Kamis, 25 September 2014

답답하는 건…



답답하는 느껴 적이 있지?

최고가 아닌 것들을 하기 때문에 오늘 진짜 답답해 됐어

같은 일하는 사람, 한국어를 가르치는 사람한테  

시간표에 따라 가르치는데 , 모르는 것들이 아직도 많아!’ 라는 그런 표정이 봤어 마지막 날에

, 나로서 기분이 어떨까? 어떨 거야?

나의 생각은 동안 했던 가르치는 법은 어울리지 않았어. 틀렸나? 많이 틀렸나?

고용허가제 한국어 능력 시험이란 말이야.  

한국어를 조금도 모르는 인도네시아 사람한테 가르쳐야 하는데 가르치는 시간은 40일만 있어

그게 말이 ? 단어가 너무나 많고 글짜도 다르잖아.

미안한데...
  
우리 학생들도 보통 부족한 사람이라서 가르치는 아주 참아야 하고. 그게 쉽지 않아

그만둘까? 이런 생각이 한두 번씩 나지 않아

회사 분위기도 좋고. 우리 친구들 갑자기 해고 때문에 지금 친구가 없단 말이야..

힘내고 계속할까 말까?

그만둘까? 

Minggu, 22 Juni 2014

Berbagai Macam Tipe Karakter Siswa (Versi Saya Hehe)

Assalamualaykum!

Kesibukan di bulan Juni membuat saya mengamati berbagai macam tipe karakter siswa di kelas saya. Kali ini saya iseng membuat tipe-tipenya hehehe. Setelah lepas dari Kelas Pemantapan Soal, sekarang saya kembali lagi ke peraduan Kelas Reguler. Kebiasaan waktu bahas soal masih terbawa, yaitu cepat-cepat dan penuh analisis. Di Kelas Reguler kan tak perlu terlalu menganalisis, jadi saya merasa tersesat -.-

Okay, menurut saya, ada beberapa tipe siswa di kelas saya *mungkin di kelas Anda berbeda hehehe…

  1. Tipe Kritis Penurut

Siswa tipe ini biasanya rajin belajar dan menuruti apa kata pengajar, namun terkadang ia kritis akan suatu hal dan sering bertanya. Cara bertanya siswa tipe ini begitu elegan dan sopan serta tak ingin membuat pengajarnya terlihat bodoh. ^^

  1. Tipe Kritis Sotil

Siswa tipe ini biasanya rajin belajar dan sering membantu temannya belajar.  Akan tetapi, ia punya kekurangan yaitu 'sotil'. Apa itu sotil? Sotil adalah sok tahu dan menggemaskan minta ditabok mukanya karena menggunakan cara bertanya dengan gaya sok tahu. Bahkan terkadang, ia menertawai pengajar jika si pengajar telah melakukan suatu kesalahan. Padahal pengajar juga manusia. Siswa juga manusia. Kalo kucing bukan manusia… -.-

  1. Tipe Misterius Tebar Pesona

Siswa tipe ini agak unik. Saya baru menemukan tipe ini di lembaga ini. Biasanya, ia orang yang pendiam dan tak banyak bicara, namun kedua matanya penuh dengan pengamatan luar biasa. Daya pengamatan tingkat tinggi ini ia gunakan di kelas dan di luar kelas. Jika ditanya di kelas, ia hanya tersenyum atau sedikit menjawab. Irit sekali. Bahkan terkadang ia tak menjawab karena sibuk menerawang dan mengamati langit di seberang jendela. Begitu pendiam dan misterius.

Dalam hal nilai, ia bagus. Satu lagi, siswa tipe ini suka tersenyum dengan berbagai macam makna di dalamnya. Senyuman yang misterius. ^^. Seorang siswa tipe ini pernah melemparkan senyuman dahsyat misteriusnya kepada kami (para pengajar) sebelum berjalan menuju kelas untuk mengerjakan ujian. Senyumannya entah maknanya apa, tebakan saya sih seperti ini: "Doakan saya ya Ssaem! Mau ujian nih!" Sementara itu, siswa yang lain sibuk sungkem sama pengajar-pengajarnya. But I like it!

  1. Tipe Pendiam Mandiri

Siswa tipe ini biasanya masuk lembaga karena inisiatif sendiri, bukan rombongan sekampung seperti kebanyakan siswa. Dan ketika seorang siswa ada yang fanatik dengan seorang pengajar atau benci dengan seorang pengajar, berbeda dengan tipe ini. Ia tak peduli siapa yang mengajar, yang penting ia mendapatkan ilmu. Enak tak enak. Hajar!

Saya menemukan satu orang, ia anak Jakarta. Gaya berpakaiannya pun berbeda. Lebih stylish. Wajahnya datar, jarang berbicara dengan pengajar juga dengan temannya. Lebih sering berinteraksi dengan gadget pribadi. Waktu hari ujian pun, siswa lain berkelompok setidaknya 2 atau 3 orang atau lebih. Akan tetapi, siswa tipe ini begitu 'mandiri' sehingga ia hanya bolak balik sendiri mencari angin sambil menunggu waktu ujian. Usut punya usut ternyata ia suka K-Pop, yaitu G Dragon.^^

  1. Tipe Penanya Sotil

Tipe ini merupakan tipe yang hampir mirip Tipe Kritis Sotil. Bedanya, ia tidak kritis-kritis amat mengenai suatu hal. Ia lebih banyak bertanya. Bodohnya, pertanyaannya itu ia lontarkan dengan cara yang salah dan membuat pengajar bingung. Contohnya ia bertanya nomor 52 (dengan bahasa Korea) padahal soal hanya sampai 25. Saya bertanya lagi waktu itu, lho soal 52 yang mana padahal soal hanya ada 25 saja. Eh, ternyata ia salah sebut harusnya 22 (dengan bahasa Korea). Dan ia malah menyalahkan kuping saya! Hadooh! Minta ditabok banget khan itu siswaaaa? Ia juga merupakan tipe siswa yang kurang ajar karena bertanya bukan karena tidak tahu, tapi terkadang ingin mengetes pengajarnya. Baiklah, orang macam ini pasti akan mendapat hukumannya kelak dari Tuhan Yang Maha Kuasa! -.-

  1. Tipe Membodohi Diri Penurut

Okay, tipe ini agaknya kalau tak salah hitung paling banyak di antara semuanya. Siswa tipe ini sebenarnya penurut dan punya bakat untuk mengikuti pelajaran. Hanya mereka perlu waktu lebih untuk pemahaman mendalam. Karena tak sabar dan suka membodohi diri sendiri, mereka jadi tak jelas arahnya. Padahal, tak ada gunanya terus menerut me-negatif-kan diri sendiri.

"Susah. Gue gak bisa!" atau "Gue kan udah umurnya tua, jadi hafalan kosakata dan pemahaman kurang!" atau "Gue kan udah ada istri anak, jadi gak mikirin pelajaran doang, makanya ketinggalan!"

ITU HANYA ALASAN! Alasan buat jadi malas dan negatif thinking! Sekarang ubah pola pikirnya, karena semua hal berawal dari pikiran kita! Sehebat apapun orang lain memotivasi kita dari luar, kalo diri sendiri tak punya motivasi untuk belajar… Ya tak akan pernah berhasil jadi manusia sukses. Karena kalian sudah ambil resiko mengucurkan uang dan waktu, maka mati-matianlah dengan resiko itu. Maksudnya, belajarlah dengan positif.

Coba renungkan pepatah lama yang sampai kapan pun tetep oke ini: BATU YANG AMAT KERAS PUN BISA BERLUBANG KARENA TETESAN AIR. Nah, anggap tetesan air itu WAKTU  BERAPA KALI BELAJAR dan batu itu PEMAHAMAN. Kalau tetesan airnya lebih sering, maka bolongnya batu akan lebih cepat bukan? Kalau belajarnya lebih sering, pemahamannya akan lebih cepat bukan? Kalau hapalan kosakatanya lebih sering, ya keleus tak hapal-hapal itu kosakata? Kata Cah Lontong, "Mikir!"

  1. Tipe Pemalu Penurut

Tipe ini cenderung ke sosok yang pendiam juga pemalu. Malu bertanya dan malu menjawab. Pokoknya ikutin aja pengajarnya. Mau pengajarnya ke sungai diikutin. Mau pengajarnya masuk ke lubang buaya juga diikutin. Nah lho! Menghilangkan rasa malu memang perlu usaha dari dalam diri dan dorongan dari luar diri. Dan proses pengajaran di SD, SMP, SMA biasanya menghasilkan siswa-siswa tipe seperti ini. Saya saja baru sadar waktu awal SMA, kalo ternyata saya ini agak pemalu. Karena lingkungan SMA yang kritis, teman-teman kritis dan berani, saya jadi terbawa. Ditambah ikut organisasi ini itu... dan akhirnya sekarang jadi tak pemalu, tapi malu-maluin. Gawatnya, ketika satu kelas isinya tipe ini semua, ketika si pengajar ada salah, maka tak ada yang berani membenarkan atau setidaknya bertanya. Sesat guru satu, sesat siswa semuanya... Malu bertanya sesat di ujian lho...

  1. Tipe Gahar Pemalu

Siswa tipe ini juga aneh bin ajaib. Saya juga baru menemukan di lembaga ini. Dari luar, ia terlihat seram sekali. Bicara keras, berani mengungkapkan pendapat, terlihat keren. Eh, ketika disuruh baca… Malu… Ketika disuruh mengerjakan kosakata… melempem!

Nah, apa yang salah ini? Ketika disuruh baca teks, suara yang gahar mencekam dunia itu hilang raib entah ke mana… Sampai saya dua tiga kali menyuruh siswa itu untuk baca lebih keras. Hmm, sepertinya saya bisa menyimpulkan bahwa siswa ini sebenarnya memiliki bakat keberanian terpendam yang jika ia manage dengan lebih apik, maka bisa membantu dirinya dalam proses pembelajaran. Jika, ia berani mengatakan "Gua" kepada pengajar, maka seharusnya, ia juga berani belajar setiap hari sampai jam tiga pagi. Selain itu, ia juga harus bisa membaca teks dengan gagah berani dan suara keras. Berani, sungguh merupakan bekal yang baik dalam proses pembelajaran. Tinggal me-manage-nya saja ^^


Sejauh ini, ada delapan tipe siswa yang bisa saya paparkan. Mungkin lain kali akan muncul lagi tipe-tipe baru di kelas hehehe. Salam damai. Salam positif!

Jumat, 16 Mei 2014

Bersyukur

Assalamualaykum!

Akhir-akhir ini, saya menyadari sesuatu bahwa sebenarnya rasa bahagia yang muncul di dalam hati terdalam kita bukan karena apa-apa melainkan rasa syukur. Iya, bukan karena berhasil membeli sesuatu, berhasil melakukan sesuatu, atau berhasil menciptakan sesuatu. Memang, ketiga hal itu dapat menciptakan rasa bahagia. Setelah saya renungkan… rasa bahagia itu tak bisa lama bertahan.

Akan tetapi, rasa bahagia yang muncul karena rasa syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan… menurut pengalaman saya… bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Mari kita renungkan lebih dalam lagi…

Pernah menginginkan sebuah barang baru? Pasti pernah. Pernah menabung sedemikian lamanya untuk membeli barang baru itu? Pasti pernah. Bagaimana perasaan kita setelah berhasil membeli barang yang kita impikan itu? Setelah sebelumnya kita 'ngos-ngos-an' menabung mengumpulkan uang sedikit demi sedikit? Iya, BAHAGIA! SENANG!

Pengalaman pribadi, terjadi pada diri saya. Waktu itu saya ingin sekali punya sepeda Poligon. Saya pun menabung dari honor mengajar. Beberapa waktu berselang, akhirnya, saya berhasil membelinya. Senang sekali. Tapi hanya bertahan beberapa waktu. Kurang lebih dua tiga bulan. Setelah itu… saya jarang main sepeda karena kesibukan dan kebosanan. Awalnya saya memperlakukan sepeda baru itu layaknya anak bayi: sangat hati-hati. Tapi setelah waktu berjalan… ya jadi biasa saja.

Pernah berhasil melakukan sesuatu? Pasti pernah. Apapun bidangnya. Entah berhasil memenangkan pertandingan, berhasil menabung sesuai target seperti cerita sebelumnya tadi, atau berhasil menurunkan berat badan. Hehe

Bagaimana rasanya setelah berhasil melakukan 'sesuatu' itu? Ya, pasti jawaban kita sama. SENANG! GEMBIRA! PUAS! Setelah itu? Kebahagiaan yang tercipta karena kemenangan pertandingan pertama jadi terlupakan karena ada pertandingan kedua, ketiga, keempat dst. Begitu pula kebahagiaan yang muncul pada barang impian pertama, akan terlupakan karena ada barang impian kedua, ketiga, keempat, dst.

Pernah berhasil menciptakan sesuatu? Iya, sesuatu! Tak perlulah kita menjadi seorang ilmuwan seperti Einstein agar bisa menciptakan sesuatu. Pernah masak? Iya, hasil masakan itu 'sesuatu'. Pernah lulus S1 dengan skripsi? Iya, skripsi itu 'sesuatu'. Pernah ...

Manusia, mahluk yang tak pernah puas. Siapapun tahu itu. Setelah ini, mau itu. Setelah itu, mau ini. Dan katanya untuk mengejar sesuatu bernama: kebahagiaan.  Saya setuju, tapi masalahnya tadi… kebahagiaan itu gak long lasting. Maka, rasa syukur kita kepada Tuhan akan membuat kebahagiaan kita menjadi long lasting. Sungguh. Coba saja.

Rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Begitu sederhana, namun sangat bernilai bagi hati kita. Untuk penutup, bisa kita bayangkan bahwa rasa bahagia itu layaknya sebuah stiker. Semakin lama waktu berlalu, karena kondisi cuaca, gesekan, dsb stiker itu akan lepas dari tempatnya menempel. Maka, kita butuh perekat ekstra agar stiker tetap tangguh pada tempatnya. Perekat ekstra itulah, rasa syukur.


Mari bersyukur. Mari berterima kasih kepada Tuhan.

Rabu, 14 Mei 2014

Balada Move On Ke Kerjaan Baru (part 2)

Assalamualaykum! Ini dia part 2 nya!

Ya, minggu pertama di tempat kerja baru. Di minggu pertama ini pula, saya merasakan yang namanya LEMBUR! Itu terjadi di hari Kamis. Jadi begini kira-kira percakapan saya dengan Pak Bos. Saya dipanggil ketika saya akan masuk ke kelas untuk mengajar.

Pak Bos
: "Ssaem! Ssaem! Sini sebentar!"
Saya
: "Iya, ada apa ya Pak?"
Pak Bos
(awalnya ngomongin ini itu) "Nanti Ssaem lembur ya, ngurusin soal ini. Enggak sendirian kok, kita berlima sama karyawan lain juga."
Saya
: "Eh? Lembur, Pak? Sampai jam berapa?" (dengan yakin pasti raut muka saya polos sepolos-polosnya saat itu)
Pak Bos
: "Enggak lama kok, paling lambat sampai jam delapan."
Saya
: "Jam de...la...pan…?" (pasang muka super cute sambil mikirin angkot)
Pak Bos
(menatap saya sejenak) "Nanti dianterin. Nanti dianterin."
Saya
: "Eh? Emm, ya udah Pak. Oke."

Singkat cerita, di hari Kamis itu, saya lembur untuk pertama kalinya seumur hidup (hahaha lebay). Ketika saya sedang mengurus soal, Pak Bos datang mengecek sambil melontarkan kata-kata:

 "Tenang aja Ssaem, nanti dianterin pake mobil.". Saya sumringah mendengarnya. Di luar kontrol, saya menjawab,

"Tapi sampe depan rumah ya, Pak?" (Angkot trayeknya memang sulit jadi malam-malam seperti itu pasti sudah tak ada angkot, saya bisa pastikan).

Saya bertepuk tangan kegirangan sampai salah satu rekan kerja memandang aneh (san saya baru menyadari hal itu beberapa saat kemudian). Saya lupa kalau di sini, Pak Bosnya dihargai habis-habisan. Eh, saya malah seperti bocah.

Saya sibuk mengurus soal lagi, waktu tiba-tiba sudah magrib saja. Perut saya pun keroncongan dan dangdutan. Saya minum susu kedelai kesukaan saya sebagai pengganjal perut sehingga bisa solat magrib. Kemudian berencana untuk beli roti di Alfa depan kantor. Tiba-tiba, ketika mengenakan sepatu setelah solat, Pak Bos teriak dari ruang kerjanya.

"Ssaem mau pesan makanan, gak?"

"Boooleeh Pak!" *rejeki memang tak kemana

Kami makan bersama. Ada rekan administrasi dan keuangan di depan saya. Pak Bos makan sendiri di ruangnya sedangkan rekan seksi sibuk makan sambil ngumpet di dekat dapur. Menu hari itu adalah pecel ayam. Oh iya, sebelumnya juga rekan keuangan memberikan saya dan rekan lain semacam 'makanan penggembira' yaitu jus alpukat dan gorengan.

Aaaahhh saat itu saya merasakan ukhuwahnya ^^. Apalagi rekan administrasi dan keuangannya juga macam pak ustad dan bu ustad hehehe. Saya doang yang pecicilan. Happy Happy Happy Call! Eh

Di luar dugaan, saya pulang dari kantor dua puluh menit lebih lama dari rencana karena mobilnya dipakai si Pak Bos  dulu. Saya masuk mobil dan diantar oleh supirnya Pak Bos. Ah lelaaaaaaaaaah. Suer! Di dalam mobil saya seperti orang mabuk. Lunglai begitu. Tapi, hari itu adalah pengalaman yang luar biasa. Lembur, men! *dan saya benar-benar diantar sampai depan rumah hahahaha.


-Part 3 (bikin gak ya? hehe)