Sabtu, 03 September 2011

Serba Serbi ULI

Assalamualaykum, Guys ^-^
Mohon maaf lahir dan batin ya...

Yap. Dalam suasana Idul Fitri, Alhamdulillah di meja makan banyak terjejer makanan-makanan. Ada yang hasil masak ibu, kue kering pemberian tetangga, ketupat pemberian saudara... *maklum, setiap Idul Fitri, keluarga saya jarang membuat ketupat, beda ya dengan mayoritas keluarga-keluarga di Indonesia? Keluarga saya juga jarang membuat opor ayam, kami lebih sering membuat rendang, hehe...

Selain rendang, makanan yang keluarga kami buat adalah ULI. Pernah mendengar? Itu loh, makanan tradisional Betawi atau Sunda yang terbuat dari beras ketan dan parutan kelapa... Kali ini, saya ingin memberitahu kalian tentang cara membuat ULI!

Pertama, beras ketan putih 2 liter dicuci bersih kemudian dikukus setengah matang. Kira-kira setengah jam. Sambil menunggu, kita parut 1 buah kelapa yang telah dikerik bersih. Ingat! DIKERIK BERSIH agar uli yang dihasilkan nantinya cantik putih bersinar seputih muliara... *halah

Kedua, angkat kukusan beras ketan, campur dengan parutan kelapa. Kemudian dikukus kembali sampai matang. Kira-kira satu jam.



beras ketan fresh from kukusan ^_^

Ketiga, kita tumbuk sampai berubah bentuk menjadi adonan. Ditumbuknya memakai kayu lho... Di ujung kayunya jangan lupa lapisi plastik supaya tidak kotor ulinya. *nah lho, bingung ya cari kayu di mana? hehe.. untung saya masih punya kebon... :p  







Tidak berupa butiran beras lagi.... *mulai berubah, khaaaan?


Keempat, siapkan bungkusnya dari daun pisang yang dilapisi minyak goreng *kayu di sampingnya adl kayu penumbuk, hehe. Fresh from kebon, langsung dipahat oleh bapak saya ^_^, lihat deh bagian tengahnya.... 



Lalu masukkan ke dalam daun pisang dan lipat.

*mirip moci ukuran jumbo, wehehe



And finally, ready to serve!

Selamat mencoba dan jangan melupakan makanan tradisional kita yak ^_^




Kamis, 25 Agustus 2011

OST 최고의 사랑

OST 최고의 사랑 중에 이거 제일 좋은 노래인 걸

제목은 내 손을 잡아

가수는 아이유 *도, 내가 가장 좋아하는 가수다

정말 좋다! 대박이다! ㅎㅎㅎ

Selasa, 23 Agustus 2011

Amalan Selama Bulan Ramadhan



Ramadhan punya makna tersendiri di hati umat Islam. Bulan ini adalah bulan rihlah ruhaniyah (wisata rohani). Umat Islam melepas belenggu materialisme dunia dengan menghidupkan dunia ruhiyah. Sebulan penuh umat Islam menjalani proses tadzkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Sebulan penuh umat Islam melakukan riyadhatur ruhiyah (olah rohani).

Sebulan penuh umat Islam bagai ulat dalam kepompong Ramadhan. Diharapkan di akhir Ramadhan kondisi rohani mereka secantik kupu-kupu. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183]
Amal-amal apa saja yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan agar kita bisa memperoleh derajat takwa?

1. Berpuasa (Shiyam)
Amal yang utama di bulan Ramadhan tentu saja berpuasa. Hal ini diperintahkan Allah swt. dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 183-187. Karena itu, agar puasa kita tidak sia-sia, perdalamlah wawasan kita tentang puasa yang benar dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. Sebab, puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Tapi, ada rambu-rambu yang harus ditaati.

Kata Rasulullah saw., “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yagn semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)

Jangan pernah tidak berpuasa sehari pun tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Meninggalkan puasa tanpa uzur adalah dosa besar dan tidak bisa ditebus meskipun orang itu berpuasa sepanjang masa.

“Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasanrukhshah atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. At-Turmudzi)

Jauhi hal-hal yang dapat mengurangi dan menggugurkan nilai puasa Anda. Inti puasa adalah melatih kita menahan diri dari hal-hal yang tidak benar. Bila hal-hal itu tidak bisa ditinggalkan, maka nilai puasa kita akan berkurang kadarnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah (hakikat) puasa itu sekadar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan perbuatan sia-sia dan kata-kata bohong.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

Rasulullah saw. juga berkata, “Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktikkanya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekadar meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semua itu tidak akan bisa kita lakukan kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam melaksankannya. Dengan begitu, puasa yang kita lakukan menghasilkan ganjaran dari Allah berupa ampunNya. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampuni dosa-dosa yang pernah dilakukan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Salah satu bentuk kesungguhan dalam berpuasa adalah, melakukan makan sahur sebelum tiba waktu subuh. Rasulullah saw. menerangkan, “Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan Anda tinggalkan, meskipun hana dengan seteguk air. Alah dan para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur.”

Selain sahur, menyegerakan berbuka ketika magrib tiba, juga bentuk kesungguhan kita dalam berpuasa. “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya ialah mereka yang menyegerakan berbuka puasa,” begitu kata Rasulullah saw. Rasulullah saw. memberi contoh bersegera berbuka puasa walaupun hanya dengan ruthab (kurma mengkal), tamar (kurma), atau seteguk air. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Selama berpuasa, jangan lupa berdoa. Doa yang banyak. Sebab, doa orang yang berpuasa mustajab. Ini kata Rasulullah saw., “Ada tiga kelompok manusia yang doanya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah doa orang-orang yang berpuasa sehingga mereka berbuka.” (HR. Ahmad dan Turmudzi)

2. Membaca Al-Qur’an (Tilawah)
Al-Qur’an diturunkan perama kali di bulan Ramadhan. Maka tak heran jika Rasulullah saw. lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dibandingkan di bulan-bulan lain. Imam Az-Zuhri berkata, “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita selain berpuasa adalah membaca Al-Qur’an.” Bacalah dengan tajwid yang baik dan tadabburi, pahami, dan amalkan isinya. Insya Allah, kita akan menjadi insan yang berkah.

Buat target. Jika di bulan-bulan lain kita khatam membaca Al-Qur’an dalam sebulan, maka di bulan Ramadhan kita bisa memasang target dua kali khatam. Lebih baik lagi jika ditambah dengan menghafal satu juz atau surat tertentu. Ini bisa dijadikan program unggulan bersama keluarga.

3. Memberikan makanan (Ith’amu ath-tha’am)
Amal Ramadhan yang juga dianjurkan Rasulullah saw. adalah memberikan santapan berbuka puasa kepada orang-orang yang berpuasa. “Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Turmudzi dan An-Nasa’i)

Sebenarnya memberi makan untuk orang berbuka hanyalah salah satu contoh bentuk kedermawanan yang ingin ditumbuhkan kepada kita. Masih banyak bentuk sedekah yang bisa kita lakukan jika kita punya kelebihan rezeki. Peduli dan sigap menolong orang lain adalah sifat yang ingin dilatih dari orang yang berpuasa.

4. Perhatikan kesehatan
Berpuasa adalah ibadah mahdhah. Tapi orang yang berpuasa juga sebenarnya adalah orang yang peduli dengan kesehatan. Makanya Rasulullah saw. berkata, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.” Tak heran jika selama berpuasa Rasulullah saw. tetap memperhatikan kesehatan giginya dengan bersiwak, berobat dengan berbekam, dan memperhatikan penampilan, termasuk tidak berwajah cemberut.

5. Jaga keharmonisan keluarga
Puasa adalah ibadah yang khusus untuk Allah swt. Tapi, punya efek yang luas. Termasuk dalam mengharmoniskan hubungan keluarga. Jadi, berpuasa bukan berarti menjauh dari istri karena taqarrub kepada Allah sepanjang malam. Bukan juga tiada hari tanpa i’tikaf. Rasulullah saw. berpuasa, tapi juga memenuhi hak-hak keluarganya.
Dalam praktik keseharian, hanya di bulan Ramadhan kita bisa makan bersama secara komplit sekeluarga, baik ketika berbuka atau sahur. Di bulan lain hal ini sulit dilakukan. Keharmonisan keluarga juga bisa kita dapatkan dari shalat berjamaah dan tadarrus bersama.

6. Berdakwah
Selama Ramadhan kita punya kesempatan berdakwah yang luas. Karena, siapapun di bulan itu kondisi ruhiyahnya sedang baik sehingga siap menerima nasihat. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini. Rasulullah saw. bersabda, barangsiapa menunjuki kebaikan, baginya pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.
Jika mampu, jadilah pembicara di kultum ba’da sholat zhuhur, ashar, dan subuh di musholah atau masjid. Bisa juga menjadi penceramah di waktu tarawih. Jika tidak bisa berceramah, buat tulisan. Sebarkan ke orang-orang yang Anda temui. Jika tidak bisa, bisa mengambil artikel-artikel dari majalah, fotocopy, lalu sebarkan. Insya Allah, berkah.

Ini sebenarnya hanyalah langkah awal bagi kerja yang lebih serius lagi. Dengan melakukan hal-hal sederhana seperti di atas, sesungguhnya Anda sedang melatih diri untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain. Kata Rasulullah saw., mukmin yang baik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

7. Shalat Tawawih (Qiyamul Ramadhan)
Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyamul ramadhan). Rasulullah saw., karena khawatir akan dianggap menjadi shalat wajib, melaksanakan shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat tidak sepanjang Ramadhan. Ada yang meriwayatkan hanya tiga hari. Saat itu Rasulullah saw. melakukannya secara berjamaah sebanyak 11 rakaat dengan bacaan surat-surat yang panjang. Tapi, di saat kekhawatiran akan diwajibakannya shalat tarawih sudah tidak ada lagi, Umar bi Khattab menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih adalah 21 atau 23 rakaat (HR. Abdur Razzaq dan baihaqi).

Ibnu hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i berkata, “Beberapa riwayat yang sampai kepada kita tentang jumlah rakaat shalat tarawih menyiratkan ragam shalat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Kadang ia mampu melaksanakan shalat 11 rakaat, kadang 21, dan terkadang 23 rakaat, tergantung semangat dan antusiasmenya masing-masing. Dahulu mereka shalat 11 rakaat dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan dengan tongkat penyangga, sedangkan mereka shalat 21 atau 23 rakaat, mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek dengan tetap memperhatikan masalah thuma’ninah sehingga tidak membuat mereka sulit.”
Jadi, silakan Anda qiyamul ramadhan sesuai dengan kadar kemampuan dan antusiasme Anda.

8. I’tikaf
Inilah amaliyah ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah saw. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribada kepada Allah swt. Abu Sa’id Al-khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah beri’tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sayangnya, ibadah ini dianggap berat oleh kebanyakan orang Islam, jadi sedikit yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat.”
Mudah-mudahan Anda bukan dari golongan yang kebanyakan itu.

9. Lailatul Qadar
Ada bulan Ramadhan ada satu malam yang istimewa: lailatul qadar, malam yang penuh berkah. Malam itu nilainya sama dengan seribu bulan. Rasulullah saw. amat menjaga-jaga untuk bida meraih lailatul qadar. Maka, Beliau menyuruh kita mencarinya di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kenapa? Karena, “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtissab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Begitu kata Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bahkan, untuk mendapatkan malam penuh berkah itu, Rasulullah saw. mengajarkan kita sebuah doa, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.” Ya Allah, Engkaulah Pemilik Ampunan dan Engkaulah Maha Pemberi Ampun. Ampunilah aku.

10. Umrah
Jika Anda punya rezeki cukup, pergilah umrah di bulan Ramadhan. Karena, pahalanya akan berlipat-lipat. Rasulullah saw. berkata kepada Ummu Sinan, seorang wanita Anshar, agar apabila datang bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara denagn haji bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari dan Muslim)

11. Zakat Fitrah
Zakat fitrah wajib dibayarkan sebelum hari Ramadhan berakhir oleh umat Islam, baik lelaki-perempuan, dewasa maupun anak-anak. Tujuannya untuk mensucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu fakir miskin.

12. Perbanyaklah Taubat
Selama bulan Ramadhan Allah swt. membukakan pintu ampunan bagi hamba-hambanya dan setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api neraka. Karena itu, bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita untuk bertaubat kembali ke fitrah kita.

Sumber : dakwatuna.com dan
http://taushiyah-online.com/index.php?page=taushiyah/detail_Tausyiah&idT=218

Di Balik Kegagalan Pasti Ada Kesuksesan


dakwatuna.com – Manusia diciptakan penuh dengan keterbatasan. Ingin rumah luas uang tidak punya untuk membuatnya, ingin sekolah tinggi tapi tidak ada kesempatan, ingin menikah tapi jodoh belung datang, ingin hidup tenang tapi terus saja gundah gulana, ingin sukses tapi misi dan visi hidup tidak beres.
Sungguh Maha Adil Allah yang telah mencipta, dengan segala keterbatasan yang ada, manusia menempati tempat tertinggi dibanding makhluk Allah lainya. Dia beri kita akal untuk menyempurnakan keterbatasan yang kita miliki, Dia beri kita hati nurani yang tidak pernah berdusta, Dia beri kita jasad yang indah lagi sempurna.
“Kenapa hidup saya selalu tersiksa begini, gagal dan tidak berarti?”
“Akankah ada hari esok penuh ceria untuk saya yang nestapa?”
“Masihkan ada ampunan Allah untuk saya yang bergelimang maksiat?”
“Kapankah datangnya belahan jiwa yang akan menentramkan hati?”
Pertanyaan di atas senantiasa saja ada pada setiap jiwa. Keinginan besar untuk hidup tenang, bahagia, sukses adalah impian kita semua. Keinginan untuk mencapai kesuksesan, prestatif, inovatif, produktif terletak pada seberapa besar kita mampu menempatkan diri pada Zat yang telah menciptakan kita dengan segala keterbatasan ini. Kita tidak pernah mampu menahan maut yang menjemput. Kita tidak pernah bisa bertindak saat usaha telah maksimal ternyata kita masih juga menemui kegagalan. Tidak pula bisa kita tunda saat umur senantiasa bertambah. Apa yang bisa kita lakukan?
Rendah hati, qolbu yang bersih, bekerja keras, berdoa, dan tawakal adalah kunci keberhasilan jika kita ingin mejadi pribadi sukses. Allah adalah satu-satunya tempat kita bergantung, karena hanya Dialah yang mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya. “Allah adalah pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya…” (QS.Al-Baqarag:27)
Lia’s gallery menuliskan beberapa prinsip yang harus kita miliki agar kita menjadi pribadi sukses dengan limpahan Rahman dan Rahim Allah.
  1. Bekerjalah karena Allah, bukan karena pamrih kepada orang lain. Maka Anda akan memiliki integritas yang tinggi, yang merupakan sumber kepercayaan dan keberhasilan.
  1. Jangan berinspirasi pada yang selain Allah. Jangan berprinsip pada sesuatu yang labil dan tidak pasti seperti harta, nafsu hewani, kedudukan, penghargaan orang lain atau apapun selain Allah. Hal ini akan membuat mental Anda lebih siap menghadapi kemungkinan apapun yang akan terjadi pada diri Anda.
  1. Lakukan sesuatu dengan sungguh-sunguh dan sebaik-baiknya karena Allah dan ingatlah selalu Allah yang Maha Tinggi. Maka Anda akan mendapatkan hasil yang jauh berbeda dan jauh lebih baik.
  1. Berpedomanlah selalu pada sifat-sifat Allah, seperti ingin selalu maju, ingin selalu adil, ingin selalu memberi kasih sayang, ingin selalu kreatif dan inovatif, ingin selalu bijaksana, ingin selalu memelihara, berfikir jernih, mau belajar sungguh-sungguh.
  1. Bangun kepercayaan dari dalam diri, jangan karena penampilan fisik, tetapi iman andalan yang akan memancarkan kharisma.
  1. Bangun motivasi Anda, karena Anda adalah makhluk Allah yang sempurna dan Anda adalah wakil Allah. Raihlah cita-cita dan harapan dengan kemauan yang kuat membara…
Dibalik cerita kesuksesan orang-orang sukses, tersimpan banyak kegagalan yang dilipat rapi  dalam sebuah simpul pengalaman sejarah. Simpul-simpul itulah yang justru mendorong lahirnya kesuksesan. Tom Watson mengatakan, “Jika Anda ingin sukses, perbanyaklah angka kegagalan Anda.” Karena memang, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Semakin banyak kegagalan yang kita hadapi, maka kita akan semakin dewasa menerima kesuksesan yang sesungguhnya, sebagai buah jerih payah dan usaha yang kita lakukan.
Orang sukses, bukanlah orang-orang yang luar biasa, tetapi mereka melakukan hal-hal kecil dengan cara luar biasa. Ketika ia menemukan kegagalan dalam hidupnya, dia tidak mengeluh, putus asa, apa lagi menyalahkan Tuhanya.
Siapa tak kenal Abraham Lincoln. Pria ini pernah mengalami kegagalan dalam bisnis dalam usia 21 tahun, kalah dalam pemilihan anggota legislatif di usia 22 tahun, gagal lagi dalam bisnis di usai 24 tahun, menderita kesedihan akibat kematian kekasihnya di usia 26 tahun, menderita gangguan syaraf di usia 27 tahun, gagal dalam pemilihan anggota kongres di usia 34 tahun, gagal dalam pemilihan anggota senat di usia 45 tahun, gagal dalam upaya menjadi wakil presiden di usia 47 tahun, gagal dalam upaya pemilihan anggota senat di usia 49 tahun, namun akhirnya terpilih sebagai presiden Amerika Serikat di usia 52 tahun.
Lain lagi kisah seseorang yang sedang menuju tangga-tangga kesuksesannya. Gagal UMPTN tidak membuatnya kecewa. Masih dengan akal yang jernih dan semangat untuk hidup bahagia, dia masuki sebuah Perguruan Tinggi Swasta. Di sana ia giat belajar. Baginya kegagalan berkompetisi dalam memperebutkan Perguruan Tinggi Negri bukanlah akhir segala-galanya. Dengan bekal keyakinan dan dorongan yang kuat untuk mendapatkan apa yang menjadi cita-citanya, dia terpilih sebagai mahasiswa teladan dan mendapatkan beasiswa. “Kalau saya kuliah di PTN, mungkin belum tentu begini ceritanya.” Begitu batinnya berbisik riang.
Kesuksesan dan kegagalan tidak dapat kita elakkan sebagai konsekwensi atas berbagai pilihan dan keputusan dalam memilih cara hidup. Inilah bukti nyata lemahnya manusia. Tanpa subsidi kekuatan berupa sikap dan improvisasi berupa kemauan keras untuk berusaha dari Allah SWT, kita hanyalah pemain yang pasrah mementaskan peran kita. Maka oleh karena itu, keberhasilan kita melipat kegagalan dan menyimpannya sebagai guru dalam sejarah hidup kita, turut dipengaruhi oleh sikap, kemauan keras dan keyakinan kita pada Tuhan, sebagai Zat yang Maha berkehendak atas diri kita.
Bersikap positif memandang kegagalan sebagai awal kesuksesan adalah pelajaran yang paling berharga. Ibaratnya seorang ibu yang gagal menanak nasi hingga menjadi bubur. Jika terlanjur menjadi bubur, jangan buang bubur itu. Kenapa tidak kita jadikan saja bubur itu menjadi bubur ayam. Tambahkan bumbunya, beri daging, ati ampela ayam, taburi bawang goreng dan kecap. Hidangkan dengan sedikit kerupuk. Bukanhkan ia tetap dapat kita makan, bahkan memberikan variasi dalam menu kita hari itu. Bukankah tidak sedikit pula yang favorit terhadap bubur ayam?

sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/08/14205/di-balik-kegagalan-pasti-ada-kesuksesan

Minggu, 14 Agustus 2011

Gadhul Bashar dalam Islam



Assalamualaikum wr,wb
Alangkah terperanjatnya saya saat mendengar sebuah tausyiah tentang hubungan akhwat ikhwat dalam islam, entah kenapa begitu mendengar tausyiah tersebut hati saya merasa tersentak. Ternyata selama ini saya melakukan kesalahan yang sangat sering saya lakukan.
Gadhul bashar yang dalam bahasa indonesia diartikan sebagai menjaga pandangan, menjaga pandangan dalam islam sangatlah dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, dalam sebuah ayat Al quran dijelaskan, yang artinya :
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32).
Terbersit dalam benak di hati, “terus apa hubungannya zina dengan menjaga pandangan??” gumam dalam hati. Dalam Hadist yang di riwayatkan Oleh Abu Huaraira r.a dijelaskan:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).
“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).
Hadist tersebut menjelaskan sedikit banyak tentang bahaya zina, dan hal tersebut dapat berawal dari pandangan seperti yang jelaskan dalam sebuah ayat alquran di bawah ini :
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya,  yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. 24:30)
Dan diperkuat dalam hadist shahih berikut :
“Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim)
Subhanallah, betapa malunya saya mendengar hadist tersebut. Astagfirullah, sekali lagi hati saya beristighfar. Jadi selama ini saya melakukan hal yang mendekati zina, jika saya tidak menjaga pandangan. Ada beberapa perdebatan mengenai hal ini, mengapa hanya dengan pandangan kita dapat melakukan hal yang mendekati zina? Apakah kita tidak boleh menatap lawan jenis kita saat berbicara?  Karena pengertian zina dalam masyarakat mayoritas kita berarti melakukan hubungan suami istri tanpa adanya tali pernikahan yang halal. Sehingga, menatap lawan jenis sah- sah saja.
Namun, lepas dari perdebatan tersebut, saya mengambil hikmah yang merubah pandangan saya terhadap hubungan akhwat ikhwat selama ini. Saya menganggap menjaga pandangan lebih baik dari pada harus menerima resiko laknat Allah azza wajalla. Jadi teringat seorang teman saya berkata ” Kenapa harus segitunya sih, masa kalau berbicara dengan lawan jenis mesti menunduk?? ntar dikira sombong lagi…. yang pentingkan hatinya… iya kan hir? ” kata salah satu teman saya. Kemudian saya berfikir sejenak, dan sempat berfikir yang sama terhadap perkataan teman saya tersebut. Namu segera saya tepis fikiran itu, kemudian tersenyum dan berkata kepada teman saya “mungkin betul perkataan mu, namun bagi aku yang hanya menempel sedikit iman ini, gadhul qalbu atau menjaga hati tidak bisa sepenuhnya digunakan, jika tidak di barengi dengn gadhul bashar” ucap saya.
Memang sangat sulit menerapkan hal ini, terlebih bagi sesorang yang tinggal di kota jakarta, yang notabene merupakan kota metropolis. Dan kebanyakan perempuan sekarang tidak malu untuk membuka aurat nya di depan umum. Namun terlepas dari semua itu, semua kembali kepada diri sendiri. Karena pada hakikatnya kita harus menentukan jalan kita sendiri, “jika bukan sekarang, kapan lagi!!!” gumam dalam hati. Tulisan ini dibuat bukan untuk mengajari atau mendikte seseorang. Karena saya juga hanya seorang yang mencoba berubah ke jalan yang lebih baik. Karena kesalahan sepenuhnya milik saya, dan kesempurnaan milik Allah SWT.
wassalamualaikum wr,wb

sumber: 
http://mahiralkhoir.wordpress.com/indahnya-islam/gadhul-bashar-dalam-islam/

Sabtu, 13 Agustus 2011

Insya Allah oleh Maher Zain


* Ya ampun, baru tahu yang namanya Maher Zain dan lagu-lagunya... Sekarang saya tahu mengapa teman saya, Zakiyyah, berusaha keras datang ke Bekasi untuk nonton Maher Zain beberapa bulan yang lalu~ Saya kira Maher Zain itu vocal grup nasyid eh tahunya penyanyi solo~ 

* By the way, it's such a nice song ^-^



Rabu, 27 Juli 2011

dari seorang teman, untuk diriku sendiri, dan untuk kalian yang kusayangi..


Mencoba Memahami dengan Merasakannya
by Rahma Suci Sentia on Wednesday, July 27, 2011 at 10:09pm
Mencoba Memahami dengan Merasakannya
by Sari Haerunnisa on Wednesday, 27 July 2011 at 21:27

Tulisan kali ini tidak akan membahas mengenai berbagai peraturan dan ayat-ayat Allah yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki. Tulisan ini mengajak kita merasakan betapa berharganya batasan-batasan yang Allah berikat pada manusia, fokusnya pada hubungan perempuan dan laki-laki.

Dulu, saya juga pernah merasakan ingin sekali punya laki-laki spesial lain selain ayah dan adik saya. Ingin bisa seperti temen-temen lain yang bisa bercengkrama akrab dengan seorang laki-laki. Diperhatikan lebih dalam, disayang lebih banyak, ditemani kemana-mana. Intinya bisa menjadi porsi besar dalam hati seseorang lawan jenis.

Awalnya merasa sangat keberatan dengan aturan Islam yang membatasi hubungan laki-laki dan perempuan. Kenapa hal yang indah di dunia ini tidak diperbolehkan? Punya cerita cinta yang menarik saat masih muda kan menyenangkan. Walaupun nantinya ada sedih dan sedunya. Tapi itulah yang membuatnya menjadi lebih indah. Saya sangat merasa terkekang dengan aturan seperti ini. Sepintaspun tidak pernah tebayangkan untuk mengikuti aturan ini. Toh, atuaran ini dibuat biar kita tidak berhubungan badan dengan lawan jenis yang akhirnya akan menimbukan kerugian di kedua belah pihak bukan? Jadi, ya tidak masalah dong kalau kita pacaran tapi tidak berhubungan intim. Lagian, sama sekali tidak tepikir untuk berhubungan semacam itu kalau saya berpacaran nantinya. Saya amat yakin kalau saya pasti tahan dengan godaan seperti itu.

Masa-masa labil yang tidak terlupakan. Bukan untuk di sesali, namun dijadikan bahan untuk kita bersyukur telah memiliki masa kini yang lebih baik. Sekarang, Allah memberi banyak sekali karunia-Nya. Sekarang saya sudah mengerti, kalau di dalam Islam, tidak ada tuh yang namanya pacaran. Jangankan pacaran, deket-deket sama yang bukan mukhrim saja tidak diperbolehkan.

Sekarang saya tercempulung (memang tak disengaja) di dalam sebuah lembaga dakwah di tempat saya berkuliah. Awalnya, terasa asing memang berada di antara orang yang tidak satu pikiran dengan kita. Apalagi dalam pembatasan hubungan perempuan dan laki-laki. Saya tau adanya batasan itu, tapi tidak masalah kan kalau saya punya versi sendiri? Boleh dekat namun tidak sampai jauh melanggar.

Saya mulai dihadapi dengan rapat berhijab. Saya mulai dihadapi dengan laki-laki yang tidak mau memandang saya untuk sekedar memberikan suatu barang yang penting untuk diberikan. Saya mulai dihadapan dengan pemisahan tempat duduk antara perempuan dan laki-laki saat ada acara bersama.

Detik terus berdetak, hari berlalu, dan bulan berganti. Saya merasa hal yang berbeda. Entah itu apa. Saya menjadi nyaman dengan kondisi saya saat ini. Entahlah, hanya merasa nyaman saja. Berat sekali otak ini mengakui bahwa sebenarnya jalan inilah yang terbaik. Jujur, saya tidak pernah mencoba mengerti. Tidak pernah. Namun hal ini terasa tanpa harus saya mengerti.

Entah apa yang masuk dalam pikiran saya. Saya tidak pernah dijelaskan bagaimana indahnya peraturan ini, bahkan sampai saya menulis tulisan ini. Saya hanya tau bahwa itu salah, ini benar. Saya hanya tau bahwa itu baik dan ini tidak baik. Saya hanya tau bahwa ini bermanfaat dan itu tidak bermanfaat.



Dan inilah yang saya rasakan kali ini…

Tidakkah kau merasa bahwa malu-malunya seorang wanita itu indah? Tidakkah kau merasakan bahwa terjaganya pandangan seorang lelaki ini sungguh luar biasa hebatnya? Tidakkah kau merasa bahwa dibalik semua peraturan ini, laki-laki dan perempuan itu justru bisa saling menyayangi tanpa harus dibarengi oleh nafsu semata?
Ketika seorang wanita menjaga kemaluannya, sesungguhnya ia sedang menjaga dirinya dan lawan jenisnya. Ia tau, bahwa lelaki akan mudah sekali tergoda oleh seorang perempuan. Ketika ia menjaga dirinya, ia tau bahwa seseorang yang telah Allah tuliskan namanya di Laugul Mahfuzpun sedang menjaga dirinya. Ia ingin sekali menjadi seorang yang spesial untuk orang yang spesial.

Tak maukan kau, lelaki, mendapatkan pendamping hidup seperti itu? Dan tak maukah kita, wanita, menjadi sosok seperti itu?

Ketika seorang lelaki menahan pandangannya pada kaum wanita, ia sedang menghormati kita sebagai wanita. Ia takut, kalau nafsunya nanti bisa melukai kita. Ia menjaga kita dengan kecuekannya. Ia tak mau kalau kita tergoda oleh sifat manis dan baiknya. Sifat yang mungkin saja berubah tiap waktu. Dan yang pasti, ia tak mau kalau porsi Allah dalam hati kita bisa terkurangi dengan dirinya. Karena bohong sekali jika ada seseorang yang porsi Tuhannya tidak akan terkurangi ketika ia sedang terserang virus merah jambu. Kalau seharusnya kita berdzikir telah terganti dengan bersms dengannya atau memikirkannya, apakah itu bukan mengurangi porsi-Nya untuk orang lain?

Tidak maukan kita mendapatkan laki-laki yang luar bisa seperti itu? Dan tak maukah kalian, lelaki menjadi sosok seperti itu?

Indah bukan keadaan saling menjaga seperi ini?

Kalau kau sedang menyukai seseorang sekarang, berdoalah pada Allah agar Ia menjadikannya pendamping terbaikmu kelak. Tidak ada larangan untuk menyebut nama dalam doa kan? Walaupun kita harus tetap menyerahkan semua urusan termasuk ini pada-Nya.

Jika kau sedang menyukai seseorang sekarang, sayangilah ia, dengan menjaga hatinya darimu. Sayangilah ia dengan penjagaanmu padanya. Sayangi ia dengan menghindarkannya dari murka Allah. Dan jangan lupa, jaga pula dirimu dari pemikiran berlebih terhadapnya. Kau juga sayang pada dirimu kan?

Tidakkah kau takut Allah akan cemburu pada lelaki yang kau sayangi? Coba ibaratkan dirimu yang sedang menyukai seseorang lalu melihatnya jalan bersama orang lain. Cemburukah kau? Padahal ia bukan siapa-siapa dirimu. Dan Allah? Ia adalah Pemilik Sejatimu.