang akan menjadi pengganti saya adalah staff multi talenta seperti biasanya. Eh, ternyata tidak. Ah! Saya sudah tak bisa berpikir jernih lagi di sana. Yang terbijak dan terbaik adalah saya harus keluar dari lingkungan kerja yang sudah tidak kondusif. Yang dari faktor internal saya juga sudah tidak nyaman dengan rutinitas seperti itu. Seemntara itu, dari faktor eksternal, lingkungan kerja juga sudah tidak ada teman dan tidak bisa melakukan perkembangan diri. Padahal, harapan awal saya adalah menginginkan kondisi kerja yang berbeda dengan freelance yang sendirian jadi banyak orang. Intinya, harapan tentang lingkungan kerja sudah tidak sejalan lagi.

So, semua itu adalah pengalaman berharga. Sekarang saya fokus pada CPNS Kemenkeu 2014 di depan mata. TKD sudah saya kerjaan beberapa waktu lalu. Sekarang tinggal menyiapkan latihan Psikotes. Hrus pergi ke Gramed, beli bukunya, belajar, dan lulus! Aamiin!


Kamis, 25 September 2014

답답하는 건…



답답하는 건… 느껴 본 적이 있지?

그 땐 최고가 아닌 것들을 하기 때문에 난 오늘 진짜 답답해 됐어

나 같은 일하는 사람, 한국어를 가르치는 사람한테 뭐…  

시간표에 따라 가르치는데 ‘쌤, 난 모르는 것들이 아직도 많아!’ 라는 그런 표정이 봤어 마지막 날에…

넌, 나로서 기분이 어떨까? 어떨 거야?

나의 생각은 그 동안 했던 가르치는 법은 잘 어울리지 않았어. 뭐… 틀렸나? 많이 틀렸나?

고용허가제 한국어 능력 시험이란 말이야.  

난 한국어를 조금도 모르는 인도네시아 사람한테 가르쳐야 하는데 가르치는 시간은 40일만 있어. 

그게 말이 돼? 단어가 너무나 많고 글짜도 다르잖아.

미안한데...
  
우리 학생들도 보통 부족한 사람이라서 가르치는 걸 아주 참아야 하고. 그게 쉽지 않아…

난 그만둘까? 이런 생각이 한두 번씩 나지 않아. 

회사 분위기도 안 좋고. 우리 친구들 갑자기 해고 때문에 난 지금 친구가 없단 말이야..

더 힘내고 계속할까 말까?

그만둘까? 

Minggu, 22 Juni 2014

Berbagai Macam Tipe Karakter Siswa (Versi Saya Hehe)

Assalamualaykum!

Kesibukan di bulan Juni membuat saya mengamati berbagai macam tipe karakter siswa di kelas saya. Kali ini saya iseng membuat tipe-tipenya hehehe. Setelah lepas dari Kelas Pemantapan Soal, sekarang saya kembali lagi ke peraduan Kelas Reguler. Kebiasaan waktu bahas soal masih terbawa, yaitu cepat-cepat dan penuh analisis. Di Kelas Reguler kan tak perlu terlalu menganalisis, jadi saya merasa tersesat -.-

Okay, menurut saya, ada beberapa tipe siswa di kelas saya *mungkin di kelas Anda berbeda hehehe…

  1. Tipe Kritis Penurut

Siswa tipe ini biasanya rajin belajar dan menuruti apa kata pengajar, namun terkadang ia kritis akan suatu hal dan sering bertanya. Cara bertanya siswa tipe ini begitu elegan dan sopan serta tak ingin membuat pengajarnya terlihat bodoh. ^^

  1. Tipe Kritis Sotil

Siswa tipe ini biasanya rajin belajar dan sering membantu temannya belajar.  Akan tetapi, ia punya kekurangan yaitu 'sotil'. Apa itu sotil? Sotil adalah sok tahu dan menggemaskan minta ditabok mukanya karena menggunakan cara bertanya dengan gaya sok tahu. Bahkan terkadang, ia menertawai pengajar jika si pengajar telah melakukan suatu kesalahan. Padahal pengajar juga manusia. Siswa juga manusia. Kalo kucing bukan manusia… -.-

  1. Tipe Misterius Tebar Pesona

Siswa tipe ini agak unik. Saya baru menemukan tipe ini di lembaga ini. Biasanya, ia orang yang pendiam dan tak banyak bicara, namun kedua matanya penuh dengan pengamatan luar biasa. Daya pengamatan tingkat tinggi ini ia gunakan di kelas dan di luar kelas. Jika ditanya di kelas, ia hanya tersenyum atau sedikit menjawab. Irit sekali. Bahkan terkadang ia tak menjawab karena sibuk menerawang dan mengamati langit di seberang jendela. Begitu pendiam dan misterius.

Dalam hal nilai, ia bagus. Satu lagi, siswa tipe ini suka tersenyum dengan berbagai macam makna di dalamnya. Senyuman yang misterius. ^^. Seorang siswa tipe ini pernah melemparkan senyuman dahsyat misteriusnya kepada kami (para pengajar) sebelum berjalan menuju kelas untuk mengerjakan ujian. Senyumannya entah maknanya apa, tebakan saya sih seperti ini: "Doakan saya ya Ssaem! Mau ujian nih!" Sementara itu, siswa yang lain sibuk sungkem sama pengajar-pengajarnya. But I like it!

  1. Tipe Pendiam Mandiri

Siswa tipe ini biasanya masuk lembaga karena inisiatif sendiri, bukan rombongan sekampung seperti kebanyakan siswa. Dan ketika seorang siswa ada yang fanatik dengan seorang pengajar atau benci dengan seorang pengajar, berbeda dengan tipe ini. Ia tak peduli siapa yang mengajar, yang penting ia mendapatkan ilmu. Enak tak enak. Hajar!

Saya menemukan satu orang, ia anak Jakarta. Gaya berpakaiannya pun berbeda. Lebih stylish. Wajahnya datar, jarang berbicara dengan pengajar juga dengan temannya. Lebih sering berinteraksi dengan gadget pribadi. Waktu hari ujian pun, siswa lain berkelompok setidaknya 2 atau 3 orang atau lebih. Akan tetapi, siswa tipe ini begitu 'mandiri' sehingga ia hanya bolak balik sendiri mencari angin sambil menunggu waktu ujian. Usut punya usut ternyata ia suka K-Pop, yaitu G Dragon.^^

  1. Tipe Penanya Sotil

Tipe ini merupakan tipe yang hampir mirip Tipe Kritis Sotil. Bedanya, ia tidak kritis-kritis amat mengenai suatu hal. Ia lebih banyak bertanya. Bodohnya, pertanyaannya itu ia lontarkan dengan cara yang salah dan membuat pengajar bingung. Contohnya ia bertanya nomor 52 (dengan bahasa Korea) padahal soal hanya sampai 25. Saya bertanya lagi waktu itu, lho soal 52 yang mana padahal soal hanya ada 25 saja. Eh, ternyata ia salah sebut harusnya 22 (dengan bahasa Korea). Dan ia malah menyalahkan kuping saya! Hadooh! Minta ditabok banget khan itu siswaaaa? Ia juga merupakan tipe siswa yang kurang ajar karena bertanya bukan karena tidak tahu, tapi terkadang ingin mengetes pengajarnya. Baiklah, orang macam ini pasti akan mendapat hukumannya kelak dari Tuhan Yang Maha Kuasa! -.-

  1. Tipe Membodohi Diri Penurut

Okay, tipe ini agaknya kalau tak salah hitung paling banyak di antara semuanya. Siswa tipe ini sebenarnya penurut dan punya bakat untuk mengikuti pelajaran. Hanya mereka perlu waktu lebih untuk pemahaman mendalam. Karena tak sabar dan suka membodohi diri sendiri, mereka jadi tak jelas arahnya. Padahal, tak ada gunanya terus menerut me-negatif-kan diri sendiri.

"Susah. Gue gak bisa!" atau "Gue kan udah umurnya tua, jadi hafalan kosakata dan pemahaman kurang!" atau "Gue kan udah ada istri anak, jadi gak mikirin pelajaran doang, makanya ketinggalan!"

ITU HANYA ALASAN! Alasan buat jadi malas dan negatif thinking! Sekarang ubah pola pikirnya, karena semua hal berawal dari pikiran kita! Sehebat apapun orang lain memotivasi kita dari luar, kalo diri sendiri tak punya motivasi untuk belajar… Ya tak akan pernah berhasil jadi manusia sukses. Karena kalian sudah ambil resiko mengucurkan uang dan waktu, maka mati-matianlah dengan resiko itu. Maksudnya, belajarlah dengan positif.

Coba renungkan pepatah lama yang sampai kapan pun tetep oke ini: BATU YANG AMAT KERAS PUN BISA BERLUBANG KARENA TETESAN AIR. Nah, anggap tetesan air itu WAKTU  BERAPA KALI BELAJAR dan batu itu PEMAHAMAN. Kalau tetesan airnya lebih sering, maka bolongnya batu akan lebih cepat bukan? Kalau belajarnya lebih sering, pemahamannya akan lebih cepat bukan? Kalau hapalan kosakatanya lebih sering, ya keleus tak hapal-hapal itu kosakata? Kata Cah Lontong, "Mikir!"

  1. Tipe Pemalu Penurut

Tipe ini cenderung ke sosok yang pendiam juga pemalu. Malu bertanya dan malu menjawab. Pokoknya ikutin aja pengajarnya. Mau pengajarnya ke sungai diikutin. Mau pengajarnya masuk ke lubang buaya juga diikutin. Nah lho! Menghilangkan rasa malu memang perlu usaha dari dalam diri dan dorongan dari luar diri. Dan proses pengajaran di SD, SMP, SMA biasanya menghasilkan siswa-siswa tipe seperti ini. Saya saja baru sadar waktu awal SMA, kalo ternyata saya ini agak pemalu. Karena lingkungan SMA yang kritis, teman-teman kritis dan berani, saya jadi terbawa. Ditambah ikut organisasi ini itu... dan akhirnya sekarang jadi tak pemalu, tapi malu-maluin. Gawatnya, ketika satu kelas isinya tipe ini semua, ketika si pengajar ada salah, maka tak ada yang berani membenarkan atau setidaknya bertanya. Sesat guru satu, sesat siswa semuanya... Malu bertanya sesat di ujian lho...

  1. Tipe Gahar Pemalu

Siswa tipe ini juga aneh bin ajaib. Saya juga baru menemukan di lembaga ini. Dari luar, ia terlihat seram sekali. Bicara keras, berani mengungkapkan pendapat, terlihat keren. Eh, ketika disuruh baca… Malu… Ketika disuruh mengerjakan kosakata… melempem!

Nah, apa yang salah ini? Ketika disuruh baca teks, suara yang gahar mencekam dunia itu hilang raib entah ke mana… Sampai saya dua tiga kali menyuruh siswa itu untuk baca lebih keras. Hmm, sepertinya saya bisa menyimpulkan bahwa siswa ini sebenarnya memiliki bakat keberanian terpendam yang jika ia manage dengan lebih apik, maka bisa membantu dirinya dalam proses pembelajaran. Jika, ia berani mengatakan "Gua" kepada pengajar, maka seharusnya, ia juga berani belajar setiap hari sampai jam tiga pagi. Selain itu, ia juga harus bisa membaca teks dengan gagah berani dan suara keras. Berani, sungguh merupakan bekal yang baik dalam proses pembelajaran. Tinggal me-manage-nya saja ^^


Sejauh ini, ada delapan tipe siswa yang bisa saya paparkan. Mungkin lain kali akan muncul lagi tipe-tipe baru di kelas hehehe. Salam damai. Salam positif!